Penulis: yellowpurple

indonesian. yukaris, everlasting friends

Your Shadow

YOUR SHADOW

Author:   YellowPurple

Cast     :   Cho Kyuhyun

                Ayumi Akomoto

                Ahn Yumi

Genre:    Mistery, Romance.

 

        Ayumi sedang berdiri sendirian disebuah bukit yang sangat luas. Ia memandang kesekelilingnya dengan bingung, ia tidak tahu ia ada dimana sekarang. Entah kenapa langit berwana hitam hari ini, seolah akan ada badai yang datang. Angin berhembus tak tentu arah menyapu rambut-rambut kecil yang menutupi wajah cantiknya. Ia yakin ia hanya seorang diri sampai tiba-tiba bayangan itu muncul lagi dibelakangnya.

       Ayumi memutar badannya hingga kini ia berhadapan dengan pemilik bayangan itu. Laki-laki dengan kulit seputih susu, tubuh yang tegap, dengan kepala yang terus menunduk, membuat beberapa rambutnya menutupi wajahnya. Ya, Ayumi tidak pernah bisa melihat bagaimana wajahnya.

**Your Shadow**

Ayumi Akomoto menuruni tangga di apartemen barunya sambil mengumpat pelan. Ini adalah hari kelimanya setelah tiba di Korea, dan saat ini listrik di apartemen bobroknya mati, membuatnya mau tidak mau harus menemui penjaga apartemen ini menggunakan tangga padahal kamarnya terletak di lantai 6. Bagus sekali, ini seperti olah raga di malam hari.

Ayumi adalah gadis berdarah jepang, ia sebenarnya adalah seorang pelukis yang sedang mencari inspirasi di negeri ginseng ini. Ia rela menempuh jarak jauh, dan hidup seorang diri dengan uang pas-pasan hanya karena ingin menemukan sesuatu yang baru di Korea. Sebenarnya, di Jepang banyak sekali hal yang bisa menginspirasi banyak orang, tetapi ia jenuh. Dan sebenarnya alasan lain ia memutuskan untuk ke Korea adalah untuk menghindari seseorang.

Pada saat berada dilantai 4 langkahnya terhenti karena sepertinya ia melihat seseorang yang berdiri diujung tangga. Ayumi menyipitkan matanya, ingin tahu siapa yang ada disana. Dengan keadaan yang gelap seperti ini Ayumi tidak bisa melihat jelas wajah orang itu, terlebih lagi orang itu berdiri membelakanginya. Yang bisa ia lihat dengan jelas adalah dia seorang laki-laki, rambutnya tidak terlalu pendek, tapi terlihat sedikit acak-acakan, badannya jangkung, punggungnya tegap, dan kulitnya sangat putih. Ayumi mengira namja itu juga bernasib sama sepertinya dan akan keluar juga menemui penjaga apartemen, tapi mengapa namja itu tidak bergerak sama sekali, hanya berdiri diujung tangga, tidak terlihat ingin beranjak sedikitpun.

Ayumi baru saja ingin beranjak menuruni tangga lagi saat tiba-tiba pintu disampingnya terbuka dengan gerakan cepat. Ayumi tersentak kaget, ia hampir saja jatuh dari tangga jika saja ia tidak berpegangan pada besi yang berada dipinggir tangga itu.

“Ayumi? Kaukah itu? ….Hei Sedang apa kau?” tanya seseorang.

Ayumi menghembuskan napas lega, ternyata yang muncul dibalik pintu itu dan bertanya padanya adalah Lee So Ran, salah seorang tetangganya yang sama-sama tinggal dilantai 6.

“Lee So Ran? Ah, kau membuatku kaget!” ucap Ayumi dengan bahasanya Korea yang seadanya, aksennya pun sangat lucu, dan terdengar aneh. Ayumi masih saja memegangi dadanya, ia sangat terkejut, ia mengira jantungnya akan melompat tadi saking terkejutnya.

“maaf, maaf. kau sangat terkejut ya? Kau sedang apa?” So Ran tertawa renyah karena melihat wajah Ayumi yang terlihat sangat panik.

“aku mau ke bawah.”

Kening So Ran berkerut samar, “lalu kenapa kau hanya berdiri diam didepan pintu tangga darurat begini?”

“tadi aku melihat seorang laki-laki sedang berdiri di ujung tangga itu, jadi aku berhenti sebentar,” jelas Ayumi sambil menunjuk arah yang ia maksud, tapi tiba-tiba ia dibuat terkejut lagi karena ternyata namja yang tadi sudah tidak ada ditempatnya. Ayumi melongok kebawah, siapa tahu namja itu masih terlihat berjalan ditangga dibawahnya, tetapi nihil, namja itu tidak terlihat.

“eh?” Ayumi menyipitkan matanya lagi, ia yakin hanya sekitar 2 menit yang lalu namja itu masih berdiri diam diujung tangga itu, tetapi sekarang tidak ada. Apa mungkin dia sudah pergi? Jalannya cepat sekali.

“kau melihat siapa? Tidak ada siapa-siapa disini,” ucap So Ran sambil memandang heran kearah Ayumi.

Ayumi menggaruk lehernya yang tidak gatal, ia yakin ia melihat seseorang tadi. Akhirnya Ayumi tersenyum canggung. Lupakan saja, itu bukanlah hal yang penting karena saat ini yang penting baginya adalah menemui penanggung jawab apartemen sesegera mungkin.

***

Ayumi berjalan pelan sambil memandang gedung apartemennya yang sudah mulai terlihat dari kejauhan. Sebuah gedung yang tidak terlihat seperti sebuah apartemen. Hanya gedung bertingkat 8 dengan hanya 2 kamar disetiap lantainya. Karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kotalah sebenarnya alasan kenapa Ayumi pindah kesini, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu mendapatkan mimpi yang aneh. Bukan mimpi buruk, hanya saja mimpi itu sangat aneh. Jika saja pemandangan dari kamar di apartemennya tidak bagus, mungkin sudah sejak hari pertama ia pindah.

Lift terbuka, Ayumi tiba dilantai 6 dengan tidak bersemangat. Ia berjalan menunduk sambil sesekali menghembuskan napas berat, mungkin ia belum terbiasa hidup seorang diri, apalagi di negeri yang bisa dibilang asing baginya.

Ayumi terus berjalan sambil menunduk sampai ia melihat sebuah kaki yang berdiri tidak jauh darinya, dengan cepat Ayumi mengangkat kepalanya, dan sedikit tersentak karena pemilik kaki itu sedang menatapnya tanpa berkedip. Tubuh tinggi, rambut acak-acakan, dan kulit yang seputih susu mengingatkan Ayumi pada laki-laki yang ia lihat tadi malam. Dan sepertinya memang inilah laki-laki itu. Ternyata memang laki-laki ini tetangganya?

“kau kembali.” Ucap laki-laki itu sambil terus menatap Ayumi.

Sedikit bingung tetapi Ayumi tetap menjawab, “ya, aku baru pulang berjalan-jalan disekitar sini.”

Kening laki-laki itu berkerut samar, tetapi pandangannya tetap tidak terlepas dari Ayumi, “kenapa lama sekali? Kenapa kau pindah? Apa….kau menghindariku?” tanya laki-laki itu tanpa jeda.

Menghindar? Ayumi tidak mengerti dengan maksud laki-laki ini. apakah ia salah mengerti? Karena bahasa koreanya yang sangat pas-pasan mungkin saja ia salah mengartikan ucapan namja ini.

Alis Ayumi bertautan, sekarang ia malah curiga jika namja ini adalah salah satu orang yang diutus mantan tunangannya, “apa kau orang suruhan Keita Haruki?” tanyanya dengan curiga.

Ekspresi namja itu berubah, matanya yang terlihat kosong kini lebih terasa hidup, ada apa sebenarnya? Ia benar-benar bingung. Jika benar namja misterius ini suruhan Haruki mungkin ia harus benar-benar pindah rumah.

“siapa itu Keita Haruki? Kau berselingkuh?” namja itu menatap  Ayumi dengan intens, terlihat marah, entah mengapa.

“ap—apa??” Ayumi membulatkan matanya. Dalam hati ia makin bertanya-tanya siapa orang ini, semua kata-katanya sangat aneh, seolah namja itu sudah mengenalnya.

Saat itu tiba-tiba Ayumi mendengar lift berdenting, dan ia bisa mendengar langkah kaki seseorang mendekat kearahnya.

“Ayumi? Kau sudah pulang?” suara seseorang terdengar dibelakangnya.

Ayumi memutar badannya dengan cepat, ia menghembuskan napas lega setelah mengetahui pemilik suara itu, Lee So Ran.

“eoh? Ya, baru saja.” Jawab Ayumi sambil tersenyum tipis.

“kau sedang apa berdiri disitu?”

“aku baru bertemu dengan penghuni apartemen disini, pasti kau sud—” Ayumi berbalik menghadap namja itu lagi, tetapi kalimat yang akan keluar dari mulutnya tertahan karena namja itu sudah tidak ada. Ayumi menengok kekanan dan kekiri, mencari namja itu, tetapi tidak ada.

Hanya sekitar setengah menit saat ia berbalik menyapa Lee So Ran, dan namja itu menghilang dalam waktu sesingkat itu? Lift ada dibelakang Lee So Ran, bagaimana cara namja itu pergi? Apakah diujung lorong ada tangga darurat lagi? sepertinya tidak. Ia menggeleng lemah untuk membuang pikiran-pikiran aneh dari benaknya, mungkin ia tidak lihat saat namja itu berjalan melewatinya dan So Ran.

“…..Ayumi? Hei Ayumi….ada apa?”

Ayumi mengerjap, suara So Ran menyadarkannya dari lamunan. “tidak ada apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum kaku.

Ayumi melihat kening So Ran berkerut samar, tetapi tidak lama gadis itu tersenyum juga, “benar? Kalau begitu aku masuk ya,” So Ran melambai pelan, lalu masuk kedalam kamarnya.

Ayumi menghembuskan napas berat. Baru seminggu ia di Korea, dan pasti sekarang So Ran sudah menganggapnya orang aneh. Kening Ayumi berkerut, ngomong-ngomong soal orang aneh, ia jadi teringat namja itu lagi. ia memang baru sekali bertemu dengan namja itu, tetapi ada perasaan aneh dalam dirinya, ia merasa pernah bertemu dengan namja misterius itu sebelumnya. Dan tentu saja itu terdengar lebih aneh lagi, karena ia baru seminggu berada disini.

Ayumi mengacak-acak rambutnya dengan  frustasi, bisa-bisa niatnya untuk mencari suasana baru malah membuat gila karena hal-hal aneh yang terjadi.

***

Ayumi hampir saja terjatuh saking terkejutnya saat membuka pintu apartemennya. di pagi hari seperti ini ia mendapati seorang pria berdiri tepat didepan pintu, siapa yang tidak akan terkejut? Namja misterius itu, apa yang ia lakukan di depan rumahnya?!

“apa yang kau lakukan?” tanya Ayumi dengan nada yang tidak bersahabat. Sepertinya memang orang aneh ini suruhan Haruki, jangan-jangan ia sudah mengikutinya selama seminggu ini? apakah ia penjahat? apakah orang ini akan menculiknya lalu membawanya kembali dengan paksa ke Jepang lalu menyerahkannya pada Haruki? Imajinasi Ayumi yang luar biasa itu mulai berkeliaran kemana-mana, inilah akibatnya jika terlalu sering menonton serial detective saat masih kecil.

“aku menungggumu.”

“kenapa?”

“aku takut kau tidak kembali lagi.”

Ayumi mengerjapkan matanya beberapa kali. Entah dirinya yang gila atau namja ini yang gila? Lagi-lagi namja misterius itu berkata seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Tetapi, siapa sebenarnya dia?

Awalnya Ayumi menolak tawaran—lebih tepatnya pemaksaan—saat namja itu bilang akan menemaninya berkeliling melihat pemandangan, dan sekalian mencari inspirasi baru. tetapi akhirnya Ayumi mengalah, mungkin ada baiknya juga ditemani oleh seseorang yang sudah mengenal tempat ini dengan baik.

“kau belum bilang siapa namamu.” Ayumi berjalan pelan berdampingan dengan namja misterius itu. Kalau diingat-ingat mereka memang belum berkenalan dengan resmi. Ayumi menghentikan langkahnya saat merasa namja itu berhenti, ia sudah beberapa langkah didepan namja itu saat ia berbalik, dan melihat namja itu berdiri menatapnya dengan alis yang bertautan.

Hening beberapa saat, namja itu malah tetap menatapnya dengan pandangan aneh, mungkinkah mereka memang saling mengenal?

“Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun.” Akhirnya namja itu membuka mulutnya yang tertutup rapat. Dan yah, setelah mendengar nama namja itu ia yakin mereka belum pernah kenal sebelumnya, nama itu terlalu asing.

“kau juga belum tahu namaku kan? namaku Ayumi Akomoto, senang berkenalan denganmu.” Ucapnya sambil tersenyum ramah, tidak memperhatikan air muka Kyuhyun yang berubah muram.

***

              Ayumi berada disebuah persimpangan jalan yang cukup ramai. ia tidak ingat jelas kapan ia pergi, dan tiba-tiba ia sudah berada disini. Ayumi masih saja berdiri diam dipinggir jalan saat seseorang menabraknya, membuatnya hampir terjungkal kebelakang. Tanpa minta maaf terlebih dahulu orang itu terus berlari tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Tidak lama setelah itu beberapa orang berpakaian hitam-hitam tampak berlari mengejar orang itu.

“yumi-ya!! disini!!” teriakan seseorang mengalihkan pandangan Ayumi dari seorang gadis yang sedang dikejar itu. ia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tahu siapa yang berteriak memanggilnya tadi. Tidak ada. Dan tidak mungkin. Tidak ada banyak orang yang mengenalnya di Seoul.

Ayumi lalu kembali memperhatikan gadis itu lagi, sebenarnya ada banyak sekali orang yang ada disini, tetapi mengapa matanya seolah tidak bisa terlepas dari gadis itu? Dan oh, gadis itu berlari kearah seorang namja bertopi hitam yang menunggu gadis itu diseberang jalan.

“Yumi! Ayo cepat!” namja itu memanggil gadis yang sedang berlari itu. Yumi? itu namanya? Jadi tadi namja itu yang berteriak, dan ternyata memanggil gadis itu, bukan dirinya.

Gadis yang dikejar itu tetap berlari kearah laki-laki bertopi hitam walaupun segerombol orang berpakaian hitam-hitam itu mengerjarnya dan memanggil-manggil namanya. Ini adalah kejadian yang biasanya hanya ia lihat di film, dan kini benar terjadi didepan matanya. Ayumi ingin beranjak, tetapi tidak bisa. matanya benar-benar hanya terfokus pada gadis itu, ia berusaha mempertajam penglihatannya untuk melihat wajah gadis itu, tetapi tidak terlihat karena ia sudah berlari cukup jauh.

Gadis itu terus berlari menerobos lampu yang masih hijau, dan tiba-tiba semuanya seperti berhenti. Orang-orang yang mengejar tadi berhenti, laki-laki diseberang jalan berhenti berteriak memanggil nama gadis itu, semuanya terfokus pada apa yang baru saja terjadi, termasuk dirinya. Gadis yang berlari itu tergeletak lemah dengan darah segar mengalir dari kepalanya setelah sebuah mobil menabraknya.

Semuanya terjadi begitu cepat. Adegan action yang tadi dilihatnya kini berubah menjadi adegan drama. Laki-laki bertopi hitam itu mendekati gadis yang sedang berbaring lemah dijalanan dengan langkah gontai, dan benar-benar jatuh tersungkur saat sudah berada didepan gadis itu. entah sejak kapan, tetapi Ayumi baru sadar kini dirinya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang ikut berkerumun disitu. Topi laki-laki itu terlepas karena jatuh tersungkur tadi, Ayumi menyipitkan matanya, wajah laki-laki itu tidak asing, tetapi ia tidak yakin apakah ia pernah melihatnya sebelumnya.

“Yumi-ya ireona! Ya! Ireona! Ahn Yumi bangunlah jebal!” laki-laki itu meraih tubuh gadis yang dipanggil Yumi, dan memeluknya dengan erat.

“AHN YUMI!!!!”

***

“hei, kau selalu membuatku kaget!” Ayumi memegangi dadanya, ia terkejut karena Kyuhyun berdiri didepan pintunya.

Sudah 3 minggu sejak ia mengenal Kyuhyun, dan sekarang namja itu menjadi salah seorang sahabatnya. Walaupun kepribadian Kyuhyun sedikit aneh tapi ia senang berteman dengannya. Namja itu tahu semua tempat yang bagus, dan Kyuhyun jarang bicara, sedikit membantu karena bahasa Korea Ayumi yang seadanya, Kyuhyun tidak pernah mentertawakan aksennya yang masih aneh, malahan namja itu mengajarinya banyak kosa kata baru, walaupun terkadang bukan kata-kata yang bagus.

Kini Ayumi, dan Kyuhyun sedang berada disebuah bukit. Kyuhyun baru pertama kali mengajaknya kesini, tetapi semua yang ada disini terlihat familiar dimatanya. Ayumi bangkit dari duduknya untuk memperhatikan sekelilingnya. Suasana disini sangat damai, sangat nyaman. Ayumi menyeka rambut yang menutupi wajahnya, sungguh tempat yang sangat cocok untuk melepaskan penat.

Ayumi berbalik kearah Kyuhyun, dilihatnya namja itu sedang duduk dengan kepala menunduk, dan mata yang terpejam, rambutnya terkena angin hingga seluruh wajahnya terlihat. Ayumi terkesiap, wajah Kyuhyun terasa tidak asing baginya. Tapi, dimana ia melihat Kyuhyun? Perlahan Ayumi mendekati Kyuhyun yang masih memejamkan mata, ia ingin memperhatikan wajah Kyuhyun, mungkin saja memang mereka pernah bertemu sebelumnya. Dari jarak beberapa sentimeter seperti ini Ayumi dapat mencium aroma parfume Kyuhyun yang sangat maskulin, membuatnya ingin menciumnya terus. Ayumi beralih ke wajah namja itu, bibir Kyuhyun sedikit pucat, apakah ia sakit? Hidung Kyuhyun mancung, bulu mata namja itu juga panjang. Indah, hanya satu kata itu yang bisa ia ucapkan. Ya, Kyuhyun sangat indah.

Ayumi langsung meraih buku sketsa dan penanya, ia sudah banyak menemukan objek yang indah selama di Korea, tetapi tidak ada yang membuatnya sangat bersemangat seperti ini. Ayumi membuat sketsa wajah Kyuhyun dibukunya. Ia harus menggambar dengan baik jika tidak mau membuat objek indah didepannya ini telihat jelek. Ayumi terus saja menggambar saat tiba-tiba Kyuhyun membuka matanya, membuat Ayumi terkesiap dan juga sedikit salah tingkah.

“kau sudah bangun?” tanya Ayumi sambil tersenyum lebar, “aku menggambar dirimu yang sedang tertidur tadi. Tidak apa-apa?” lanjutnya.

Kyuhyun tersenyum tipis, “apakah aku cukup indah?” tanya Kyuhyun, kini senyum tipisnya sudah berubah menjadi sebuah smirk yang sangat berbahaya.

Ayumi memukul pelan bahu Kyuhyun untuk menutupi dirinya yang salah tingkah, “tidak! Bukan begitu…hanya saja…” kalimat Ayumi menggantung, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, tidak mungkin ia harus jujur didepan Kyuhyun. Terlebih lagi kini Kyuhyun sedang menatapnya dengan pandangan yang seolah mengatakan-kau-sedang-berbohong-Ayumi.

Tidak tahan ditatap seperti itu, Ayumi bangkit dan pergi meninggakan Kyuhyun, “aku lelah sekali, mau pulang.” Ayumi berkata tanpa menengok kebelakang.

“Yumi-ya, tunggu aku.” Ayumi langsung menghentikan langkahnya. Entah mengapa cara Kyuhyun memanggilnya terasa tidak asing. Ayumi memang selalu merasa cara Kyuhyun memanggil namanya selalu berbeda.

Ayumi berbalik sambil merengut, dilihatnya Kyuhyun mulai beranjak dan berjalan menyusulnya. Dan, tiba-tiba saja ada yang terasa aneh, cara Kyuhyun berjalan kearahnya terasa aneh. Namja itu berjalan perlahan sambil menatapnya lembut, seolah sedang rindu, seolah sedang putus asa karena lama tidak bertemu.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, sepertinya hujan akan segera turun. Angin berhembus membuat salah satu kertas ditangannya terbang, kertas itu terbang melewati Kyuhyun, saat itulah Ayumi melihat tubuh Kyuhyun lagi, dan lagi-lagi ia merasa tidak asing. Angin berhembus menutupi sebagian wajah Kyuhyun, Ayumi merasa deja-vu, ia sepertinya pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.

Ayumi menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, Kyuhyun…adalah laki-laki yang ada di mimpinya saat itu? ayumi menggeleng pelan tetapi dalam hatinya bekata lain. Ya, Kyuhyun adalah pemilik bayangan seseorang yang hadir di mimpinya.

***

Ayumi mengetuk pelan pintu rumah tetangganya. Hatinya gelisah, dan pikirannya melayang kemana-mana. Pintu didepannya terbuka, pemiliknya segera mempersilahkannya masuk. Ayumi duduk di sofa, ia menatap So Ran dengan kening yang terus berkerut.

“So Ran-ssi, sudah berapa lama kau tinggal disini?” tanya Ayumi.

“hmm, baru 6 bulan lebih, kenapa memangnya?”

“kau mengenal Cho Kyuhyun? Yang tinggal dilantai 4?”

So Ran tampak sedang berpikir, “sepertinya aku pernah mendengar namanya.” Jawabnya tidak yakin. “memang kenapa?”

“tidak, hanya saja akhir-akhir ini aku sering ditemani oleh Kyuhyun berkeliling, tetapi…” kalimatnya menggantung, bagaimana harus mengatakannya?

“tetapi??” alis So Ran bertautan, “selama aku disini, aku belum pernah bertemu dengannya.”

Mata Ayumi melebar, “benarkah?”

***

Ayumi meletakkan secangkir teh hangat di meja di depan Kyuhyun, ini bukan pertama kalinya namja itu berkunjung kerumahnya. Setelah kejadian kemarin Ayumi memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. biarkan saja, toh Kyuhyun selama ini tidak pernah menyakitinya, walaupun terkadang tingkahnya aneh.

Ayumi mengambil posisi duduk disebelah Kyuhyun yang sedang serius memperhatikan setiap lembar buku sketsanya.

“bagaimana?” tanya Ayumi dengan wajah berseri-seri.

Kyuhyun terlihat membolak-balik setiap halaman yang ada dibuku itu, “aku suka yang ini.” Kyuhyun menunjuk sebuah sketsa dirinya sendiri saat di padang rumput waktu itu.

Ayumi mencibir, “ada banyak gambar yang bagus, mengapa kau memilih gambar dirimu sendiri?”

Kyuhyun tertawa pelan, “karena ini yang paling indah, Yumi-ya”

Ayumi tertegun, pertanyaan itu muncul lagi dibenaknya, ia tidak tahu mengapa ia selalu merasakan perasaan yang aneh jika ia sedang bersama Kyuhyun. Ia sangat yakin kalau dirinya tidak pernah mengenal Kyuhyun sebelumnya, tetapi mengapa setiap namja itu sedang menatapnya, seolah itu adalah pandangan seseorang yang sedang rindu.

Apakah ia harus bertanya langsung pada Kyuhyun? Tapi, apa yang harus ia tanyakan? Pasti Kyuhyun akan mentertawainya jika ia menanyakan hal yang konyol seperti itu.

Ayumi memaksa dirinya kembali dari pikirannya yang sudah melayang-layang, ia tersenyum kecut sambil merebut buku sketsanya dari tangan Kyuhyun, “itu karena aku yang menggambarmu, jadi terlihat indah.” ucapnya membanggakan diri sendiri, tidak mau kalah oleh Kyuhyun.

“aku memang akan terlihat indah jika bersamamu.” Ucap Kyuhyun dengan nada yang sangat tenang, membuat tiba-tiba bulu kuduk Ayumi berdiri.

Ayumi tertawa singkat, berusaha menutupi rasa gugup dan bingungnya, “apa yang kau bicarakan, sih?” ucapnya sambil beranjak meninggalkan Kyuhyun, dan berjalan pelan menuju dapur. Entah apa yang ia akan lakukan ia juga tidak tahu, yang penting sekarang adalah menghindar dari hadapan Kyuhyun jika ia tidak mau wajahnya yang memanas terlihat oleh namja itu.

“Yumi-ya, kau tidak akan pergi lagi ‘kan?” Ayumi berbalik, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui Kyuhyun sudah berada tepat dibelakangnya. Ayumi baru sadar jika langkah kaki Kyuhyun tidak pernah terdengar, aneh memang, tetapi ia tidak pernah memikirkan itu.

“yumi-ya…jangan pergi terlalu lama.” Ucap Kyuhyun lagi.

Ayumi menatap Kyuhyun dengan kening yang berkerut, lagi-lagi namja itu mengatakan hal-hal yang aneh. Ayumi tersenyum simpul menutupi rasa herannya, “kau bicara apa? Aku hanya pergi beberapa menit saja.” Ucapnya.

Kyuhyun tersenyum tipis, tetapi tidak lama senyum itu menghilang dari wajahnya, digantikan dengan raut wajah cemas dan terlihat kebingungan. Ayumi tidak bisa membaca ekspresi Kyuhyun saat itu, ia hanya terus menatap mata Kyuhyun yang bergetar dengan berbagai pertanyaan di benaknya.

Saat Ayumi hendak beranjak meninggalkan dapur tiba-tiba Kyuhyun meraih sebelah tangannya, dan menggenggamnya dengan sangat erat. Dan, saat itu tiba-tiba dadanya terasa sakit karena ulah jantungnya yang berdetak dengan tidak karuan. Bagaimana bisa ini terjadi padahal Kyuhyun hanya menggenggam tangannya.

Ayumi masih tidak bisa mengendalikan jantungnya saat Kyuhyun menariknya kedalam pelukan namja itu, ia memeluk Ayumi dengan sangat erat seolah tidak mau melepaskannya sama sekali. Ayumi tidak tahu harus bagaimana, ia ingin melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun tetapi ia merasakan sesuatu yang nyaman yang tiba-tiba timbul saat itu.

“Ahn Yumi…kau tidak boleh pergi lagi.” ucap Kyuhyun dengan suara yang sangat lemah, tetapi Ayumi bisa mendengarnya dengan jelas.

Sakit, sangat sakit. Dadanya terasa sesak sekarang, jauh lebih sesak dari sebelumnya. Jantungnya yang sedang berdetak tidak karuan terasa terhenti saat mendengar kalimat Kyuhyun barusan. Ahn Yumi? nama itu terasa tidak asing di telinganya, tetapi ia tidak ingat pernah mendengarnya dimana.

Ayumi mendorong tubuh Kyuhyun sehingga pelukan namja itupun terlepas. Ia memandang Kyuhyun dengan tajam seolah tidak terima karena Kyuhyun memanggilnya dengan nama gadis lain. Ia sangat ingin marah atas tindakan Kyuhyun tadi, bagaimana bisa Kyuhyun menatap dan memeluknya seperti itu tetapi malah memanggil nama orang lain.

Ayumi menyerah. Ia tidak ingin menanyakan, atau berdebat dengan Kyuhyun karena hal itu. ia memutuskan untuk menganggap jika kejadian tadi tidak pernah terjadi. Ya, sepertinya begitu lebih baik.

***

“kau bertemu dengan Cho Kyuhyun? Aigoo anak itu belum bisa kembali rupanya… sepertinya aku sedikit mengerti bagaimana perasaan anak itu. Ayumi, jika aku menceritakannya padamu, berjanjilah untuk tidak menangis dan mungkin saja pingsan disini, ne?”

“Cho Kyuhyun…aku tidak mengerti mengapa anak itu menjadi seperti ini. hmm…sebenarnya,  Kyuhyun sudah tidak berada di apartemen ini. satu tahun yang lalu, kekasihnya meninggal karena kecelakaan saat akan kabur bersamanya. Ia merasa sangat bersalah dan depresi, hingga tidak lama ia mencoba bunuh diri dengan menabrakan dirinya ke sebuah mobil, semenjak saat itu ia masuk rumah sakit, dan…sampai saat ini ia masih belum sadarkan diri.”

“Ayumi-ssi, sudah sejak saat itu Kyuhyun koma, bagaimana bisa ia pergi menemuimu? Dasar anak nakal, bahkan aku tidak ia kunjungi, bagaimana bisa ia malah mengunjungi seorang gadis.”

“Ayumi-ssi, sedikit banyak aku bisa mengerti mengapa ia menemuimu, mungkin ia mengira kau adalah gadis itu, Ahn Yumi. kalau dilhat-lihat kau memang sedikit mirip dengan gadis itu. Ayumi-ssi, apa kau terkejut mendengar ini semua?”

“ini, ambilah, ini adalah kunci kamar Kyuhyun. Kau bisa melihat wajah gadis itu di kamarnya.”

Ayumi menutup pintu di belakangnya dengan tenaga yang hampir saja tidak ada. Dirinya masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia dengar. Choi Ahjussi—penjaga apartemen—tidak punya alasan apapun untuk berbohong, tetapi semua ini benar-benar tidak bisa dicerna dengan akal sehat.

Dengan perasaan yang masih tidak karuan Ayumi terus berlajan, entah kakinya akan membawanya kemana, yang jelas ia tidak ingin berada di apartemennya sekarang. yang ada dibenaknya saat ini adalah ia harus menjauh dari Kyuhyun.

Ayumi menundukan kepalanya yang terasa berputar-putar. air matanya tiba-tiba saja melesat jatuh saat menyadari dirinya sedang berada di bukit yang penah ia kunjungi bersama Kyuhyun. Ayumi menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri, seolah takut jika Kyuhyun melihat dirinya yang sedang menangis saat ini. karena bisa saja sebenarnya Kyuhyun sedang berada di dekatnya sekarang. Ayumi menghela napas berat disela-sela tangisannya, ucapan Choi Ahjussi masih terasa menggema di kepalanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang setelah mengetahui ini semua?

Tangisan Ayumi semakin menjadi saat menyadari semua mimpi anehnya selama berada di Seoul memang berhubungan denganKyuhyun. Ia sudah menyadari sebelumnya jika namja yang hanya bisa ia lihat bayangannya itu ternyata Kyuhyun, dan gadis yang ada di mimpinya itu adalah Ahn Yumi. gadis itu adalah kekasih Kyuhyun? Pantas saja Kyuhyun selalu mengatakan hal-hal aneh, seolah namja itu sudah mengenalnya sejak lama, ternyata ia mengira dirinya adalah gadis itu?

Ayumi menyentuh dadanya yang terasa sesak, mengapa ia harus mengalami ini semua? Mengapa ia harus bertemu dengan Cho Kyuhyun? Dan mengapa ia harus mengetahui ini semua disaat ia mulai menyukai namja itu?

Ia menangis lagi, ya hanya itu yang bisa ia lakukan. Memang tidak bisa merubah apapun, tapi setidaknya bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.

***

Ayumi menatap lemah namja yang sedang duduk di depannya. Sekarang malah jantungnya memompa dengan lebih cepat lagi saat sedang bersama dengan Kyuhyun. Bagaimana cara untuk menghentikan rasa sukanya yang selalu bertambah setiap harinya? Padahal ia sudah tahu jika Kyuhyun tidak ada….dan tidak menyukainya. Namja itu mencintai orang lain.

Ayumi menarik napas, dan menghembuskannya dengan perlahan, kenyataan itu membuat dirinya semakin terpuruk, dan terlihat sangat menyedihkan. Ayumi beranjak menuju dapur, ia harus segera menghindar dari namja itu sebelum air matanya keluar lagi.

“Yumi-ya, kau mau kemana?” Kyuhyun yang sedang menonton tv sontak ikut berdiri saat Ayumi mulai melangkahkan kakinya.

Ayumi memejamkan matanya sambil menghembuskan napas berat, cara Kyuhyun memanggilnya, ia tidak suka cara Kyuhyun memanggilnya.

“aku hanya ingin membuat teh. Kau mau?” jawab Ayumi tanpa berbalik menghadap Kyuhyun.

Tidak ada jawaban, hanya ada langkah kaki yang terdengar mendekat kearahnya. Alis Ayumi bertautan, baru kali ini ia mendegar langkah kaki Kyuhyun, membuatnya sedikit heran.

“aku akan membantumu,” ucap Kyuhyun sambil tersenyum manis kearah Ayumi. Namja itu lalu berjalan mendahului Ayumi menuju dapur.

Ayumi masih saja terdiam sambil menatap punggung tegap Kyuhyun yang berjalan menjauh darinya. Ya, suatu saat namja itu akan berjalan meninggalkannya seorang diri seperti ini. bagaimana ini? ia malah tidak ingin membiarkan hal itu terjadi, padahal ia tahu jika Kyuhyun bukanlah miliknya.

“Yumi-ya, kau mau teh apa?” suara Kyuhyun terdengar dari dapur. “yumi-ya…” Kyuhyun memanggil lagi karena Ayumi tidak menjawab apapun.

Dadanya terasa sesak lagi. mendengar Kyuhyun memanggilnya dengan cara seperti itu membuat dadanya sakit. Ia tidak mau dianggap gadis yang sudah mati itu.

Dilihatnya Kyuhyun berjalan keluar dari dapur, mungkin karena Ayumi tidak menjawab panggilannya berkali-kali, “Yumi-ya, kau—“

“hentikan Kyu. Kumohon..” Ayumi berkata dengan cepat, memotong ucapan Kyuhyun. ia membalikan badannya sehingga kini ia berdiri membelakangi Kyuhyun. ia tidak akan sanggup melihat mata Kyuhyun disaat seperti ini.

“Kyu…kau tahu ‘kan aku bukanlah gadis itu,” ucap Ayumi hati-hati. ia mengepalkan kedua tangannya sendiri menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. tidak, ia tidak ingin menangis di depan Kyuhyun.

Tidak ada jawaban yang terdengar, apakah Kyuhyun sedang mendengarkannya? Ayumi tidak sanggup berbalik menghadap Kyuhyun.

“kau tidak bisa hidup di dalam bayang-bayang terus seperti ini. kembalilah ke dalam tubuhmu. Jangan pikirkan dirimu sendiri, pikirkanlah orang-orang yang menyayangimu, mereka pasti sedih melihat dirimu yang terbaring koma dirumah sakit.” Ayumi mengatur napasnya yang memburu karena berkata tanpa jeda.

“seseorang tidak akan bisa hidup dalam bayangan, begitupun aku, aku tidak ingin menjadi bayang-bayang gadis itu. Kyu, aku Ayumi Akomoto, aku bukanlah gadis itu. aku…bukanlah orang yang kau cintai. Karena aku bukan Ahn Yumi.” entah sejak kapan Ayumi bisa mengatakan itu semua dengan sangat lancar. Mungkin ia hanya mengatakan semua yang ada didalam kepalanya.

Suara Ayumi saat mengatakan itu semua semakin lama terdengar semakin serak dan lemah, itu semua akibat ia menahan tangisannya agar tidak meledak di depan Kyuhyun. tetapi ia tidak bisa, dadanya semakin terasa sakit karena ia menahan itu semua. Sebenarnya jika boleh memilih, ia akan merasa senang walaupun hanya seperti ini, walaupun dirinya hanya bisa bersama bayangan Kyuhyun.

Ayumi menundukan kepalanya tanpa berkata apapun lagi, begitupun juga dengan Kyuhyun, ia tidak mendengar suara namja itu sama sekali. Entahlah, apa yang sekarang sedang dipikirkan Kyuhyun tentang dirinya.

Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menguasai. Perlahan Ayumi memutar badannya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kyuhyun sudah tidak ada dibelakangnya. Dengan cepat Ayumi berlari menuju dapur, kamar mandi, dan bahkan kamar tidurnya, tetapi nihil, namja itu tidak ada dimana-mana.

Ayumi jatuh terduduk, kakinya terasa sangat lemah dan terasa tidak kuat menopang tubuhnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sekarang ia sudah tidak bisa menahan tangisannya. ia belum menyatakan perasaannya pada Kyuhyun, mengapa namja itu pergi begitu saja? Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.

***

Sudah 3 bulan berlalu sejak kejadian itu, dan ternyata Kyuhyun benar-benar menghilang. Entahlah, tetapi ia merasa Kyuhyun sudah lebih baik sekarang, dimanapun namja itu berada. Sejak Kyuhyun pergi, tidak ada lagi yang menemaninya untuk berkeliling mencari objek yang indah. Jujur saja, sebenarnya ia merasa sedikit kesepian karena memang hanya Kyuhyunlah sahabat yang ia punya. Karena terlalu sering merasa kesepian, bahkan kadang-kadang terlintas di benaknya untuk kembali ke Jepang, tetapi keyakinan dirinya akan bertemu lagi dengan Kyuhyun membuatnya menahan keinginannya itu.

Ayumi tersenyum kecut membayangkan dirinya yang masih saja teringat pada Kyuhyun padahal namja itu sama sekali tidak menganggap dirinya, bagi Kyuhyun ia hanyalah seseorang yang mirip dengan mantan kekasihnya yang sudah meninggal, miris sekali nasibnya.

Tetapi walaupun tanpa Kyuhyun ia harus tetap melanjutkan tujuannya pergi ke negeri ginseng ini, dengan pengalaman yang sangat pas-pasan Ayumi berani berkeliling seorang diri di kota besar ini. dan, seperti hari-hari biasanya, hari inipun Ayumi akan pergi mencari tempat yang bisa memberi inspirasi.

Saat hendak turun kelantai dasar, tiba-tiba saja lift yang Ayumi naiki berhenti di lantai 4. Ayumi tidak benar-benar memperhatikan saat lift itu terbuka dan seseorang masuk kedalamnya.

Deg! Jantung Ayumi berdetak dengan cepat saat aroma yang sangat familiar tercium di hidungnya. Perlahan Ayumi menoleh kearah seseorang yang baru saja masuk itu, tubuh tegap, kulit putih, rambut hitam yang dicukur dengan rapi. Ayumi hampir memekik karena terkejut, ia mengerjap beberapa kali sebelum menyadari yang ia lihat didepan matanya itu benar-benar nyata.

“Kyuhyun…?” Ayumi berkata dengan mata yang membulat seakan ingin melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya. Apakah ini benar-benar Kyuhyun? dengan tubuhnya? Raganya? Bukan hanya bayangan yang selalu ia rindukan ‘kan?

Namja yang dipandang itu menoleh, terlihat sedikit bingung, tetapi tidak lama ia tersenyum ramah, “apakah kita saling mengenal?” namja itu bertanya pada Ayumi.

Ayumi tersenyum tipis mendengar ucapan Kyuhyun, dia benar-benar tidak berarti bagi namja itu? tidak apa-apa, kenyataannya sekarang ia bisa melihat Kyuhyun yang sebenarnya di depan matanya membuat dirinya sangat senang.

“ya, kurasa begitu.” Ayumi tersenyum lebih lebar menutupi rasa terkejut dan kecewanya.

“benarkah? Maaf ingatanku memang kurang bagus.” Kyuhyun terlihat sedikit merasa tidak enak pada Ayumi.

“tidak apa-apa,” Ayumi tertawa kecil, “namaku Yumi, Ayumi Akomoto.” Ayumi berkata sambil mengulurkan tangannya kearah Kyuhyun.

Namja yang sedang berdiri didepannya itu terdiam sejenak saat Ayumi memperkenalkan dirinya, apakah ia teringat sesuatu? Jika memang benar, Ayumi berharap Kyuhyun mengingat yang baik-baik tentang dirinya.

Tetapi tidak lama Kyuhyun tersenyum, dan menyambut uluran tangan Ayumi, “sepertinya kau sudah tahu namaku,” Kyuhyun tertawa renyah, “senang berkenalan denganmu Ayumi-chan.”

Ayumi tertegun, kali ini cara Kyuhyun memanggil namanya tidak seperti dulu lagi, dan ia sangat senang karena hal itu. Ayumi tidak bisa menahan senyumnya yang sangat ingin mengembang saat itu juga. Bagaimana cara ia berterimakasih pada tuhan karena telah mempertemukan lagi dirinya dengan Kyuhyun?

“aku juga, senang bisa berkenalan denganmu….lagi.” ucap Ayumi sambil memberikan senyum termanisnya.

END

Iklan

An Extraordinary Love Story

An Extraordinary Love Story

Author            : YellowPurple

Cast     : Kim Min Young

              Lee Sung min

               Other cast

Genre:  Romance

“aku tidak pernah tahu jika mencintai seseorang akan seindah sekaligus sesakit ini.”

 

Tuesday, 29th January 2008.

Aku masih duduk dikelas dua di Sekolah Menengah Pertama saat semuanya bermula. Saat itu sudah sore hari, jam pelajaran disekolahku juga telah berakhir. Aku sedang berjalan menuju pintu gerbang bersama teman-temanku, ingin segera pulang kerumah karena lelah setelah berjam-jam belajar. Saat itulah tiba-tiba ada  seorang anak laki-laki menghampiriku. Wajahnya terlihat gugup, dan malu-malu. Anak laki-laki itu tersenyum kaku kearahku, dan kearah teman-temanku.

Tiba-tiba saja anak itu mengucapkan sesuatu yang langsung membuat aku, dan teman-temanku melongo karena terkejut. Dia bilang ingin menjadi kekasihku! Tentu saja ini hal yang sangat aneh, dan sangat tiba-tiba bagiku. Dia bukan temanku, dan bahkan kami juga tidak pernah mengobrol walau sekali. Tapi, tanpa berpikir lama aku langsung mengangguk pelan mengiyakan. Aku menerimanya.

Sebenarnya, aku juga telah menyukainya lebih dulu. Hanya saja aku tidak pernah berani mengatakannya pada siapapun, termasuk pada teman-temanku. Nama anak laki-laki itu Lee Sungmin, dia adalah seorang yang sangat populer disekolahku. Tentu saja, karena dia adalah ketua siswa disekolahku.

Walaupun banyak sekali yang memandangnya dengan pandangan aneh, tapi aku tahu Sungmin adalah orang yang baik. Ia selalu tersenyum kepada setiap orang yang bahkan tidak dikenalnya, senyuman ramahnya telah mencuri perhatianku selama ini. Dan itu salah satu alasan mengapa aku diam-diam menyukainya. Dan kini, setelah mengetahui ia memiliki perasaan yang sama denganku, tentu saja membuat rasa sukaku bertambah berlipat-lipat.

Selama berpacaran dengannya, tidak pernah ada sesuatu yang spesial. Bahkan bisa dibilang hubungan kami berada dititik yang ‘mengkhawatirkan’. Dia sangat jarang meneleponku, atau bahkan mengirim pesan untukku. Kami juga tidak pernah mengobrol ketika disekolah, aku bahkan mendengar banyak gosip yang kurang menyenangkan dari orang-orang tentang hubunganku dengan Sungmin. Tapi aku tidak peduli. Aku sangat mempercayainya, walaupun ia tidak pernah berkata langsung padaku, tapi aku tahu dia tidak membohongiku, karena ia memperlakukanku dengan istimewa.

Setiap orang yang mengetahui aku berpacaran dengannya pasti langsung menatapku dengan pandangan seolah aku telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Aku tahu mengapa mereka melihatku seperti itu, dan aku tidak peduli, sungguh! Aku juga menyadari sikap Sungmin yang sedikit ‘aneh’ dan ‘berbeda’ dari kebanyakan anak laki-laki disekolahku. Sikapnya itu memang sedikit seperti seorang anak perempuan, ia sangat lembut, dan mungkin juga terlihat kemayu. Ia juga terlihat lemah, tetapi aku tahu sebenarnya ia kuat. Kita tidak boleh melihat orang dari luarnya saja, kan?

Sudah kubilang kan kalau aku tidak peduli? Aku benar-benar menyukainya. Bahkan dengan semua kejadian yang aku alami saat berpacaran dengannya, saat aku sama sekali tidak diperlakukan seperti kekasihnya, aku tetap sangat menyukainya. Aku juga tidak tahu mengapa.

Sunday, 30th March, 2008.

Dua bulan setelah hari itu, tanpa alasan yang jelas, Sungmin memutuskan hubungannya denganku. Seperti kebanyakan anak perempuan lainnya—diusia yang masih sangat,sangat muda—saat itu hatiku hancur berkeping-keping. Mengingat hal itu aku jadi ingin tersenyum geli, sikapku sangat berlebihan waktu itu. Pada malam kami putus aku menangis, saat disekolah keesokan harinya aku menangis, melihatnya lewat didepan kelasku saja aku kembali menangis. Hari-hari yang sangat melelahkan. Mungkin jika ia melihatku menangis, dia akan sadar betapa aku menyukainya. Tapi kebalikannya, dia sangat benci jika aku menangis. Sungmin bilang dia benci seseorang yang lemah. Entah itu untuk semua orang, atau hanya untukku.

Salah seorang sahabatku yang tidak tahan melihatku yang seperti itu, langsung melabrak Sungmin, dan memaharahi anak laki-laki itu tanpa sepengetahuanku. Aku hanya diberitahu oleh sahabatku yang lain. Katanya ia memarahi Sungmin, dan menarik kerah baju Sungmin hingga tiga kancing teratasnya lepas dari jahitannya.

Berbeda dengan sahabatku yang berani bertindak tegas, aku hanya bisa diam menahan perasaan sakit yang kukira akan bisa hilang dalam waktu cepat. Kukira. Tapi ternyata berhari-hari, berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan, aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran, perasaan, dan debaranku jika mendengar segala sesuatu tentang Sungmin.

Aku menghindarinya dengan segala cara yang aku bisa. Aku benar-benar ingin melupakannya. Berbeda denganku yang sangat terlihat mencolok sedang menghindar, Sungmin malah bertindak seperti biasa, seperti saat kami  masih berpacaran. Aku selalu mengalihkan wajahku ketika tidak sengaja berpapasan dengannya, tapi ia malah menatapku dan tersenyum manis seperti biasa. Aku sangat tidak tahan dan tidak mengerti dengan sikapnya itu.

July, 2008.

Empat bulan berlalu, dan kini aku sudah berada di tahun terakhir disekolahku. Setelah waktu yang cukup lama itu, aku masih tetap menghindarinya. Sampai tiba-tiba Sungmin menghubungiku. Ia benar-benar bersikap seperti biasa, padahal ia sangat tahu kalau aku belum bisa melupakannya, dan tentu saja ia tahu kalau aku masih menyukainya. Selama aku menghindarinya, aku tahu ia tidak pernah dekat dengan gadis lain, mungkin juga memang karena sifatnya yang ‘unik’ itu. Tapi entah mengapa, aku masih merasa aku spesial bagi Sungmin, atau itu hanya harapanku saja?

Setelah saling berhubungan lagi, aku kembali dekat dengan Sungmin, dan aku sangat senang karena hal itu. Dan gawatnya, aku semakin menyukainya. Sahabat-sahabatku selalu bertanya mengapa aku bisa sangat menyukai orang yang bahkan tidak pernah benar-benar menyukaiku, ditambah lagi sikap Sungmin yang terlihat bukan seperti laki-laki sejati, membuat mereka bertambah heran. Dan sialnya, aku tidak pernah tahu jawaban dari pertanyaan itu. Mereka harus benar-benar mengetahui isi hatiku jika ingin tahu jawabannya.

Aku dan Sungmin menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ia bahkan lebih sering menelpon, dan memberiku pesan daripada saat kami masih berpacaran. Jujur saja aku terkejut dengan sikap Sungmin yang seperti itu, ia memperlakukanku seolah-olah kami masih sepasang kekasih. Tapi, tentu saja ini tidak seperti yang orang-orang bayangkan karena menjadi ‘kekasih’ Sungmin tidaklah seistimewa kedengarannya.

November, 2008.

Dan, empat bulan setelah aku kembali dekat dengannya, tiba-tiba saja Sungmin  bertanya apakah aku bersedia jika ia memintaku kembali menjadi kekasihnya. Saat itu yang kurasakan adalah jantungku yang nyaris terlepas karena tiba-tiba saja berdetak dengan sangat tidak biasa. Tentu saja aku sangat senang, tapi didalam hatiku masih ada perasaan ragu.

Dengan polosnya aku berkata mau. Tapi itu bukan sebuah pernyataan cinta, itu hanya pertanyaan, karena ia hanya mengatakan ‘jika’, dan kami berdua menyadari itu. Tentu saja kami tidak kembali menjadi sepasang kekasih dengan hanya sebuah pertanyaan yang hanya selewatan, terlebih lagi ia menanyakan dengan hanya melalui pesan singkat.

Aku kira kami mempunyai pemikiran yang sama tentang pertanyaan ini, tapi tiba-tiba ia berkata mulai saat itu kami menjadi sepasang kekasih lagi. Aku bingung dan terkejut, tapi senang. Walaupun aku sangat menantikan hal ini terjadi, tapi aku tidak begitu saja mengiyakan. Aku ingin ia mengatakannya dengan serius, dan bicara langsung tanpa perantara apapun. Diluar dugaanku, ternyata dia menyanggupinya. Tapi ia mengajukan persyaratan yang membuatku terkejut, dan jadi menyadari suatu hal. Ia bilang jika kami menjadi sepasang kekasih, aku tidak boleh memberitahukan kepada teman-temannya, dan juga teman-temanku. Kenapa? Tapi aku jadi tahu, sepertinya ini juga alasannya memutuskan hubungannya denganku waktu itu. Percaya atau tidak, teman-teman Sungmin memang sangat tidak suka melihat Sungmin berpacaran denganku, dan aku tidak tahu mengapa.

Akhirnya setelah pembicaraan yang berputar-putar tentang bagaimana sebenarnya hubungan kami, Sungmin bilang ia akan menemuiku esok hari diperpustakaan saat jam istirahat pertama. Demi tuhan, perasaanku saat itu sangat senang. Aku bahkan tidak sabar untuk cepat-cepat besok agar aku bisa cepat-cepat bertemu dengan Sungmin.

Keesokan harinya, begitu bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju perpustakaan, dan menunggu Sungmin disana. Aku menunggu seorang diri, karena Sungmin bilang aku tidak boleh memberitahu teman-temanku, dan aku menurutinya. Setelah hampir 20 menit menunggu, jam istirahatpun sudah berakhir, tapi Sungmin tidak kunjung datang.

Aku tertawa didalam hati. Tertawa untuk diriku sendiri yang sangat bodoh karena mudah sekali dipermainkan oleh Sungmin. Ini bukan pertama kalinya ia mengingkari janjinya, seharusnya aku belajar dari pengalaman, tapi ternyata aku memang sangat bodoh. Aku terlalu bahagia hingga tidak memikirkan hal lainnya. Benar-benar bodoh. Aku menangis lagi hari itu.

Sebenarnya, sudah sangat sering aku menangis, bahkan jika aku membaca dari awal buku harian ini, aku juga akan menangis. Ah, bahkan saat menulis inipun aku menangis, air mataku jatuh dibeberapa halaman, membuat tulisannya menjadi sedikit memudar.

Tiba-tiba saat aku sedang didalam perjalanan pulang hari itu, aku mendapat sebuah pesan singkat dari Sungmin. Pesannya berisikan permintaan maaf yang bertubi-tubi. Ia bilang sebenarnya ia ingat tentang janjinya padaku, tapi saat itu teman sekelasnya sedang meminta bantuannya—dan ternyata teman sekelasnya yang menjadi penganggu itu adalah salah seorang sahabatku. Sungmin bilang setelah selesai meminta bantuan, orang itu tiba-tiba bercerita tentangku. Sungmin juga bilang ia terlalu serius mendengarkan cerita tentangku hingga tidak sadar jika jam istirahat telah selesai. Aku hanya bisa mendengus pasrah. Walaupun Sungmin dan sahabatku itu sama-sama lelaki, tapi sepertinya mereka sangat suka bergosip.

Aku memaafkannya, dan aku tidak sadar baru saja mengulangi kebodohanku sekali lagi. tetapi anehnya, aku tidak menyesali kebodohanku itu. Aku memaafkannya karena aku masih sangat menyukainya, bahkan setelah semua yang terjadi hari ini. Walaupun aku sangat kecewa, dan bahkan sangat ingin memarahi namja pemberi harapan itu, tapi pada akhirnya aku akan memaafkannya, jadi untuk apa aku membuang-buang energiku?

Setelah Sungmin menjelaskan semuanya, ia meminta maaf lagi. saat itu aku ingat aku tersenyum. Seorang Lee Sungmin adalah seorang yang jarang sekali meminta maaf. bahkan mungkin ini pertama kalinya ia meminta maaf sampai sebegininya. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada orang ini? Aku bahkan tidak berani marah padanya. Aku takut. Takut jika aku marah ia akan kembali jauh dariku. Aku tidak mau hal itu terjadi.

Akhirnya Sungmin berjanji akan menepati janjinya pada hari berikutnya saat sepulang sekolah, dan kali ini tetap di perpustakaan. Aku mengiyakannya, dan aku masih tetap menantikan hari itu dengan perasaan yang berdebar. Polos sekali. Wajar saja, aku masih kelas tiga di Sekolah Menengah Pertama.

Saat hari itu tiba, aku ditemani tiga orang sahabatku menunggu Sungmin di perpustakaan. Sebenarnya aku tidak bilang pada ketiga sahabatku itu jika aku sedang menunggu Sungmin. Jika aku bicara jujur, mungkin mereka akan dengan senang hati menyeretku pulang agar tidak usah menunggu Sungmin lagi.

Setelah hampir satu jam menunggu, Sungmin belum juga muncul ditempat itu. Aku mencoba menghubunginya bebeapa kali, tapi nomernya tidak aktif. Mungkin saja kan telah terjadi sesuatu dan Sungmin  tidak bisa menghubungiku. Aku meringis dalam hati, tidak enak pada teman-temanku yang sudah terlihat bosan. Akhirnya dengan berat hati, aku pulang tanpa bertemu Sungmin terlebih dahulu.

Lagi-lagi seperti ini. Lagi-lagi ia tidak datang. Lagi-lagi aku yang dibohongi. Dari hal ini sudah jelas terlihat siapa yang salah. Aku. Karena masih percaya kata-kata seorang pemberi harapan palsu.

Aku sudah tiba dirumahku sejak 2 jam yang lalu, saat itu tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku melihat itu adalah nomer salah seorang sahabatku. Tapi aku sangat terkejut ketika tiba-tiba suara Sungmin yang terdengar diujung sana. Ia bilang tadi ia harus belajar lebih lama diruang guru. Aku memakluminya, ia memang salah satu siswa terpintar disekolahku, dan aku juga tahu kalau ia sedang dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade. Ah, dia nyaris sempurna. Kecuali untuk urusan percintaan.

Suara Sungmin saat itu terdengar lelah, dan putus asa. Sungmin bilang ia sudah 2 jam menungguku diperpustakaan. Aku terkejut! Kukira aku dibohongi lagi, ternyata ia juga menungguku, bahkan lebih lama daripada aku menunggunya tadi. Aku ingin menangis mendengar suaranya. Aku ingin menangis menyesali perbuatanku yang sudah tidak sabar menunggunya. Dan memang akhirnya aku menangis banyak hari itu.

Seperti sebelumnya, akhirnya Sungmin bilang ia akan menepati janjinya minggu depan, di kelasku. Mungkin ia sudah lelah dengan perpustakaan. Tapi kenapa harus minggu depan? Apa karena ia tidak mau teman-temannya tahu jika ia menemuiku?

Dan seperti sebelumnya, hari itu pun ia gagal menepati janjinya. Terlalu sulit untuk bertemu denganku dihari yang sangat sibuk bagi seorang ketua siswa. Akhirnya kami menyerah. Lucu sekali kami tidak pernah bisa bertemu padahal berada dijarak yang berdekatan. Bukan sekali kami gagal bertemu, tapi tiga kali! Mungkin itu juga sebuah pertanda bahwa kami memang tidak bisa bersatu lagi.

Berminggu-minggu setelahnya, aku sudah benar-benar melupakan janji itu, begitupun dengan Sungmin. Pada akhirnya aku tidak tahu bagaimana sebenarnya hubunganku dengannya, karena ia masih saja memperlakukanku seperti kekasihnya, ia bahkan mulai sering mengatakan hal-hal yang romantis, dan tidak jarang ia bilang ia menyukaiku, dan bahkan Sungmin pernah bilang ia menyayangiku.

Walaupun hubungan kami tidak jelas, tapi ini semua sudah cukup membuatku sangat bahagia, aku tidak peduli dengan sebuah status karena kupikir kami akan terus bersama, jadi begini saja tidak jadi masalah. Tentu saja hubungan kami bukanlah hubungan yang sempurna. Miscomunication lah yang paling sering kami alami. Aku yang selalu berusaha tidak pernah menganggap aku kekasih Sungmin, sering membuatnya berpikir jika aku sudah tidak menyukainya, dan begitu juga sebaliknya. Benar-benar pikiran seorang anak kecil.

April, 2009.

Semua berjalan seperti biasa, tidak terasa lima bulan telah berlalu, dan hubunganku dengan Sungmin masih saja tidak jelas. Tidak apa-apa, sungguh! Asalkan dia tetap disisiku aku pasti akan baik-baik saja.

Dua bulan lagi, kami akan segera lulus dari sekolah ini, sangat senang rasanya. Kami berjanji akan tetap saling berhubungan walaupun berbeda sekolah nanti. Lucunya, aku akan masuk ke sekolah yang dekat dengan rumah Sungmin, sementara kebalikannya, Sungmin akan masuk ke sekolah yang dekat dengan rumahku. Sebenarnya aku ingin sekali satu sekolah lagi dengan Sungmin, tetapi anak itu malah memilih sekolah unggulan, tentu saja sulit untuk masuk kesekolah itu.

Kami akan sering mengunjungi satu sama lain, ya begitulah janji kami. Tapi, satu bulan sebelum kami lulus tiba-tiba saja aku mendapat kabar jika Sungmin akan masuk salah satu sekolah unggulan Korea selatan di kota Haenam, di provinsi Jeollanam-do. Aku tahu sekolah itu, salah satu sekolah terbaik di Korean Selatan. Letaknya memang cukup terpencil, dan itulah yang membuat sekolah itu istimewa karena seolah tidak bisa dijamah oleh sembarang orang.

Minuman yang ada ditanganku seketika terlepas, seolah jari-jariku ini tidak mempunyai tenaga bahkan untuk memegang sebotol jus. Hal yang aku takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Sekolah terkutuk itu, akhirnya memanggil Sungmin untuk datang. Dan sialnya, aku sangat mengenal Sungmin, ia pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, ia pasti akan pergi. Saat itu, aku menyangkal semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sekolah terkutuk itu adalah boarding school, bukan hanya tidak akan bisa bertemu dengan Sungmin, bahkan aku juga tidak akan bisa berkomunikasi dengan Sungmin. Aku sedih, dan kecewa. Kecewa karena bahkan Sungmin tidak pernah memberitahuku soal ini, aku malah tahu dari orang lain. Aku merasa memang aku bukan siapa-siapa untuknya.

Aku ingin menghindarinya, tapi tidak bisa. bagaimanapun aku tidak pernah membayangkan diriku tanpa Sungmin. Dalam waktu 1 bulan lagi dia akan berada jauh, dan aku tidak akan bisa melihatnya untuk waktu bertahun-tahun.

Friday, 17th July 2009.

            Hari ini, adalah hari dimana Sungmin akan berangkat. Tadi malam aku tidak bisa tidur, pikiran tentang Sungmin benar-benar membuatku terjaga. Aku tidak akan menangis karena akan berpisah dengan Sungmin, ya, aku sudah bertekad seperti itu. Tapi saat aku sudah mulai memaksakan diri untuk tidur, tiba-tiba handphoneku bergetar, tertera nama Sungmin muncul dilayarnya, ia memberiku sebuah pesan singkat. Di pesan itu ia mengungkapkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya padaku, aku terkejut, aku tidak tahu jika ia juga memikirkan aku seperti aku memikirkannya. Sungmin minta maaf atas semua yang telah ia lakukan padaku, sepertinya ia juga sadar jika ia sering sekali membuatku kecewa.

            Dipesan itu Sungmin bilang dia mencintaku, mencintai katanya! Bahkan aku tidak tahu jika Sungmin punya kosa kata itu. Dia bilang aku harus menunggunya hingga ia kembali, dan ia juga bilang ia akan sering menulis surat untukku. Saat membaca itu semua, aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis bahagia, dan terharu. Aku sangat menyukai Sungmin, Sangat! Aku akan menunggunya…aku berjanji.

            Dan pagi ini, aku terbangun dengan dua buah pesan yang masuk dihandphoneku, dari Sungmin. Pesannya hanya berupa salam perpisahan sebelum ia berangkat, dan ia mengirimimnya hingga dua kali, mungkin karena aku tidak membalas pesannya. Dan, saat aku membalas pesannya tadi, handphone Sungmin sudah tidak aktif, sepertinya ia sudah berada di pesawat.

August, 2009.

            Sudah satu bulan sejak Sungmin pergi, dan ia belum memberikan kabar apapun padaku. Aku memakluminya, ia berada di sebuah boarding school, dengan peraturan super ketat yang melarang siswanya membawa ponsel, bahkan ia tidak bisa keluar sepulang sekolah, ia hanya bisa keluar saat akhir pekan, itupun hanya beberapa jam saja. Benar-benar membuat frustasi.

            Tentu saja berada jauh darinya membuatku sangat khawatir, aku takut ia akan berpaling dariku. Walaupun sikap Sungmin itu sedikit ‘berbeda’ tapi ia lumayan menarik. Dulu saja aku beberapa kali dilabrak oleh senior wanita karena ketahuan berpacaran dengan Sungmin, dan sekarang bisa saja ada anak perempuan yang menyukai Sungmin, atau mungkin….kebalikannya. ya, hal itu tidak mustahil terjadi, kan.

May, 2010.

            Tetapi, ketakutan itu sepertinya harus aku tunjukan pada diriku sendiri. Selama menunggu kabar dari Sungmin tentu saja ada banyak halangan yang aku hadapi. Sungmin memang selalu memberiku kabar, tapi apa kalian tahu? Sungmin hanya memberiku kabar satu bulan sekali! Aku bahkan pernah mendapatkan surat yang baru tiba setelah dua bulan ia kirim. Bukan masalah jarak yang ditempuh, tetapi keadaan Sungmin disana yang tidak memungkinkan. Sungmin bilang ia hanya bisa keluar asrama pada hari minggu, dan asal kalian tahu, kantor pos tutup pada hari minggu! Aku tahu akan sulit berhubungan dengan keadaan yang seperti ini, tapi sungguh, aku tidak pernah membayangkan akan sesulit sekarang.

Sedihnya, selama hampir satu tahun tidak bertemu, jarak aku dan Sungmin menjadi menjauh, benar-benar menjauh. Kami menjadi berbeda. Sepertinya Sungmin kembali menjadi dirinya yang dulu, sangat acuh dan tidak peduli lagi padaku. Tetapi anehnya, ia tidak pernah sekalipun menghapus namaku dari jejaring sosial facebooknya. Sampai akhirpun ia masih menganggap aku sebagai kekasihnya, itu yang membuatku bertambah bingung. Sungmin selalu membuatku bingung! Seandainya saja dulu saat Sungmin masih disini aku memberanikan diri untuk meminta kejelasan, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Menyadari Sungmin yang berada jauh dari pandanganku selalu membuat hatiku sedih.

Akhirnya, kami memang benar-benar tidak berkomunikasi lagi. Sungmin tidak pernah memberiku kabar lagi belakangan ini, dan aku seperti biasa tidak bisa melakukan apapun jika Sungmin sendiri tidak memberi kabar. Bukannya aku tidak mau, tapi sangat sulit. Pernah beberapa waktu lalu ada nomer yang tidak kukenal meneleponku, dan ternyata itu Sungmin, memakai telepon umum yang ada disana, berikutnya, ada nomer lain lagi yang menghubungiku dan ternyata itu juga Sungmin. Dan saat aku ingin menghubunginya balik, bukan Sungmin lah yang kudapati, melainkan selalu orang yang berbeda.

Mungkin karena diriku yang sudah beranjak dewasa, aku tidak selemah dulu saat teringat tentang Sungmin, aku tidak menangis lagi seperti dulu. Aku ingin kuat, dan sebenarnya aku ingin jatuh cinta lagi. ya..salah satu alasannya karena ingin lebih cepat melupakan Sungmin.

July, 2010.

            Tepat setahun aku dan Sungmin berpisah, dan saat itulah tiba-tiba ia datang kembali kehadapanku. Ya, hari ini Sungmin tiba-tiba datang kesekolahku. Aku sangat, sangat, sangat terkejut! Aku tidak tahu dia ada di seoul, kukira Sungmin masih ada di Haenam. Ternyata ia datang bukan untuk menemui aku, tetapi untuk menemui salah seorang sahabatnya—yang juga sahabatku. Mengetahui ia bukan datang untukku benar-benar membuat hatiku kecewa. Seharusnya aku tidak boleh seperti itu, karena saat ini aku sudah mempunyai namjachingu. Jujur saja, selama aku tidak berkomunikasi dengan Sungmin, diam-diam aku masih berharap dia datang tiba-tiba seperti ini.

            Tadinya aku ingin pura-pura tidak melihatnya. Aku ingin mengabaikannya. Tetapi tidak bisa, sahabatku itu melihatku dan buru-buru menarikku agar berkumpul bersama. Padahal saat itu ada namjachingu ku—yang sebenarnya juga salah satu teman baik Sungmin.

            Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Benar-benar kacau. Sebenarnya saat itu aku sangat ingin menangis melihat Sungmin yang duduk santai sambil tersenyum—senyum kesukaanku—kearah teman-temannya. Aku ingin menangis, benar-benar ingin menangis. tapi tidak bisa. setidaknya tidak mungkin dengan suasana yang ramai, dan orang-orang yang ada didekatku, terlebih lagi, ada namjachinguku.

            Ah, hatiku mencelos saat menyadari keadaan yang sangat tidak berpihak padaku dan Sungmin. Seandainya saja Sungmin datang dua minggu lebih cepat, mungkin saat ini aku sudah berlari kearahnya. Sayangnya, dua minggu yang lalu ada seorang namja yang selalu memandangku dengan pandangan memuja. Sementara saat itu aku sudah lelah menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah memandangku. Dan pada hari itu, aku mengingkari janjiku yang akan menunggu Sungmin.

            Malam harinya, Sungmin meneleponku. Aku berusaha dengan keras menahan suaraku agar tidak terdengar terlalu antusias. Mungkin usahaku sangat berhasil, sehingga Sungmin sampai bilang jika aku bersikap dingin hari ini. Dengan perasaan menyesal, aku hanya bisa tertawa palsu dan menyangkal.

Saat ditelepon, tiba-tiba Sungmin mengajakku berkencan. Dan ia bilang ia merindukanku, sepertinya Sungmin belum tahu jika aku sudah punya namjachingu. Ia juga minta maaf karena ia menghilang beberapa waktu yang lalu karena sibuk dengan ujian. Aku ingin menangis mendengar semuanya. sangat ingin mengatakan jika sebenarnya aku sangat, sangat, merindukan Sungmin, dan hari ini aku sangat bahagia dapat bertemu dengannya. Kenapa aku sangat cengeng ya? Semua hal yang berhubungan dengan Sungmin sangat sensitif terhadapku.

Sambil menahan air mataku yang hendak menetes, aku menjelaskan semuanya. Semua hal saat dia tidak ada disini. Termasuk tentang aku sudah mempunyai namjachingu. Saat itu bukan hanya suaraku yang bergetar, tetapi suara Sungmin juga ikut bergetar saat mengatakan ia tidak apa-apa. Setelah mengobrol dengan canggung selama beberapa menit, akhirnya Sungmin menutup teleponnya. Dan saat itu juga tangisanku tidak bisa terbendung lagi. Aku tidak bisa tidur, dan hanya menangis semalam suntuk. Ingin mencari kambing hitam atas semua yang terjadi padaku dan Sungmin, tetapi aku tidak menemukannya. Karena semuanya salahku. Keesokan paginya, mataku bengkak, sangat besar! Hingga aku harus memakai kacamata hitam kesekolah.

November, 2011.

            Saat ini aku sudah berada ditahun terakhir disekolahku. Sekarang semuanya berjalan dengan normal. Hubunganku dengan namjachinguku hanya bertahan selama 15 bulan, aku dengan sangat berat hati memutuskan hubunganku dengan namjachinguku. Alasannya sangat konyol, karena aku belum bisa melupakan Sungmin. Bahkan setelah 3 tahun aku masih tetap tidak bisa menghapus bayangan Sungmin dari benakku. Tapi aku tidak melakukan apapun untuk bisa bersama Sungmin. Semuanya aku biarkan begitu saja, aku memang tidak berharap apa-apa, bagiku bisa mencintai Sungmin dalam diam sudah membuatku cukup bahagia.

            Sungmin tidak berusaha menghubungiku, begitupun denganku, tidak berusaha menghubunginya. Kami benar-benar tidak mengetahui kabar masing-masing. Sampai suatu pagi, aku mendapat kabar jika Sungmin berada di Seoul. Aku senang, tapi tidak senang juga. Karena tidak akan ada bedanya Sungmin berada dimana, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. rasa bersalahku padanya terlalu besar, aku harus membuang wajahku dulu jika ingin bertemu dengannya. Malu dengan semua yang telah aku lakukan kepadanya.

            Tetapi, ternyata Sungmin berada di Seoul itu bukan kabar yang baik. Sungmin ditemukan pingsan dikamar di asramanya dua hari lalu, dan akhirnya ia langsung dibawa kembali ke Seoul untuk berobat. Ternyata Sungmin terkena penyakit TBC tulang. Sebuah penyakit yang cukup mengerikan. Kudengar penyakit itu benar-benar membuat Sungmin kesakitan.

            Aku menyesal karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya. Akupun memutuskan untuk menjenguknya. Dan sialnya, sudah tiga kali aku hendak menemuinya tetapi tidak pernah bisa. ada saja penghalang untukku untuk bertemu dengannya. Padahal aku sangat ingin melihat keadaan Sungmin. Tiga kali gagal bertemu, dan tiga kali juga aku menangis, perasaan sedih, kesal, dan kecewa benar-benar bercampur menjadi satu saat itu. Sepertinya aku memang benar-benar tidak ditakdirkan untuk bersama Sungmin. Bertemu dengannya pun sangat sulit untukku.

            Mendengar Sungmin telah dioperasi hingga dua kali, membuatku semakin cemas. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakannya disetiap ibadahku, dan disela-sela doaku sebelum tidur. Aku hanya berdoa untuk kesembuhannya, hanya itu. Aku tidak tahan mendengar ia mengalami sakit yang sangat. Bahkan kudengar ia menangis. seorang Lee Sungmin menangis? hanya hal-hal yang luar biasa saja yang bisa membuatnya sampai seperti itu.

            Sudah sebulan semenjak kejadian itu, dan kini Sungmin sudah kembali ke Haenam. Semenjak saat itu aku kembali mulai berkomunikasi lagi dengannya. Kami menjadi teman baik seperti dulu. Walaupun jujur saja aku masih berharap Sungmin akan mengetahui perasaanku padanya. Aku sedikit terkejut saat beberapa hari yang lalu aku melihat namaku masih tercantum disalah satu jejaring sosialnya. Kalau dipikir-pikir hubunganku dengan Sungmin memang masih tidak jelas hingga sekarang. tapi, semakin aku memikirkan hal itu malah akan membuatku sedih. Jadi aku menyangkal pikiran-pikiran yang menganggu itu.

Yang terpenting aku masih bisa berkomunikasi dengan Sungmin. Aku senang karena dia baik-baik saja sekarang. Aku kira, cinta monyet yang aku alami 3 tahun lalu akan mudah aku lupakan begitu saja, tetapi ternyata aku salah. Cinta monyet ini sangat mempengaruhi hidupku.

January, 2014.

Kim Min Young menutup sebuah buku harian usang yang berada dipangkuannya. Ia tersenyum tipis sambil menghapus pelan air mata yang daritadi meluncur dipipi mulusnya. Sudah 3 tahun yang lalu sejak terakhir ia memegang buku harian itu, dan tiba-tiba saja hari ini ia memberanikan diri untuk membukanya lagi. sebenarnya, awalnya Min Young hanya ingin mengintip beberapa halaman saja, tetapi akhirnya ia malah membaca satu buku penuh.

Buku itu, buku yang daridulu menjadi temannya untuk mengungkapkan segala keluh kesahnya. Tapi hanya sampai di  Sekolah Menengah Atas saja, karena ia memutuskan untuk mengubur jauh-jauh semua kenangan itu. Ia memutuskan untuk tidak menyentuh buku itu. Sampai hari ini, ia membukanya kembali.

Sebenarnya, alasannya untuk membuka buku harian itu kembali adalah karena tadi sore ia mendengarkan curahan hati dari seorang sahabatnya—Jung Ji Na—tentang laki-laki yang gadis itu cintai. Cerita itu hampir sama dengan ceritanya dimasa lalu, karena itulah Min Young membuka kembali buku harian itu. Hanya sekedar untuk mengenang saja. Karena memang Min Young sudah menggangap kejadian itu hanya sebuah masa lalu.

Min Young masih saja menatap buku harian itu dengan tatapan kosong saat tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan langsung menariknya kembali dari kenangan masa lalunya.

“kau dimana?” tanya orang diseberang tanpa basa-basi. Benar-benar ciri khas seorang Ji Na.

“dirumah, kenapa?”

“aku kesana sekarang.” Ji Na langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Min Young terlebih dahulu.

Min Young hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Padahal ini sudah malam tapi gadis tomboy itu masih saja berkeliaran.

***

Min Young bangun terlambat hari ini. itu semua akibat perbuatan Ji Na yang mengajaknya mengobrol hingga pagi. Dan yang membuatnya bertambah kesal lagi adalah topik yang dibicarakan oleh gadis itu pasti sama. Lee Dong Hae. Ya, hanya namja itu.

Lucu sekali mengingat gadis tomboy itu menangis sambil bercerita tentang bagaimana ia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya 4 tahun yang lalu. Walaupun Ji Na sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan laki-laki lain tetapi gadis itu selalu mengakhiri hubungannya dengan alasan yang sama. belum bisa melupakan seorang Dong Hae, katanya.

Min Young hanya bisa tersenyum kecut setiap kali mendengar cerita itu. Bagaimana bisa ia dan sahabatnya mengalami nasib yang sama? selama 4 tahun Ji Na masih mencintai Dong Hae. Ya, dia lelaki yang baik, pantas saja Ji Na belum bisa melupakannya.

Setelah bersusah payah melepaskan dirinya dari jeratan kasur, Min Young langsung bersiap-siap untuk pergi. Menemui siapa lagi, Ji Na, sang gadis galau.

***

Min Young berdiri sambil berpengangan pada tiang didalam kereta bawah tanah. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah kemana. Didalam keramaian ini dia tetap merasa seorang diri. Ia berharap suatu saat ia akan bertemu dengan Lee Sungmin tanpa disengaja, sepertinya itu terdengar romantis.

Min Young menggeleng lemah, ia buru-buru menghilangkan pikrannya itu. Ya, 6 tahun sudah berlalu, tetapi Min Young masih belum berhasil juga untuk melupakan Sungmin. Padahal dirinya benar-benar sudah lost contact dengan Sungmin, ia bahkan tidak tahu bagaimana sosok Sungmin saat ini. terakhir saat ia bertemu Sungmin hanya saat itu, saat pertama kali namja itu kembali ke Seoul dan mereka bertemu disekolah Min Young.

Tiba-tiba ponselnya berdering, Min Young tersentak kaget sebelum buru-buru mengambil ponsel itu, dilihatnya nama Ji Na tertera dilayar ponselnya.

“Kim Min Young!!!” suara Ji Na terdengar nyaring, tetapi juga sedikit serak. Seperti sedang menangis.

“Ji Na? Kau menangis?” tanya Min Young. Ia sedikit panik saat mendengar suara Ji Na yang seperti itu.

Tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis yang diredam. Kening Min Young berkerut, ada apa sebenarnya?

“Ji Na jawab aku, kau kenapa?” kali ini Min Young bertanya dengan nada mendesak.

Isakan Ji Na masih terdengar samar-samar, “tadi…hiks..aku..menelpon DongHae..” ucap Ji Na terputus-tupus dengan suara yang lemah. Walaupun ucapan Ji Na tidak terdengar jelas, tapi Min Young cukup menangkap ucapan dari gadis itu.

“apa?!” Min Young membulatkan matanya, ia sangat terkejut. Suaranya cukup keras, membuat beberapa orang didalam subway ini menengok kearahnya.

“aku tadi menelpon Donghae!” ucap Ji Na dengan tidak sabaran, tetapi gadis itu masih saja terisak. Lucu sekali.

“kau serius? Lalu?” tanya Min Young masih dengan nada yang serius.

“iya!”

“lalu???”

“lalu?”

“ck, lalu apa? Kau bicara apa?” Min Young berdecak kesal, terkadang jika sedang sedih Ji Na jadi mendadak bodoh.

“aku bilang semua perasaanku. Tentang aku yang masih mencintainya, dan belum bisa melupakannya walaupun sudah 4 tahun berlalu. Aku mengungkapkan semua yang ada dihatiku…” ucap Ji Na panjang lebar.

Entah mengapa, mendengar ucapan Ji Na barusan membuat jantungnya berdegub dengan cepat. Dan tiba-tiba juga ia merasa sesak. Min Young tidak menjawab untuk beberapa saat. Bukan ia yang baru saja menelepon Donghae dan mengungkapkan perasaan, tetapi mengapa ia sangat berdebar?

“Min Young, kau masih disitu?” suara serak Ji Na terdengar lagi.

Min Young mengerjap beberapa kali, “ya…lalu bagaimana kelanjutannya? Maksudku, reaksi Donghae, bagaimana?” tanyanya dengan hati-hati.

Ji Na terdiam beberapa saat, samar-samar terdengar suara Ji Na yang menangis lagi, membuat Min Young mengerutkan keningnya. “setelah mengatakan semuanya, aku langsung mematikan teleponnya.”

Min Young hanya terdiam, menunggu Ji Na untuk melanjutkan ceritanya.

“lalu, tiba-tiba Donghae menghubungiku. Dia bilang ia juga merasakan hal yang sama denganku. Ternyata, selama ini dia juga masih mencintaiku. Dia bahkan belum pernah berpacaran lagi setelah putus denganku…” ucap Ji Na dengan suara yang bergetar, terlalu senang sepertinya, “bagaimana ini? aku harus bagaimana setelah ini?” lanjutnya lagi.

***

Kim Min Young duduk di sendirian di bangku yang berada di sebuah taman. Hari ini ia tidak jadi bertemu dengan Ji Na, mungkin gadis itu sedang sibuk menata hatinya yang mulai ditumbuhi bunga-bunga saat ini. Min Young tersenyum tipis, ia bahagia dengan apa yang dialami oleh Ji Na. Dan jujur saja, Min Young sangat salut dengan keberanian yang dimiliki oleh Ji Na. Selain salut, ia juga iri. Seandainya saja ia punya keberanian seperti Ji Na, mungkin sudah sejak dulu perasaannya lega. Tidak seperti sekarang, selalu ada perasaan yang terasa mengganjal.

Min Young tidak sadar saat air matanya jatuh, dan menetes kepunggung tangannya. Kenapa ia berdebar? Kenapa ia menangis? karena ia iri. Sangat iri. Iri akan keberanian yang Ji Na miliki, iri akan perasaan Ji Na yang terbalas.

Min Young berjalan pelan kearah jalan layang yang berada tidak jauh dari taman itu. Pandangannya lurus kedepan sementara sebelah tangannya mengaduk-aduk isi tasnya, mencari sesuatu.

***

Kim Min Young berdiri sambil bersandar disebuah jalan layang sambil memegang sebuah buku ditangannya. Angin yang berhembus lembut menerpa wajahnya membuat air mata yang sedang mengalir dikedua pipinya terlihat samar.

Min Young menatap buku ditanganya dengar pandangan samar karena air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Buku harian usang yang menyimpan banyak sekali kenangan manis, maupun kenangan pahit dimasa lalunya. Sebentar lagi, ia akan membuang semua kenangan itu.

Min Young lelah. Ia lelah menangis, ia lelah kecewa, ia lelah berharap, ia lelah mencintai seorang diri. Ia ingin menyerah, menyerah bahkan sebelum ia mencoba mengungkapkan perasaanya. Ia sudah membuat keputusan. Dulu ia hanya menyukai Sungmin secara diam-diam, dan sekarang biarlah semuanya berakhir secara diam-diam juga. Tidak perlu ada yang tahu jika dirinya masih mencintai Sungmin, termasuk namja itu sendiri.

Sebelah tangan Min Young yang memegang buku itu terangkat kesisi jalan layang itu. Dibawahnya terlihat lalu lalang orang-orang yang sedang beraktifitas dimalam hari.

“selamat tinggal…Lee Sungmin.” Ucap Min Young lemah. Ia langsung melepaskan genggamannya itu perlahan, membuat buku harian itu terjatuh kebawah, “aku masih mencintaimu…sangat.” ucapnya lagi dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Min Young menatap buku yang melayang itu sambil terus meneteskan air mata. Bukan hal yang mudah untuk melakukan ini. tapi memang keputusannya sudah bulat. Ia tidak boleh terus menjalani kehidupan dengan bayang-bayang Sungmin. Min Young berbalik sebelum melihat buku itu jatuh disuatu tempat. Meninggalkan buku itu ditempat yang ia tidak tahu letaknya akan lebih baik.

***

Lee Sung Min meneguk minumannya beberapa kali. Setelah seharian berada dikampus ia ingin menyegarkan otaknya dulu dengan berjalan-jalan menikmati pemandangan malam kota Seoul. Kota yang sudah lama ia tidak lihat.

Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba saja ada benda yang jatuh diatas kepalanya, “awww…hei siapa yang melakukannya?!” Sungmin menengok kekanan dan kekiri, ia mengira seseorang telah melemparkan sesuatu padanya.

Tapi, saat ia menengok kebawah, ternyata benda yang tadi menimpa kepalanya itu adalah sebuah buku. Dengan kening yang berkerut samar Sung Min memungut buku itu. Dibolak-baliknya buku itu dengan alis yang bertautan. Dilihat sekilaspun Sungmin yakin jika itu adalah sebuah buku harian, tapi buku itu terlihat sudah usang.

Sungmin membuka buku itu, sedikit tertegun saat membaca nama pemilik buku itu, Kim Min Young kelas 2-3. Kerutan dikening Sungmin bertambah jelas setelah membaca nama pemiliknya karena nama itu mengingatkan Sungmin pada seseorang.

Walaupun membaca buku harian milik orang lain itu bukan tindakan yang terpuji, tapi Sungmin sudah tidak bisa mentoleransi rasa penasarannya. Dengan perlahan Sungmin membuka halaman pertama buku itu, membacanya.

END

 

Innocent Namja

Innocent Namja

By: YellowPurple

Cast     : Lee Sung min

              Park Hye Ri

 “aku menyukai dirimu yang selalu tersenyum manis padaku, hanya itu.”

 

Park HyeRi tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang ingin mengembang saat melihat namja favoritnya sudah tiba, dan sedang duduk dengan manis ditempatnya seperti biasa. Dengan hati yang berbunga-bunga, perlahan Hyeri mendekati namja yang sedang menunduk itu, dan ikut menundukan tubuhnya untuk mengintip buku apa yang sedang dibaca oleh Sungmin dari sela-sela tangan namja yang sedang sangat serius itu, sampai-sampai Sungmin tidak menyadari kalau Hyeri sudah berdiri tepat disampingnya.

“selamat pagi Sungmin-ah!” sapa Hyeri sambil tersenyum lebar seperti biasa.

Namja yang dipanggil itu tersenyum simpul saat sebuah aroma cokelat mulai menyeruak, dan tercium sangat manis dihidungnya. Sungmin langsung mengangkat kepalanya, “selamat pagi juga Hyeri-ya,” dia balik menyapa sambil tersenyum ramah—senyum kesukaan Hyeri.

Hyeri tersenyum manis sambil menaruh tasnya dikursi tepat dihadapan Sungmin, lalu ia memutar kursi itu hingga kini ia duduk menghadap kearah Sungmin. Senyum masih saja mengembang diwajahnya, hari ini Hyeri memang sengaja mengubah penampilannya agar terlihat lebih menarik. Rambut hitamnya yang biasanya digerai bebas kini dikuncir kuda, hari ini juga ia memakai bedak tipis, dan juga memakai lipgloss yang tidak terlalu mencolok. Itu semua ia lakukan karena ingin membuat Sungmin terpesona ketika melihatnya.

Hyeri hanya duduk diam sambil terus menghadap kearah Sungmin sambil menunggu reaksi yang akan dikeluarkan oleh namja yang sudah 2 bulan ini menjadi kekasihnya. Tetapi 5 menit berlalu….Sungmin hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa, 10 menit berikutnya….Sungmin malah sudah kembali larut pada buku kekanakan yang ada ditangannya, 10 menit berikutnya….Hyeri sudah menyerah dan melupakan hal itu.

Apapun yang ia lakukan namja itu selalu seperti itu, selalu tidak peka. Hyeri merutuki dirinya sendiri yang berharap Sungmin akan berubah dan bisa lebih peka terhadapnya. Bagaimana mungkin dalam waktu semalam saja Sungmin bisa berubah? Kecuali jika kepalanya terbentur, hal itu baru mungkin terjadi.

Hyeri memutar kembali kursinya sehingga kini ia duduk membelakangi Sungmin, ia mengeluh dalam hati, sudah 2 bulan sejak ia dan Sungmin resmi berpacaran, tapi ia sama sekali tidak pernah berkencan atau semacamnya. Hyeri mendengus pelan sambil menempelkan kepalanya pada meja belajar dihadapannya, ia sudah tidak peduli jika rambutnya acak-acakan atau bedaknya akan luntur, karena percuma saja ia tampil cantik, toh pacarnya juga tidak pernah memperhatikannya.

Tiba-tiba Hyeri teringat pada hari ‘penembakan’ Sungmin padanya, saat itu juga Sungmin bisa menyatakan perasaannya karena dorongan dari sahabat-sahabatnya. Ya, walaupun Hyeri dan Sungmin memang sekelas tapi sebelumnya mereka tidak pernah mengobrol sama sekali. Saat itu sebenarnya Hyeri ingin menolak Sungmin karena predikat Sungmin yang terkenal sangat kutu buku, dan pendiam. Tapi, saat melihat namja itu menyatakan suka pada Hyeri sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah, dengan ekspresi semanis itu, bagaimana mungkin Hyeri mengatakan tidak?

Hyeri mendengus lagi. ia tertipu. Tertipu  oleh senyuman manis dari seorang kutu buku. Dan sekarang sudah sangat terlambat untuk menyadarinya, karena ia sudah tertipu terlalu banyak oleh senyum itu.

***

Lee Sungmin memasukan sesendok ice cream cokelat lagi kedalam mulutnya, walaupun dirinya sedang menikmati ice cream favoritenya itu, tapi matanya sama sekali tidak terlepas dari buku yang berada digenggamannya.

Tepat disebelahnya, Hyeri sedang memakan roti isinya dengan tidak sabaran, bukan karena dia terlalu rakus, tapi karena kesal melihat Sungmin yang malah sibuk dengan buku kekanannya itu daripada menikmati waktu istirahatnya bersama Hyeri.

Hyeri menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong, ia hanya duduk diam sambil menyandarkan kepalanya kebahu kekar Sungmin. Dadanya yang berdebar karena berada dalam jarak sedekat ini sudah tidak dihiraukannya lagi, ia sudah tidak takut lagi jika Sungmin mendengar debaran jantungnya yang bisa saja terdengar karena suasana yang sangat sepi seperti sekarang ini. Tidak apa-apa, justru mungkin Hyeri akan senang jika Sungmin bisa mendengarnya, agar namja itu tahu bagaimana berdebarnya dia hanya karena berada didekat Sungmin.

“kau lapar sekali, ya?” tanya Hyeri ketika melihat Sungmin sedang melahap sepotong roti setelah menghabiskan ice cream cokelat ukuran jumbo.

Sungmin mengangkat kedua alisnya karena sedikit terkejut dengan pertanyaan Hyeri, “Hmm itu karena kau membuatku selalu lapar,” kata Sungmin.

Kening Hyeri berkerut samar, “aku?” tanya Hyeri karena tidak mengerti dengan ucapan Sungmin. Ia mencoba mengira-ngira apa maksud Sungmin itu tapi tetap saja tidak mengerti, dan hey…ucapan Sungmin tadi terdengar sedikit nakal ditelinga Hyeri, membuat semburat merah mulai muncul dikedua pipinya.

“parfume yang kau pakai….membuatku lapar terus,” kata Sungmin dengan tampang polosnya.

Setelah mendengar jawaban Sungmin, hilang sudah bayangan adegan romantis—yang mungkin saja terjadi—yang daritadi melayang-layang dipikiran Hyeri. Ia yang daritadi sedang bersandar dibahu Sungmin langsung mengangkat kepalanya, dan menatap Sungmin dengan tatapan yang seolah mengatakan-apa-kau-mau-mati-huh?

Setelah melemparkan pandangan yang membuat Sungmin menyalakan tanda S.O.S karena kebingungan—dan takut, Hyeri menempelkan kepalanya lagi dibahu Sungmin, lalu menghembuskan napas berat. Sepertinya Sungmin memang sangat menyukai parfume beraroma cokelat yang selalu Hyeri pakai. Hyeri jadi teringat saat Sungmin menyatakan ‘cinta’ 2 bulan yang lalu, namja itu juga bilang ia menyukai Hyeri karena dirinya tercium sangat ‘manis’. Dan sepertinya daripada ‘manis’ Sungmin lebih menatapnya seperti daging berjalan yang beraroma menggoda, sehingga membuat namja itu selalu lapar.

Perlahan senyum mulai mengembang dibibir Hyeri. Walaupun akhirnya aroma manis ini malah membuat Sungmin selalu lapar, tapi tetap saja ada perasaan senang yang ia rasakan. Yaa..setidaknya ada sesuatu dari dirinya yang berpengaruh pada Sungmin.

“aku haus, boleh aku minta minumanmu?” tanya Sungmin sambil menunjuk sekotak jus jeruk yang daritadi berada didepannya.

Hyeri menyodorkan jus jeruk miliknya kepada Sungmin, ia tidak heran jika Sungmin kehausan, bagaimana tidak? Jika makannya sangat lahap seperti orang kelaparan begitu. Hyeri memperhatikan Sungmin yang sedang meminum jus jeruk melalui sedotan yang tadi sudah ia gunakan. Hyeri mengerjap beberapa kali saat menyadari suatu hal. Seketika Hyeri merasakan wajahnya memanas. Lee Sungmin, sedang minum jus melalui sedotan yang sama dengan yang Hyeri gunakan, mereka baru saja melakukan ciuman tidak langsung kan?!

Alis Sungmin terangkat saat menyadari Hyeri sedang menatapnya tanpa berkedip. Dengan cepat namja itu melepaskan sedotan yang daritadi berada dimulutnya, “maaf aku sudah meminum jusmu.” Sungmin menaruh kembali kotak berisi jus jeruk itu ditempatnya semula.

Alis Hyeri bertautan, “tidak apa-apa! Minum saja, minum yang banyak!” ucap Hyeri. Ia mengambil jus itu dan memberikannya lagi pada Sungmin.

Sungmin terlihat kebingungan melihat Hyeri yang sedang menatapnya sambil tersenyum lebar, “tidak apa-apa?” tanya Sungmin ragu.

“tentu saja!” Hyeri menjawab dengan semangat yang berlebihan. ia hampir saja berteriak saat melihat Sungmin mulai meminum jusnya itu lagi.

Hyeri sudah bertekad akan minum dari sedotan itu juga saat Sungmin sudah selesai minum, tapi tiba-tiba terdengar suara yang terdengar seperti suara kotak minuman yang kosong. Ia menatap Sungmin yang sedang meletakan kotak jus itu ditempat sampah dengan mulut yang menganga. Ciuman tidak langsung miliknya kini tergeletak begitu saja ditempat kotor seperti itu?

“kau menghabiskan minumannya?” tanya Hyeri dengan pandangan tidak percaya.

“eh? Tadi kukira kau bilang tidak apa-apa?” Ucap Sungmin dengan tampang polosnya.

Hyeri menarik napas panjang, dan mengeluarkannya dengan perlahan. Tentu saja ini bukan salah Sungmin, karena ia tidak tahu apa yang ada dibenak Hyeri, kan? dan yah..memang hanya Hyeri yang berdebar seperti itu, pikiran Sungmin itu masih sangat suci jadi dia tidak akan menganggap kami baru saja berciuman secara tidak langsung.

Hyeri menoleh kearah Sungmin yang  sudah kembali larut dalam buku ditangannya, namja itu sangat tenang, dan seperti tidak merasakan apa-apa. “Sungmin-ah, apa kau menyukaiku?” tanya Hyeri.

Sungmin ikut menoleh kearah Hyeri yang sedang menatapnya penuh harap, “ke..kenapa kau bertanya begitu?” Sungmin balik bertanya. Hyeri bisa merasakan suara Sungmin yang sedikit bergetar, mungkin karena ia terkejut dengan pertanyaan Hyeri yang sangat tiba-tiba.

“aku hanya penasaran…habis, kau lebih memilih membaca buku itu daripada mengobrol denganku,” Hyeri mengatakannya sambil mempoutkan bibirnya.

Hyeri melihat Sungmin tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit, kini namja itu malah sudah memalingkan kepalanya kearah yang berbeda. Hyeri terkesiap. Reaksi macam apa itu? Kenapa Sungmin malah membuang mukanya?

Hyeri menyentuh kedua pipi Sungmin, dan memutar kembali kepala namja itu agar menghadap kearahnya, Hyeri sedikit terkejut karena melihat wajah Sungmin yang sudah merona merah.

“kenapa tidak jawab pertanyaanku?” Hyeri bertanya lagi dengan kening yang berkerut samar.

Tiba-tiba suara bel berbunyi, membuat Hyeri, dan Sungmin sedikit tersentak karena kaget. Dengan cepat Sungmin bangkit dari tempatnya, sepertinya namja itu mengambil kesempatan ini untuk segera kabur dari Hyeri.

“bel sudah berbunyi, sebaiknya kita cepat kembali kekelas,” Sungmin tersenyum kaku sebelum akhirnya berjalan—dengan cepat sekali!—kembali ke kelas.

Hyeri mendengus pasrah, tidak tahu mengapa Sungmin menghindari pertanyaannya barusan. Jangan-jangan…, tidak! Hyeri menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri sambil berusaha menghilangkan pikiran yang tidak-tidak dari otaknya.

setelah melihat Sungmin yang sudah berjalan cukup jauh dari dirinya, Hyeri memanggil Sungmin dengan suara yang cukup keras, “Sungmin-ah, tunggu aku!” serunya.

Sungmin langsung menghentikan langkahnya, dan menunggu Hyeri untuk menyusulnya seperti yang diminta gadis itu barusan. Sungmin memutar kepalanya, dan tersenyum kearah Hyeri sambil menunggu gadis itu mendekat kepadanya.

***

Lee Sungmin berjalan pelan kembali kekelasnya setelah menghabiskan waktu berjam-jam diruang klub Sains. Ia lelah setelah hampir seharian bercengkerama dengan berbagai rumus dan teori yang bisa membuat orang mual dengan hanya melihatnya. Ia yakin ada asap tebal yang mengepul diatas kepalanya yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata saat ini.

Sungmin membuka pintu kelasnya, ia terkejut ketika melihat Hyeri masih ada didalam kelas tersebut, dan hanya tinggal gadis itu seorang diri. Sungmin mendekati Hyeri yang sedang tidur bersandar pada meja didepannya. Sungmin tersenyum simpul, ia tahu pasti saat ini Hyeri sudah sangat lelah, tetapi gadis itu tetap menunggunya hingga selesai kegiatan klub.

Sungmin memutar kursi yang berada tepat didepan Hyeri agar menghadap kearah gadis yang sedang tertidur itu. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil terus memperhatikan wajah Hyeri. Bahkan saat tertidurpun gadis itu masih terlihat manis dimatanya. Sungmin melirik jam yang melingkar ditangannya, pukul 4 sore. Sebenarnya ia sangat lelah, dan juga lapar, tapi ia tidak tega jika harus membangunkan Hyeri, jadi ia memutuskan untuk menunggu hingga Hyeri terbangun dengan sendirinya.

Setelah setengah jam lebih berlalu, Hyeri mulai bergerak gelisah dan tidak lama gadis itu mulai membuka matanya, Sungmin langsung menegakkan tubuhnya, membiarkan Hyeri melihat dirinya dengan kening yang berkerut untuk beberapa saat.

“eoh? Kau sudah selesai?” kalimat pertama yang Hyeri ucapkan saat ia baru saja bangun.

Sungmin tersenyum sambil mengangguk lemah sebagai jawaban.

Hyeri menegakkan badannya dan langsung melirik jam ditangannya, ia terlihat sangat terkejut saat mengetahui sudah sangat sore sekarang, ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya tertidur selama itu.

“maaf, kau pasti lelah dan bosan sekali ya menungguku.” ucap Sungmin, senyum masih saja tidak lepas dari wajahnya. Tapi dalam hati ia merasakan perasaan tidak enak pada Hyeri. Membuat gadis itu menunggu hingga bosan, dan akhirnya tertidur, pasti sangat tidak menyenangkan.

“kau bicara apa? Tentu saja aku tidak bosan,” Jawab Hyeri sambil tertawa kecil, “kau sudah lama selesai?”

“hmm hampir satu jam lalu.”

Mata Hyeri membulat lagi, “eoh? Kenapa kau tidak membangunkanku?”

“tidak apa-apa, tidurmu nyenyak sekali tadi.” Sungmin tertawa kecil.

Hyeri tersenyum tipis mendengar jawaban Sungmin, ia sangat senang karena hal ini sangat, sangat jarang terjadi. Sepertinya Hyeri harus lebih sering lagi tertidur dikelas agar bisa lebih lama bersama Sungmin, pikirnya.

KRIUUUUUKKKK.

Tiba-tiba saja terdengar suara aneh yang Hyeri yakin berasal dari namja dihadapannya itu. Gadis itu tidak bisa menahan tawanya saat melihat Sungmin yang saat ini wajahnya sudah merona merah.

“kau lapar?” tanya Hyeri sambil tertawa kecil.

Sungmin hanya mengangguk, wajah polos dan kekanakannya membuat Hyeri ingin sekali mencium pipi chubby namjanya itu. Entah kenapa Hyeri lebih tertarik dengan namja imut seperti Sungmin dibandingan namja yang cool, dan terlihat macho diusia yang masih sebaya dengannya. Hyeri langsung menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha menarik dirinya dari pikirannya yang sudah melayang-layang entah kemana, ia kan seorang yeoja jadi tidak boleh terlihat lebih agresif dari Sungmin. Hyeri menghembuskan napas berat, selama satu jam berduaan didalam kelas, dan dengan keadaan Hyeri yang sedang tertidur, tapi Sungmin tidak ada niat melakukan hal apapun, hati dan pikiran namja itu pasti sangat bersih.

“mau mampir makan dulu?” Suara Sungmin menyadarkan Hyeri dari lamunannya.

“hmm aku juga sedikit lapar.” jawab Hyeri sambil menggangguk pelan.

“baiklah…ayo pulang.” ajak Sungmin sambil bangkit dari tempatnya dan mulai berjalan pelan meninggalkan Hyeri yang masih duduk manis dikursinya.

Hyeri mengerutkan keningnya, bukan seperti ini kan seharusnya? Harusnya Sungmin mengulurkan tangannya, dan berjalan bergandengan bersama Hyeri, bukannya malah meninggalkan dirinya seorang diri didalam kelas seperti ini.

Hyeri menghembuskan napas putus asa melihat Sungmin yang sudah berada jauh di depannya. Saat Hyeri mulai beranjak dari tempatnya Sungmin menoleh ke belakang dengan tampang tidak bersalah sama sekali. Namja itu malah tersenyum sambil menunggu Hyeri menyusulnya, seperti biasa.

***

Suara dentingan lonceng terdengar keseluruh sudut toko itu saat Sungmin mendorong pintu kaca dan mulai berjalan masuk kesebuah toko Kue yang berada tidak jauh dari sekolah mereka. Ia dan Sungmin memilih duduk dikursi yang berada disudut agar tidak terlalu terlihat dari luar, dan tidak terlalu sering dilewati oleh orang-orang. Tempat yang cukup nyaman untuk melemaskan otot-ototnya sejenak.

Hyeri duduk sambil mengaduk-aduk pelan jus jeruk dihadapannya, hari ini ia sangat tidak mood melakukan apapun.

“kau kenapa?” tanya Sungmin yang ternyata daritadi memperhatikan yeoja disampingnya.

Hyeri melirik Sungmin sekilas, lalu tersenyum kaku berusaha menutupi dirinya yang saat ini sedang tidak bersemangat.

“hmm? Kau merasa ada yang berbeda denganku hari ini?” Hyeri balik bertanya sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.

Sungmin terdiam sejenak untuk berpikir, “ya, kurasa ada. Hari ini kau tidak banyak tersenyum, tidak seperti biasanya.” jawab Sungmin dengan tampang yang menunjukan kebingungan? Atau cemas? Entahlah. Tapi tidak lama karena namja itu langsung kembali sibuk melahap cake cokelat kesukaannya.

Hyeri tersenyum kecut mendengar jawaban Sungmin. Semua yang ia harapkan memang tidak berjalan dengan baik hari ini, membuat moodnya tidak bagus.

Hyeri terdiam sejenak menunggu kata-kata selanjutnya dari namja disampingnya itu. Tapi nihil. Jika Sungmin merasa hari ini Hyeri tidak banyak tersenyum, seharusnya sebagai pacar yang baik Sungmin bertanya apa penyebabnya, bukan malah diam saja seperti ini, pikir Hyeri.

“Lee Sungmin!” panggil seseorang.

Hyeri dan Sungmin langsung menoleh kearah suara yang memanggil Sungmin tadi. Terlihat seseorang yang melambai dari arah kasir, dan sedang tersenyum kearah mereka berdua. Setelah mendapatkan minumannya, orang itu langsung berjalan kearah Sungmin dan Hyeri.

“Yak! Lee Sungmin, sudah lama kita tidak bertemu, ya?” ucap Namja yang Hyeri tidak tahu namanya itu saat sudah berada tepat dihadapan mereka, Sungmin langsung menyuruh namja itu duduk dikursi kosong di depannya.

“iya. Sejak lulus tidak pernah bertemu lagi.” jawab Sungmin sambil menunjukan senyum ramahnya.

“lama sekali, kan?” ucap namja itu sambil tertawa kecil, “woah ini pacarmu? Manis sekali. Kemajuan pesat ya Sungmin-ah.” goda namja itu sambil menunjuk Hyeri dengan dagunya.

Hyeri tersenyum tipis, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan teman Sungmin, setidaknya yang bukan dari sekolah yang sama.

“oh iya, kenalkan ini Kim Young Woon, temanku saat di SMP. Young Woon-ah, kenalkan Park Hyeri, dia teman sekelasku.” ucap Sungmin sambil menunjuk kearah Hyeri.

“bukan pacarmu ya?” tanya Young Woon lagi.

Sungmin hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.

DEG.

Hyeri terkejut saat mendengar ucapan Sungmin. Ia menatap namja disampingnya itu dengan pandangan tidak percaya. Hatinya serasa mencelos saat melihat bagaimana reaksi Sungmin saat ini. Namja itu bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah mengatakan hal itu. Mengapa seperti itu? kenapa hanya tersenyum? Kenapa tidak dijawab? Kenapa bilang kalau Hyeri teman sekelasnya? Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenak Hyeri saat ini.

Hyeri menundukan kepalanya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. ia kecewa, sangat kecewa. Tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Setelah setengah jam lebih berbincang-bincang, akhirnya Young Woon pamit pergi, meninggalkan Hyeri dan Sungmin yang masih betah untuk berlama-lama di toko kue ini.

“kenapa…” ucap Hyeri terputus. Selama hampir satu jam itu ia memang tidak berbicara sama sekali. Ia hanya diam sambil menunduk menahan air matanya yang hampir saja meleset jatuh dari pelupuk matanya. Hatinya sangat sakit mengetahui dirinya tidak pernah dianggap.

“kenapa…?” tanya Sungmin dengan kening yang berkerut, sedikit bingung dengan ucapan Hyeri yang menggantung.

Hyeri mengangkat kepalanya, membuat Sungmin terkejut saat melihat mata Hyeri yang sudah berkaca-kaca. Namja itu tidak berkata apa-apa karena sepertinya Hyeri masih ingin mengatakan sesuatu.

“kenapa kau tidak mengakui kalau aku itu pacarmu?” tanya Hyeri akhirnya. Gadis itu mengucapkannya dengan kembali menundukan kepalanya.

“eh?” Sungmin mulai terdengar panik.

“kau malu ya punya pacar sepertiku?” tanya Hyeri lagi sambil tersenyum kaku menutupi kesedihannya.

“Bukan begitu. Itu karena menurutku tidak penting. Apakah semua orang harus tahu kalau kita pacaran?”

Hyeri melemaskan bahunya saat mendengar jawaban Sungmin. Pemikiran macam apa itu? Hyeri bangkit dari duduknya, ia menatap Sungmin yang sedang terlihat bingung saat ini. Gadis itu menghembuskan napas berat, “maaf aku pulang duluan ya,” ucap Hyeri lalu pergi meninggalkan Sungmin sendirian di toko kue itu.

Sungmin tidak mengejarnya. Jangankan mengejar, menahannya saja tidak. Namja itu hanya memandangi tubuh Hyeri yang bergerak menjauh dari dirinya.

Setelah melihat Hyeri yang pergi meninggalkannya seperti ini, Sungmin baru sadar kalau ternyata apa yang ia lakukan tadi itu salah. Sungmin mengeluh kepada dirinya sendiri. Ia tidak suka dirinya yang tidak pernah memahami Hyeri.

***

Hyeri menatap ponselnya yang tengah bergetar ringan menandakan ada pesan yang masuk, dilayarnya tertera nama namja yang tadi sore membuatnya hampir menangis didalam bus kota.

Hyeri meraih ponsel itu dan membuka pesan dari Sungmin

“maafkan aku”

Hyeri menatap pesan itu beberapa saat. Hanya sebuah kalimat yang sangat pendek, tapi cukup membuat Hyeri tersenyum tipis dibuatnya.

“untuk apa?” hyeri membalas pesan itu.

“karena aku membuatmu marah tadi sore”

“aku tidak marah. Aku kecewa”

“iya maaf…aku salah menebak lagi”

“begitulah”

“jadi kau mau memaafkanku?” tanya Sungmin.

 “kau tahu penyebab aku kecewa?” Hyeri balik bertanya.

Sudah satu jam berlalu sejak Hyeri mengirim pesannya yang terakhir untuk Sungmin, tapi sampai saat ini juga belum ada balasan sama sekali dari namja itu.

Hyeri menatap ponselnya dengan putus asa, sebenarnya ini bukan pertama kali Sungmin tidak membalas pesan Hyeri, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengabaikan pesannya, kan? Hyeri jadi tidak yakin kalau Sungmin meminta maaf dari hatinya.

Hyeri beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan pelan menuju jendela kamarnya, gadis itu menatap langit malam yang sangat sepi saat ini dengan banyak sekali pertanyaan didalam hatinya. Tiba-tiba pemikiran itu terlintas lagi didalam benaknya. Suatu pemikiran yang sebenarnya ingin ia hilangkan, tetapi pada saat-saat seperti inilah justru pemikiran itu menjadi bayang-bayang yang selalu menghantuinya.

***

Hyeri menyembunyikan wajahnya kedalam lipatan tangannya yang berada diatas meja. Sejak baru datang tadi pagi ia memang terlihat sangat lesu dan tidak seperti biasanya. Pagi ini bahkan ia belum menyapa Sungmin yang duduk tepat 2 kursi dibelakangnya, sangat sulit sebenarnya untuk Hyeri agar tidak berbalik dan menganggu Sungmin yang sedang serius dengan buku kekanakan yang setiap hari namja itu baca, tapi hari ini ia tidak akan melakukan itu, setidaknya sampai Sungmin menyapanya lebih dulu. Mungkin ini memang terdengar kekanakan, tapi memang ini yang selalu diinginkan wanita, kan? Ingin diperhatikan lebih dulu.

Lengan Hyeri disenggol beberapa kali oleh seseorang yang duduk disampingnya, Hyeri mendongak dan mendapati orang itu sedang memandangnya dengan kening berkerut. Hyeri sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh—sahabat sekaligus tetangganya—Chaerin.

Hubungan Hyeri dan Sungmin yang tidak berjalan dengan baik memang bukanlah rahasia lagi, apalagi bagi Chaerin, karena Hyeri memang selalu bercerita apapun tentang Sungmin pada sahabatnya itu.

Dengan wajah yang masih terlihat lesu Hyeri membuka mulutnya yang daritadi tertutup rapat seperti diberi lem perekat. Hyeri yang selalu cerewet dan suka tersenyum jadi lebih pendiam akhir-akhir ini, membuat Chaerin sedikit bingung apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mendengarkan cerita Hyeri tentang apa yang dialaminya kemarin, dan mengungkapkan betapa sedihnya Hyeri saat Sungmin tidak mengenalkannya sebagai pacar namja itu, Chaerin hanya bisa tersenyum canggung.

Chaerin terdiam, dan terlihat sedang berpikir beberapa saat, gadis manis itu melirik Lee Sungmin yang masih saja duduk diam dan tidak seperti ada masalah antara dirinya dan Hyeri.

Chaerin akhirnya menghembuskan napas berat, “lalu mengapa dia terlihat biasa saja?” tanya Chaerin pada Hyeri sambil melirik lagi namja yang menjadi topik pembicaraan mereka itu.

“aku juga tidak tahu..” jawab Hyeri dengan putus asa.

Chaerin memperhatikan Hyeri yang kembali menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia katakan dari beberapa hari ini, dan kali ini ia sudah tidak tahan dan akan mengatakannya pada Hyeri.

“hyeri-ya…sebenarnya belakangan ini ada sebuah gosip yang kurang enak tentang hubunganmu dan Sungmin.” ucap Chaerin hati-hati, gadis itu memperhatikan perubahan air muka Hyeri dari setiap kata yang ia ucapkan.

“ap…apa itu?” tanya Hyeri penasaran. Tapi daripada hal itu, kecemasanlah yang sebenarnya mendominasi.

“kau tahu kan walaupun Sungmin pendiam, tapi dia itu cukup populer? Apalagi dikalangan Hoobae.”

“hmm mmm?” Hyeri bergumam tetapi dengan nada bertanya.

“kudengar ada seorang hoobae yang sangat mengejarnya, dan sudah berkali-kali menembak Sungmin, tapi tidak pernah ada respon. Dan bukan itu saja, ternyata banyak anggota di Klub Sains yang bergabung di klub itu karena Sungmin ketuanya..” jelas Chaerin dengan panjang lebar.

“la…lu?” tanya Hyeri lagi, ia masih belum mengerti apa hubungannya itu semua dengan dirinya.

“jadi, untuk menghindari gadis-gadis itu ia berpacaran denganmu, jika ia punya pacar, gadis-gadis itu pasti tidak akan mengejar-ngejar Sungmin lagi.” Chaerin menjelaskan dengan lebih menggebu-gebu dari sebelumnya, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

“hah?” lagi-lagi Chaerin bertanya, karena baginya semua ini tidak masuk akal.

“aku bukannya bermaksud untuk membuatmu bertambah sedih, dan tentu saja aku juga tidak bilang kalau gosip ini benar, tapi aku mendengar dari sahabat Sungmin sendiri yang sesama anggota klub Sains. Kalau dipiki-pikir memang Sungmin itu sangat manis, dan terlihat cool dengan sikapnya yang pendiam. Dia siswa teladan, dan juga ketua siswa disekolah kita, tidak heran juga kalau dia populer.” Chaerin terus menjelaskan analisa buatannya sendiri kepada Hyeri.

Hyeri hanya terdiam, ia masih mencerna setiap kata yang ia dengar kedalam otaknya. Baginya mendengar semua cerita Chaerin tentang Sungmin tadi membuatnya ingin tertawa. ia tidak pernah menyadari semua itu sampai Chaerin menyadarkannya barusan. Satu-satunya yang membuatnya jatuh cinta pada Sungmin adalah karena sikap namja itu yang selalu manis terhadapnya, ia tidak pernah punya alasan lain, dan tidak pernah memandang Sungmin dari sudut yang lain.

“aku tentu saja berharap itu memang hanya gosip, dan tadinya aku tidak mau mengatakan ini padamu. Tapi, karena mendengar ceritamu tadi membuatku jadi kesal.” Ucap Chaerin, ia merasa tidak enak pada Hyeri.

“intinya, aku memberitahu hal ini supaya kau bisa berjaga-jaga, dan mungkin mencari tahu sendiri tentang kebenarannya.” Lanjut gadis manis itu lagi sambil tersenyum menenangkan Hyeri.

Terlambat. Senyuman manis Chaerin tidak cukup untuk menenangkan hatinya yang sudah terlanjur tidak karuan.

Cerita Chaerin tadi rasanya terus terngiang-ngiang ditelinganya, membuat berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Pertanyaan yang ia juga tidak tahu harus ia tanyakan pada siapa. Ia tidak habis pikir jika gosip itu benar, memangnya Sungmin kira dirinya itu pangeran? Kenapa harus Hyeri yang menjadi pelarian—atau perlindungan, ya?—Sungmin?

Pemikirannya semalam—dan sebenarnya sudah sering terlintas dibenaknya—tersambung dengan cerita yang ia dengar tadi. Sebenarnya, dalam lubuk hatinya dia juga sering berpikir apakah selama ini Sungmin hanya main-main dengannya.

“mau makan siang bersama?”

Terdengar suara seseorang, yang membuat Hyeri sedikit tersentak, dan mau tidak mau harus menarik Hyeri kembali dari lamunannya. Ia menoleh, dan menyadari siapa pemilik suara lembut itu, Sungmin.

Hyeri menoleh kearah lain, berusaha tidak melihat Sungmin—dan senyum manisnya—karena ia masih sebal dengan kejadian kemarin, dan tadi malam.

“aku belum bilang kalau aku memaafkanmu.” Ucap Hyeri.

Sungmin terkejut, dan terlihat sedikit kebingungan, “kau masih marah?”

Hyeri tidak menjawab, ia hanya memandang Sungmin dengan tatapan kalau ia butuh penjelasan karena Sungmin tidak menjawab pesannya tadi malam. Padahal kan ia yang sedang merajuk, tapi sekarang mengapa ia yang harus uring-uringan karena pesannya diabaikan.

Sungmin terlihat bingung, ia menundukan kepalanya, menatap kedua jari telunjuknya yang ia tempelkan, memang begitulah kebiasaan Sungmin jika sedang gugup atau merasa bersalah. Benar-benar masih seperti anak kecil.

“aku memikirkan penyebab kau marah kemarin, tapi hingga tengah malam aku tidak mengetahuinya. Jadi, aku tidak bisa menjawab pesanmu tadi malam karena aku tidak tahu apa jawabannya.” Ucap Sungmin masih sambil menunduk.

Hyeri menyentuh kedua pipi Sungmin, dan perlahan mengangkat wajah namjanya itu. Ia tidak suka jika Sungmin menunduk saat sedang bicara dengannya, ia tidak mau terlihat seperti gadis yang ditakuti oleh pacarnya sendiri.

“kau memikirkan apa penyebab aku marah?” tanya Hyeri dengan kening yang berkerut samar.

“iya. Setelah kau pulang duluan, aku terus memikirkan apa yang salah, tetapi tetap tidak tahu. Kau masih marah?” Sungmin menatap Hyeri dengan puppy eyesnya. Membuat Hyeri menghembuskan napas frustasi, mana mungkin Hyeri bisa marah pada namja semanis ini kan?

Hyeri masih terlihat merengut, tetapi sebenarnya ia sedang tersenyum didalam hati. Rasa sebal tentu saja masih dia rasakan karena Sungmin tidak tahu apa kesalahannya, padahal kalau untuk orang yang peka, pasti akan sangat mudah menemukan kesalahan yang jelas-jelas ia buat. Sungmin seorang ketua siswa, dan juga siswa teladan, menemukan jawaban sesederhana itu saja ia tidak bisa?.

***

Park Hyeri hanya terdiam sambil terus memperhatikan namja disampingnya yang sedang bermesraan dengan berbagai macam laporan-laporan yang sama sekali ia tidak tahu—sebenarnya memang tidak mau tahu—apa gunanya itu. Seperti biasa mereka berdua memang selalu pulang terlambat karena kesibukan Sungmin sebagai ketua siswa. Tapi Hyeri tidak pernah mengeluh, ia malah senang karena ia dapat berlama-lama bersama Sungmin, yah..walaupun akhirnya ia hanya melamun memperhatikan Sungmin yang sedang pusing.

Disaat seperti inilah ia paling sering merenung tentang ucapan Chaerin padanya beberapa hari yang lalu. Dalam lubuk hatinya tentu saja ia tidak ingin percaya, tapi ia sendiri sadar kalau ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk itu, sikap Sungmin sendirilah yang membuatnya jadi tidak yakin.

Tiba-tiba dalam pikirannya muncul gagasan bagaimana cara mengetahui Sungmin memang benar-benar menyukainya atau hanya menjadikannya pelarian—seperti kata Chaerin.

“…..aku memberikan ini dulu pada Sam, kau tunggu disini sebentar ya,” samar-samar ucapan Sungmin kembali menyadarkan Hyeri dari lamunannya. Setelah mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak Hyeri dengar jelas, Sungmin langsung bangkit sambil membawa laporan-laporan itu.

Kening Hyeri berkerut, “kau sudah selesai?” tanyanya.

Sungmin memandang Hyeri dengan alis yang bertautan, “tadi aku sudah bilang padamu, kau tidak dengar, ya?” ucap Sungmin sambil tersenyum simpul, “aku mau keruangan Sam sebentar untuk memberikan ini.” Lanjut Sungmin.

Hyeri meringis, merasa tidak enak karena secara tidak langsung Sungmin mengetahui kalau ia sedang melamun. Dengan senyum yang kaku Hyeri mengangguk mengiyakan ucapan Sungmin, ia memperhatikan namjanya itu berjalan keluar, dan menghilang dibalik pintu.

***

“aku…ingin kita putus.” Ucap Hyeri saat Sungmin sudah kembali ke kelas.

Sungmin yang baru saja kembali dan hendak menjatuhkan dirinya dikursi seketika berdiri kaku, dan tidak bereaksi apa-apa.

Hyeri menggigit bibir bawahnya, dalam hati ia berdoa semoga saja keputusan yang ia buat ini memang tepat. Setelah menimbang-nimbang, dan memikirkannya selama beberapa hari, ia memang sudah memutuskan akan melakukan hal ini. Dan percayalah, ini benar-benar bukan keputusan yang ia ambil dengan senang hati, malah kebalikannya.

“kalau itu maumu, baiklah..” Sungmin berkata dengan wajahnya yang datar.

Hyeri membulatkan matanya, ia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya setelah mendengar jawaban Sungmin. Kata-kata Sungmin itu seperti bergema ditelinga Hyeri, ringan sekali namja itu mengatakannya? Jadi benar semua yang ia dengar itu? Sungmin hanya menjadikannya pelarian?

Jelas sudah semuanya. Pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya kini sudah terjawab dengan satu kata itu. Memang sepertinya sangat mudah bagi Sungmin, memang ia tidak pernah berarti apa-apa bagi namja itu. Hyeri merasakan dadanya sesak, dan ia ingin menangis.

Hyeri menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ia malu. Awalnya ia hanya ingin mengetes Sungmin saja, ia berharap namja itu mengatakan sesuatu yang membuatnya menjadi yakin, dan ia berharap juga Sungmin tidak begitu saja mengiyakan saat ia meminta putus. Tapi ternyata Hyeri telah berharap terlalu banyak pada seorang Sungmin.

Butiran bening itu sudah tidak bisa ditahannya lagi. matanya yang panas, dan dadanya yang sesak membuat tangisan Hyeri terlihat sangat dramatis dimata Sungmin. Namja itu terlihat kebingungan melihat Hyeri yang sedang menangis didepan matanya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sungmin hanya membiarkan Hyeri menangis hingga perasaan gadis itu bisa lega.

Dengan cepat Hyeri menurunkan tangannya, dan menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. Ia mendesah sebal, bukan seperti ini seharusnya. Jika di drama romantis pasti sang kekasih akan memeluknya, membiarkannya menangis didalam pelukan kekasihnya, dan menghapus air matanya, bukannya hanya malah memperhatikan kekasihnya yang sedang menangis tersedu-sedu seperti ini.

***

Sungmin benar-benar tidak mengerti dengan semua rentetan kejadian yang baru saja dilihatnya. Ini pertama kalinya ia berpacaran, dan ia tidak tahu bagaimana pasangan kekasih yang semestinya. Dan sekarang Hyeri sedang menatapnya dengan pandangan seolah-olah ia telah melakukan dosa yang sangat besar hingga tidak pantas diampuni.

Apa yang biasanya orang lain lakukan disaat seperti ini?

“mudah sekali, ya?” ketika ia sedang berpikir tiba-tiba suara Hyeri yang serak mulai terdengar lagi.

Sungmin menatap Hyeri dengan pandangan tidak mengerti dan bertanya, “Hyeri-ya, kau kenapa?”

“kenapa kau mudah sekali ingin putus denganku,” Hyeri mengatakannya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Kening Sungmin berkerut. Baiklah ini semua semakin tidak bisa dimengerti. Ia mengingat-ingat kembali perkataan Hyeri tadi, dan ia dengar dengan jelas kalau gadis itu yang meminta putus, tapi kenapa Hyeri berkata seolah ia yang memutuskannya.

“bukannya tadi kau yang minta putus?” Sungmin bertanya. Ia lebih mudah mengerti soal-soal fisika daripada mengerti jalan pikiran wanita.

Hyeri mendengus kesal, “tadi aku hanya mengetesmu. Bagaimana reaksimu jika aku meminta putus, apakah kau akan menolak, dan mempertahankan aku, tapi ternyata…” ucap Hyeri terputus, “tapi ternyata kau dengan sangat mudah mengiyakan.” lanjutnya.

“dasar Lee Sungmin bodoh!” ucap Hyeri dengan suara yang sedikit tinggi. Gadis itu langsung meraih tasnya dan berjalan dengan cepat menuju pintu, meninggalkan Sungmin yang masih terheran-heran dan kaget seorang diri.

Lagi-lagi Sungmin tidak mengejar Hyeri, ia hanya memandang punggung gadis itu yang bergerak menjauh. Sepertinya ia sudah mulai sedikit mengerti jalan pikiran Hyeri.

***

Hyeri berjalan menuju rumahnya dengan langkah yang sangat gontai. ia sedikit menyesal telah mengatakan Sungmin bodoh. Kalau dipikir-pikir ini sama sekali bukan salah Sungmin, karena Sungmin tidak tahu kalau Hyeri hanya mengetesnya. Tapi bukan itu masalah utamanya. Sungmin yang sangat mudah mengiyakan saat Hyeri meminta putus lah yang membuatnya menjadi sekecewa ini.

Entahlah sebenarnya ia merasa marah, kecewa, atau malu karena Sungmin tidak pernah menganggapnya berharga. Yang ia tahu, ia merasa sedih karena orang yang ia anggap spesial tidak pernah memandangnya seperti ia memandang orang itu.

Setelah tiba dirumahnya, Hyeri buru-buru masuk kekamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Rasa sedih itu masih sangat terasa karena saat ini ia ingin menangis lagi. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, terdengar suara eonninya memberitahukan bahwa ada seorang teman Hyeri yang sedang menunggunya diluar. Alis Hyeri bertemu, ia mengira-ngira siapa temannya yang mengunjungi rumahnya.

Betapa terkejutnya Hyeri saat melihat siapa orang yang sedang menunggunya diluar. Orang itu berdiri membelakangi Hyeri, tapi tentu saja ia sangat mengenal punggung, dan bahu itu. Bahu yang sering sekali menjadi sandaran Hyeri.

“kau..sedang apa?” tanya Hyeri terputus-putus. masih belum bisa percaya sepenuhnya. Ini pertama kalinya Sungmin berkunjung kerumahnya, tentu saja ia terkejut.

Sungmin memutar tubuhnya, wajahnya terlihat sangat cemas, dan juga…emh, bolehkah Hyeri berharap kalau itu wajah yang terlihat frustasi karena baru saja putus cinta? Dilihatnya Sungmin mulai berjalan pelan mendekat. Hyeri hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa.

“Hyeri-ya..” panggil Sungmin.

Hyeri hanya diam sambil memandang Sungmin yang sekarang sudah berada tepat didepannya. Dari jarak sedekat ini raut wajah Sungmin yang cemaspun semakin terlihat jelas. Hyeri tidak pernah melihat Sungmin seperti ini sebelumnya.

“aku minta maaf. aku tidak yakin aku bisa memahamimu sepenuhnya. Aku tahu banyak sekali kesalahanku padamu,” Sungmin berkata dengan wajah yang sedikit menunduk.

Hyeri masih memilih diam saja, ia lelah. Dan sedih.

“tidak seperti orang lain, aku tidak bisa mengerti setiap jalan pikiranmu jika kau tidak memberitahuku. Aku akan senang jika kita bisa berbicara baik-baik, dan bisa saling jujur daripada selalu memberi teka-teki seperti ini,” ucap Sungmin panjang lebar, namja itu terlihat kaku, tetapi Hyeri bisa melihat keseriusan dari matanya.

“kau menyukaiku?” tanya Hyeri tiba-tiba.

Alis Sungmin terangkat, “apa?”

“kau tidak menyukaiku, kan? kau hanya menjadikanku pelarian, atau mungkin perlindungan dari sekian banyak hoobae yang mengejarmu,” ucap Hyeri ketus dengan menekankan kata ‘sekian banyak’.

Baiklah, sepertinya memang Sungmin belum bisa memahami jalan pikiran Hyeri. Sungmin benar-benar tidak mengerti semua arah pembicaraan ini, “apa maksudmu?” Sungmin bertanya lagi.

Hyeri mendengus pasrah, “kau tidak pernah dengar gosip itu?”

Sungmin seperti teringat sesuatu, lalu tersenyum lega, “ah, iya aku pernah mendengarnya.”

Kening Hyeri berkerut samar, kenapa namja itu malah tersenyum?

 “ah, jadi itu benar.” Hyeri tersenyum kecut.

“tidak! Itu hanya salah paham. Teman-temanku salah mengartikan ucapanku.” Ucap Sungmin yang kini mulai terlihat panik kembali karena Hyeri masih terus menatapnya dengan pandangan curiga.

“begini…saat itu teman-temanku berkata ‘jika kau punya pacar, gadis-gadis itu tidak akan mengejarmu lagi’, dan aku menjawab, ‘sebenarnya memang ada gadis yang aku suka’, dan sepertinya mereka salah mengartikannya.” Sungmin berbicara dengan panjang lebar, tidak sadar kalau Hyeri sedang menatapnya dengan intens.

Sepertinya tidak lama Sungmin mulai menyadari tatapan intens Hyeri, karena tiba-tiba saja tubuhnya mencuit dan pipinya merona merah. Hyeri tersenyum didalam hati, ada perasaan menyenangkan yang tiba-tiba timbul dihatinya. Tapi tidak lama, karena ia masih teringat kejadian tadi sore saat disekolah.

“jadi kau menyukaiku?” lagi-lagi Hyeri mengajukan pertanyaan itu. Ia tidak akan menyerah sampai mendapat jawaban yang jelas.

Alis Sungmin bertemu, “kenapa bertanya begitu?”

“habis, kau tidak pernah bilang kau menyukaiku.” Hyeri mengatakannya sambil cemberut, sebal.

“pernah…”

“kapan?”

“waktu itu, saat aku memintamu menjadi pacarku.”

Hyeri menatap Sungmin dengan tatapan tidak percaya. Saat itu tentu saja Sungmin harus mengatakan kalau ia menyukai Hyeri, kan? kalau tidak bagaimana ‘penembakan’ itu bisa berlanjut. Hyeri mendengus pasrah. Pikiran namja didepannya ini memang sangat lurus, dan simpel, jadi dia memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut.

Hyeri menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan, “lalu kenapa kau langsung mengiyakan saat aku minta putus?”

“karena kupikir kau menginginkannya,” jawab Sungmin. “aku tidak mau kau merasa terpaksa berpacaran denganku, jadi aku mengiyakannya.” Lanjutnya.

“kenapa kau bisa berpikir aku terpaksa?” Hyeri bertanya lagi. ia tidak tahu darimana Sungmin mendapat pikiran seperti itu. Seharusnya namja itu bisa melihat Hyeri yang sangat bahagia saat setiap pagi ia menjadi orang pertama kali yang disapa oleh Sungmin.

“karena kau sering terlihat murung saat bersamaku. Aku bahkan membuatmu bosan karena setiap hari harus menungguku hingga sore, aku juga sering salah mengerti dirimu. Kupikir tentu saja aku tidak bisa membuatmu bahagia, jadi kupikir lebih baik kalau aku menuruti keinginanmu” ucap Sungmin panjang lebar.

“berhenti berpikir, dan ikuti saja kata hatimu.” Ucap Hyeri lemah. Ia tidak tahu kalau selama ini Sungmin selalu memikirkannya sampai seperti itu. Bagaimana sekarang? apa yang harus ia lakukan? Sungmin terlalu manis untuk tidak dimaafkan.

“aku sudah kehilangan akal pikiranku saat memutuskan untuk bertahan denganmu, kau tahu itu?” lanjut Hyeri lagi. Ia bahagia, Sangat. Tapi ia tidak mau terlalu banyak berharap. Ia masih terus mencerna setiap kata yang ia dengar.

Sungmin terdiam dan seperti sedang berpikir sejenak. Ia menatap Hyeri dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Tapi sungguh, Hyeri sangat suka wajah Sungmin yang seperti ini. Wajahnya imutnya terlihat sedikit kebingungan, dan ada rona merah yang terpancar di kedua pipi chubbynya.

Perlahan sebuah lengkungan keatas terbentuk dibibir Sungmin. “mulai sekarang aku akan mengikuti kata hatiku.” Ucapnya sambil tersenyum.

Hyeri tersenyum geli melihatnya, Sungmin seperti anak kecil yang menurut setelah diberi nasihat oleh orang tuanya.

Sungmin menyentuh dadanya sendiri dengan sebelah tangannya. Ia menyentuhnya dengan alis yang bertautan, membuat Hyeri terheran-heran apa yang sebenarnya namja itu sedang lakukan. Tiba-tiba Sungmin membentuk huruf ‘O’ dengan mulutnya, lalu namja itu berkata pelan, “baru saja aku mendengar hatiku berkata sesuatu.” Ucapnya dengan tampang kekanakan andalannya.

Alis Hyeri terangkat tinggi, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang ingin sekali mengembang saat ini.

“dan, hatiku bilang aku tidak ingin putus darimu. Bagaimana ini? Aku harus menuruti kata hatiku, kan?” lanjut Sungmin. Namja itu menatap Hyeri dengan pandangan berharap.

Hyeri tertawa pendek, ia bersikap sangat tenang padahal dalam hatinya ia ingin segera berteriak kegirangan. “hmm apa boleh buat.” Jawab Hyeri sambil mengangkat bahunya seolah tidak ada pilihan lain.

Sungmin merengut, bukan seperti itu jawaban yang Sungmin inginkan. Ia ingin Hyeri mengatakannya dengan tegas. Tadi dia sudah bilang kan kalau ia sulit untuk memahami pikiran wanita? Apalagi jika hanya memberi kode dan teka-teki seperti ini.

“ngomong-ngomong Sungmin-ah, kau sudah pernah berciuman?” tanya Hyeri tiba-tiba.

Sungmin terlihat kaget setelah mendengar ucpaan Hyeri, dan kini wajahnya kembali merona merah. Dengan terputus-putus Sungmin menjawab, “be..belum pernah.” Jawabnya sambil malu-malu.

Alis Hyeri terangkat, “benarkah?”

Sungmin sedang mengangguk pelan ketika tiba-tiba Hyeri berjinjit, mendekati wajah Sungmin, lalu menempelkan bibirnya di bibir namja itu. Awalnya Hyeri hanya menempelkannya saja, tapi tidak lama gadis itu menciumnya, benar-benar menciumnya! Namja itu refleks membulatkan matanya, ia benar-benar terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Hyeri sekarang.

Tapi tidak lama Hyeri melepaskan ciumannya, ia menatap Sungmin dengan kening yang berkerut samar, “kau habis makan cokelat?” tanya Hyeri. Ia memang merasakan ada rasa cokelat saat mencium Sungmin tadi.

Sungmin yang masih terlihat shock mengangguk pelan, wajahnya yang biasanya hanya merona kini telah sepenuhnya terlihat merah padam. Sepertinya namja itu tidak percaya apa yang baru saja dialaminya. Perlahan Sungmin membuka mulutnya yang tiba-tiba saja terasa kaku, “iya, aku lapar jadi tadi aku makan cokelat batang. Kau mau? Aku masih punya di—“

Ucapan Sungmin terputus karena Hyeri sudah menciumnya kembali. Kali ini tidak begitu lama juga Hyeri langsung melepaskan ciumannya, ia tersenyum kearah Sungmin yang sedang berdiri membatu. “manis. Bibirmu terasa manis.” Ucap Hyeri sambil menjulurkan lidahnya meledek Sungmin.

Sungmin merasa meleleh saat Hyeri melepaskan ciumannya, dan berkata jika bibirnya manis dengan nada yang sangat lembut. jantung Sungmin berdebar dengan sangat kencang, dan ia merasakan perasaan menyenangkan yang muncul didalam hatinya.

Tiba-tiba Sungmin menundukan badannya, dan mulai menepelkan bibirnya dan bibir Hyeri kembali. Hyeri terkejut untuk beberapa saat, tetapi ia tersenyum dalam ciumannya, dan mulai memejamkan mata. Ia tidak tahu jika Sungmin bisa berbuat seperti ini juga.

Perlahan Sungmin melepaskan ciumannya, ia menatap Hyeri dengan kening yang berkerut samar, “kau…” ucapnya terputus.

“yaa?” Hyeri bertanya dengan penuh harap. Ia yakin setelah ini akan ada kejadian romantis yang akan terjadi.

“kau…tidak ada rasanya.” Lanjut Sungmin dengan tampang tak berdosanya.

Hyeri seperti ditimpa batu diatas kepalanya saat itu juga. Matanya melebar, tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Memangnya Sungmin kira ciuman itu seperti apa? Walaupun dirinya terkejut, tapi ia tetap tidak bisa menutupi rasa gelinya mengingat bagaimana polosnya kekasihnya itu.

Hyeri tertawa ringan, perlahan ia menarik Sungmin hingga namja itu membungkuk, tanpa aba-aba Hyeri langsung mengecup bibir namja itu sekilas, lalu berbisik, “kalau kau tidak suka, aku tidak akan memberikannya lagi.”

Sungmin menautkan alisnya sambil berkata dengan polos, “aku suka, kok.”

Hyeri tidak bisa menahan tawanya saat mendengar jawaban Sungmin yang sangat innocent. Ia tersenyum sambil memandangi namja dengan pipi yang merona merah itu dengan perasaan yang sangat bahagia.

Hyeri berjinjit lagi, lalu mengecup pelan pipi yang sedang merona itu, “untuk hari ini, cukup itu saja.” Ucap Hyeri sambil menjulurkan lidahnya.

END                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Believe In Love 3/3

Believe In Love Part 3/3

By: YellowPurple

Cast     : Cho Kyuhyun

              Lee Ji Hye

 

“Semua berjalan dengan sangat indah saat ini, tetapi mengapa kau malah tidak ada disisiku? Ditinggalkan saat aku baru mulai menyadari sesuatu, apakah ini yang kau rasakan dulu? Cinta yang tak tersampaikan? Ternyata sangat sakit rasanya”

Ji Hye sedang duduk bersebelahan dengan Kyuhyun didalam mobil milik namja itu. Dia hanya duduk diam sambil memandangi bangunan megah dihadapannya dengan tatapan yang menunjukan kebencian yang sangat. Rasanya sangat berat untuk keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung itu. Jangankan masuk kedalamnya, berada di luarnya seperti ini saja sebenarnya ia tidak mau.

Ji Hye melirik lelaki disebelahnya yang ternyata daritadi tengah menatapnya dengan tatapan yang…emh…cemas?

“kau tidak harus melakukan ini jika kau tidak yakin” ucap Kyuhyun dengan alis yang bertautan.

Ji Hye tersenyum kaku, yang langsung ia sesali beberapa detik setelahnya, ia merutuki dirinya sendiri mengapa ia menunjukan senyum itu di depan kyuhyun, namja itu pasti tahu kalau dirinya sedang berpura-pura baik-baik saja sekarang.

“aku cukup yakin” jawab Ji Hye sambil mengubah pandangannya, tidak berani menatap Kyuhyun.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia sangat tidak suka pada Ji Hye yang tidak jujur seperti ini. Tanpa bilangpun Kyuhyun sangat tau kalau Ji Hye sedang tidak nyaman sekarang.

Ji Hye membuka pintu mobil Kyuhyun dengan tangan yang bergetar. Sebenarnya dibanding Kyuhyun, Ji Hye lah orang yang paling tidak mau berada di tempat ini. Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk mengetahui perasaannya pada DongHae. Apakah ia masih seperti dulu, masih menjadi gadis cengeng yang selalu menangisi DongHae, atau ia sudah menjadi wanita kuat yang sudah bisa melupakan namja brengsek itu.

Kyuhyun berdiri disamping Ji Hye sambil tersenyum kearah gadis itu, yang dibalas dengan senyum yang sangat terlihat kalau dipaksakan.

“boleh aku menggenggam tanganmu?” tanya Ji Hye.

Kyuhyun tersenyum lagi, “kau tidak harus meminta ijin untuk itu” jawab Kyuhyun.

Ji Hye tersenyum manis mendengar jawaban Kyuhyun, dirinya langsung meraih tangan Kyuhyun yang sudah terulur kepadanya.

Kyuhyun dan Ji Hye berjalan perlahan memasuki gedung yang daritadi hanya dipandangi itu. Terpampang di hadapan mereka upacara resepsi yang sedang digelar dengan cukup megah, ada ratusan orang di dalam ruangan itu, tapi tidak sulit untuk mencari sosok yang ia tunggu. Kedua pasangan itu sedang berkeliling memberikan salam kepada para tamu undangan yang datang.

Kyuhyun dapat merasakan tangan Ji Hye yang meremas tangannya, sepertinya gadis itu juga tidak sadar apa yang dilakukannya barusan. Mereka berdua berjalan pelan menghampiri kedua pemeran utama diacara ini, DongHae dan istrinya, Jae Kyung.

Ji Hye tersenyum kecut saat melihat namja yang dulu sangat dicintainya itu sedang tersenyum lebar, ia terlihat sangat bahagia atas pernikahannya. Melihat DongHae yang menatap Jae Kyung dengan tatapan penuh cinta dan kebahagiaan membuat Ji Hye berpikir, apakah saling mencintai sebegitu indahnya? Mengapa mereka terlihat sangat bahagia? Apakah cinta memang seindah itu? Ji Hye bertanya-tanya sendiri karena dia sudah benar-benar lupa bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

Kyuhyun menahan napasnya saat ia melihat Ji Hye berlajan menghampiri DongHae dan istrinya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, ia sangat tegang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena begitu banyak kemungkinan yang bisa Ji Hye lakukan jika mengingat Ji Hye yang sangat membenci pasangan pengantin ini.

“selamat atas penikahanmu oppa” ucap Ji Hye sambil menjabat tangan DongHae. Sebenarnya ia jijik dan jengah harus memanggil DongHae dengan kata itu lagi, tapi ia harus melakukannya.

Kyuhyun melongo dan sama sekali tidak mempercayai apa yang ia lihat barusan. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Ji Hye akan tersenyum sambil mengucapkan selamat kepada pasangan itu, ia malah akan lebih percaya kalau Ji Hye menjambak rambut mempelai wanita dihadapannya itu.

Kyuhyun terus memperhatikan mimik wajah gadis yang berdiri disampingnya itu, wajahnya terlihat sangat tenang, tapi ia tidak tahu bagaimana perasan Ji Hye saat ini. Benar-benar tidak bisa ditebak!

“ya, terimakasih kau sudah mau datang” jawab DongHae dengan senyum yang—tentu saja—masih mengembang diwajahnya.

“aku datang bukan untukmu atau istrimu oppa, aku datang untuk diriku sendiri” jawab Ji Hye sambil menunjukan senyum acuh tak acuh, membuat pasangan tersebut sedikit kaget setelah mendengarnya.

Kyuhyun yang tidak terlalu suka dengan suasana yang tercipta sekarang ini buru-buru berdehem untuk mencairkan suasana.

“Hyung! Selamat atas pernikahanmu! Wahhh kau beruntung sekali mempunyai istri secantik ini!” ucap Kyuhyun dengan ekspresi yang sengaja dibuat ceria. Berbeda dengan Ji Hye, sebenarnya Kyuhyun tidak pernah membenci DongHae, hanya saja ia tidak suka jika melihat Ji Hye tersakiti jadi sebisa mungkin ia menghindari segala hal tentang Donghae jika berada di dekat Ji Hye.

—-

Kyuhyun dan Ji Hye sedang melihat langit sore dari tempat favorit mereka, sungai han. Kyuhyun yang sangat suka melihat langit yang berwarna orange-kemerahanpun kini lebih sibuk memperhatikan ekspresi Ji Hye yang tidak bisa dimengertinya. Sepulangnya dari acara pernikahan DongHae tadi siang Ji Hye memang sangat sedikit bicara, ia hanya bicara seperlunya saja, padahal biasanya gadis itu akan sangat cerewet.

“kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun memecah keheningan diantara mereka.

Kyuhyun bertanya tapi sama sekali tidak menatap kearah Ji Hye, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya karena ia tidak mau jika terlihat sedang kecewa sekarang. Sebenarnya penyebab dirinya kecewapun ia juga tidak tahu, ia hanya masih terus memikirkan ekspresi Ji Hye saat mengucapkan selamat kepada DongHae tadi, dan kenapa sekarang gadis itu diam saja. Apakah gadis itu sedang patah hati untuk kedua kalinya? Yang itu artinya membuat Kyuhyun juga merasakan patah hati untuk yang kesekian kalinya karena gadis yang ia cintai ternyata mencintai orang lain.

Untuk beberapa saat tidak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut Ji Hye yang sedang duduk disampingnya. Dari ujung matanya Kyuhyun perlahan melirik gadis itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ji Hye sedang tersenyum, membuat Kyuhyun langsung menoleh dan memfokuskan pandangannya kearah Ji Hye. Ya, ia tidak salah lihat, Ji Hye memang sedang tersenyum, senyum yang sangat manis.

“kau tahu Kyu, aku tidak pernah merasa sebaik ini selama 4 tahun terakhir” ucap Ji Hye sambil terus tersenyum. Berbeda dengan senyumnya tadi siang, kali ini bukan senyum yang dipaksakan lagi, ini senyum yang terlihat sangat tulus sehingga terpancar kebahagiaan dan kelegaan dari diri Ji Hye.

“sebenarnya…alasan aku ingin datang ke acara pernikahan DongHae karena aku ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Apakah aku memang benar-benar sudah tidak mencintainya lagi….” ucap Ji Hye tiba-tiba.

“lalu? Bagaimana?” tanya Kyuhyun.

Demi tuhan. Seandainya Ji Hye tahu bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini, bagaimana tegangnya dia menunggu kata-kata lanjutan dari gadis itu, kata-kata yang akan membuatnya memiliki harapan atau malah akan membuat harapannya melayang jauh dan tidak akan bisa tergapai.

“aku…tidak merasakannya” ucap Ji Hye, “aku tidak merasakan hatiku sakit saat melihat DongHae bergandengan dengan wanita itu, aku juga sudah tidak merasakan benci. Semuanya biasa saja” lanjut Ji Hye.

“aku kira mungkin aku tidak akan sanggup jika mengucapkan selamat kepada DongHae, tapi ternyata itu sangat mudah, sangat ringan, aku tidak merasakan beban apapun” ucap Ji Hye lagi, kali ini dengan senyum yang mulai mengembang.

“dia sudah tidak berpengaruh apa-apa padaku. Aku yakin itu sekarang Kyu!” tambah Ji Hye.

Kyuhyun hanya diam dan mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir mungil Ji Hye, dan betapa bahagianya dia saat mendengar kalimat terakhir gadis itu. Bahagia. Hanya itu yang berhak ia rasakan, ia merasa bahagia karena akhirnya Ji Hye bisa merasa terbebas dari bayang-bayang masa lalunya. Tapi itu bukan berarti Kyuhyun dapat merasa lega, karena tidak ada yang berubah, harapannya untuk membuat Ji Hye percaya lagi pada cinta bisa dibilang nyaris tidak ada, ia masih merasa bersalah jika mengingat kejadian malam itu saat ia membuat Ji Hye menangis. Dan ia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal-hal bodoh lagi seperti dulu.

—-

Ji Hye turun dari bus dengan berlari kecil untuk menghindari hujan yang sedang turun dengan cukup deras.  Setelah menemukan tempat berteduh ia langsung menggeledah tasnya untuk menemukan ponselnya dan segera menekan deretan nomer yang sudah ia hafal. Ia menghimpit ponselnya diantara bahu dan telinganya, sementara kedua tangannya sibuk untuk membereskan kertas-kertas kuliahnya yang terkena air.

“kyuhyunnie, kau ada dimana sekarang?”

“dirumah, kenapa?” Kyuhyun menjawab dari seberang.

“ah kebetulan! Bisa tolong jemput aku? Hujannya deras sekali, aku tidak membawa payung”

“kau dimana sekarang?”

“di halte di depan komplek, cepat ya aku kedinginan” ucap Ji Hye.

“ya, kau tunggu saja disitu”

Setelah menutup telepon dari Ji Hye, Kyuhyun langsung berjalan menuju pintu rumahnya, disambarnya 2 buah payung yang terletak disamping rak sepatu.

Kyuhyun keluar dari rumahnya dan mulai berjalan menerobos hujan yang turun dengan semakin deras. Kyuhyun berjalan pelan sambil memperhatikan setiap tetes air yang mengenai tangannya. Sesekali namja itu mempererat mantelnya karena udara sore itu yang sudah bertambah dingin.

Kyuhyun melihat Ji Hye yang melambai kearahnya dari seberang jalan. Gadis itu terlihat sangat senang melihat Kyuhyun yang datang membawakan payung dan mantel untuknya. Tetapi sebenarnya dibanding Ji Hye, Kyuhyun sendiri lebih senang karena dapat melihat gadis favoritnya itu tersenyum ceria hanya karena hal kecil yang ia lakukan.

Setelah sampai tepat didepan wajah gadis itu, Kyuhyun langsung menyerahkan mantel yang dibawanya dan langsung disambar dengan cepat oleh Ji Hye.

“kau bodoh atau bagaimana? Musim seperti ini malah tidak membawa mantel keluar rumah!” omel Kyuhyun yang melihat Ji Hye sedang menggosok-gosokan kedua tangannya.

“aku kira tidak akan sedingin ini, aku kan sudah memakai lengan panjang” bela Ji Hye sambil menunjukan kaus lengan panjanganya—yang sebenarnya sudah tertutup mantel, tapi ia tetap bersikeras menunjukannya—kepada Kyuhyun.

“tetap saja kau ini bodoh. Aku jadi harus repot-repot menjemputmu seperti ini” cibir Kyuhyun, dan tentu saja namja itu berbohong karena sebenarnya ia tidak merasa repot sama sekali.

Air muka Ji Hye langsung berubah saat mendengar ucapan Kyuhyun, “iya maaf. yasudah lain kali aku berjanji tidak akan merepotkanmu lagi” ucap Ji Hye sambil berniat mulai berjalan pulang dan meninggalkan Kyuhyun sendirian di halte.

“mana mungkin bisa kau tidak merepotkanku” cibir Kyuhyun lagi sambil berjalan menyusul Ji Hye.

Ji Hye hanya mempoutkan bibirnya karena kesal. Awas saja ya, aku akan buktikan kalau aku bisa tanpamu! Ucap Ji Hye dalam hati.

Ji Hye terus saja berjalan cepat menerobos setiap genangan air yang menyebabkan sepatu dan celananya menjadi basah. Gadis itu tidak peduli, toh daritadi memang dia sudah basah, jadi sekalian saja. Seharusnya juga tadi dia tidak perlu minta tolong Kyuhyun untuk menjemputnya, pikir Ji Hye.

Saat sedang menyebrang melewati jalan raya tiba-tiba saja Ji Hye terjungkal kebelakang karena ada seseorang yang menariknya, bahu gadis itu ditarik dengan sangat kuat sehingga tiba-tiba saja dia sudah berpindah posisi menjadi dibelakang orang yang menariknya itu. Payung Ji Hye terjatuh ketanah seiringan dengan dilihatnya orang yang tadi menariknya kini tengah terbaring lemah ditengah jalan dengan darah yang mulai mengalir dikepalanya.

“Kyu….Kyuhh…hyun…” panggil Ji Hye, tetapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.

Selama beberapa saat Ji Hye tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia lihat. Semuanya terjadi begitu cepat! Tadi dia sedang berjalan didepan Kyuhyun dan kini namja itu yang ada didepannya, disana, yang terbaring lemah dengan tubuh penuh darah itu sebenarnya bukan Kyuhyun yang harus mengalaminya, tapi Ji Hye. Seharusnya bukan Kyuhyun yang tertabrak mobil, seharusnya Ji Hye, karena dirinyalah yang menyebrang jalanan dengan tidak hati-hati. Seharusnya Kyuhyun tidak perlu menariknya, ah tidak, seharusnya Ji Hye tidak perlu meminta Kyuhyun untuk menjemputnya. Ji Hye terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa jijik dengan dirinya yang selalu saja merepotkan Kyuhyun.

Tiba-tiba saja gadis itu merasa sangat lemas, ia merasa seolah-olah semua otot-otot dan tenaga yang ada ditubuhnya telah ditarik kembali sehingga ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terduduk dihadapan Kyuhyun yang sudah tidak sadarkan diri. Jangankan untuk berdiri, mengeluarkan suara saja ia tidak mampu.

Ji Hye menyentuh wajah Kyuhyun dengan tangannya yang gemetar, wajah tampan namja itu sudah tidak terlalu jelas terlihat karena air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Gadis itu terus memanggil-manggil Kyuhyun dengan suara yang sama sekali tidak terdengar. Gadis itu merasa sangat lemah, seluruh tubuhnya gemetar karena takut membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada sabahatnya itu. Kyuhyun…bahkan sampai akhir pun Ji Hye masih membuat namja itu repot, pikit Ji Hye.

Pada hari yang hujan turun dengan deras, untuk kesekian kalinya Ji Hye kehilangan orang yang sangat berharga bagi dirinya.

Ji Hye duduk dilorong rumah sakit itu dengan air mata yang terus menetes dipipinya. Gadis itu hanya bisa menangis dan menangis. Tubuhnya yang basah kuyub pun tidak ia pedulikan sama sekali. Yang ada dipikirannya saat ini hanya satu orang saja, Kyuhyun. Bayangan Kyuhyun terhempas ketanah terus terngiang-ngiang didepan matanya. Tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi di hatle bus, saat itu Kyuhyun datang untuknya tapi ia malah kesal pada namja itu karena namja itu bilang Ji Hye membuatnya repot, mengapa Ji Hye harus marah kalau semua yang dikatakan namja itu memang benar. Memang benar Ji Hye selalu merepotkannya, dia selalu ditolong oleh Kyuhyun, dan memang namja itu selalu ada untuknya, saat dirinya membutuhkan seseorang sebagai sandaran Kyuhyunlah orang yang pertama maju dan menyodorkan dirinya sendiri tanpa harus Ji Hye minta.

Tapi, apa yang telah Ji Hye lakukan untuk Kyuhyun? Tidak ada. Bahkan Ji Hye menolak perasaan Kyuhyun yang selalu tulus untuknya hanya karena alasan egois Ji Hye. Alasan yang sangat konyol, tidak percaya pada cinta.

Ji Hye bahkan tidak bisa walaupun hanya untuk berpura-pura membalas perasaan Kyuhyun untuk menyenangkan hati namja itu, padahal ia tahu sangat sering Kyuhyun berpura-pura tersenyum hanya untuk membuat Ji Hye bahagia.

Semua kenangannya dengan namja itu terlintas begitu saja diotaknya, ia seperti melihat sebuah film pendek yang diputar di depan matanya. Semuanya terlihat begitu indah saat ia bersama Kyuhyun, ia tidak perlu menjadi orang lain saat ia bersama Kyuhyun, dan ia selalu bahagia saat bersama namja itu. mengapa ia baru menyadari itu sekarang?

Ji Hye seperti tersambar petir saat dirinya tiba-tiba menyadari sesuatu, lalu menangis lebih keras dari sebelumnya. Kenapa ia baru disadarkan saat Kyuhyun sudah tidak ada didepan matanya? Kenapa ia harus merasakan penyesalan yang amat sangat perih ini? Ya Ji Hye menyadari sesuatu. Ia menyadari kalau selama ini Kyuhyun sudah berhasil membuatnya percaya lagi pada cinta. Dan ia sadar kalau ia mencintai Kyuhyun. Sangat.

—-

Ji Hye membuka gorden dipintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Setiap pagi Ji Hye membayangkan ketika ia membuka gorden, ia akan melihat Kyuhyun yang sedang berdiri menunggunya, atau ia akan selalu menantikan pintunya akan diketuk dengan tidak sabaran seperti yang selalu Kyuhyun lakukan. Tapi itu hanya khayalannya saja, karena itu semua tidak akan terjadi lagi.

Sudah 9 bulan berlalu semenjak kecelakaan itu. Begitu nyonya Cho tahu anaknya kecelakaan, beliau langsung membawa Kyuhyun untuk melakukan operasi dan perawatan di Jerman. Karena Appa Kyuhyun memang menetap dan kerja disana sejak dulu, maka semua anggota keluarga Kyuhyun memutuskan untuk pindah dan menetap kesana juga bersama Tuan Cho. Dan sepertinya mereka semua tidak akan kembali lagi ke korea.

Ji Hye menuruni tangga dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada 9 bulan sebelumnya. Sebenarnya, hikmah dari kecelakaan waktu itu adalah orang tua Ji Hye sudah mulai memperhatikan dirinya lagi. walaupun dulu luka yang didapat Ji Hye tidak terlalu berat, tetapi Ji Hye sempat dirawat dirumah sakit karena mengalami shock yang sangat berat. Semenjak saat itu, entah telah kemasukan roh malaikat atau apalah, sifat egois kedua orang tua Ji Hye mulai memudar.

Saat hari kecelakaan itu, Ji Hye yang terkena shock berat hanya diam sambil terus menangis selama beberapa minggu. Dirinya seperti orang yang kehilangan separuh nyawanya, ketika tidur ia selalu memanggil-manggil nama Kyuhyun, bahkan alam bawah sadarnya pun tahu kalau gadis itu sangat merindukan namja itu. Ia juga selalu menangis dan ketakutan saat hujan turun. Dokter mengatakan kalau selama ini Ji Hye mengalami tekanan batin, dan saat ini gadis itu telah mencapai puncaknya, ya setiap orang memang mempunyai batas, dan inilah batas yang ia punya, ia tidak sanggup lagi. Ji Hye terus menyalahkan dirinya sendiri, dan akhirnya eommanya dan appanya-lah yang telah membuat Ji Hye kembali sadar dan perlahan mulai bisa tenang dan bisa menerima kenyataan bahwa Kyuhyun sudah tidak ada disisinya lagi.

Ji Hye tersenyum kearah eommanya ketika wanita paruh baya itu menyodorkan gelas panjang berisi susu putih kepadanya, ia menggumamkan kata ‘gomawo’ dengan pelan sambil tersenyum manis lagi.

Memang semenjak hari itu kehidupan Ji Hye berbalik 180O, eomma dan appanya walaupun kadang masih terlihat kaku dan canggung tapi mulai sering mengobrol seperti dulu—dulu sekali. Dan sudah tidak pernah lagi terdengar teriakan-teriakan penuh caci maki yang dulu selalu mereka lontarkan satu sama lain. Melihat suasana yang seperti ini membuat Ji Hye teringat kembali pada eonninya—Joo Hyun, ia berharap semoga eonninya disurga bisa melihat keadaannya keluarganya saat ini, hampir sama persis seperti saat Joo Hyun masih ada. Sangat bahagia, sangat harmonis.

Ji Hye mengendarai sendiri mobilnya ke kampus, sebenarnya gadis itu sangat tidak suka menyetir mobil sendirian, tapi apa boleh buat karena sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong untuk menyetir. Ji Hye menghembuskan nafas berat saat melewati hatle bus itu. halte bus yang menjadi saksi bisu bagaimana tubuh laki-laki yang sangat disayanginya terhempas keudara lalu terbanting keras ke aspal yang dingin dan keras itu. Air matanya menetes lagi.

Seperti yang tadi sudah dibilang, kehidupannya memang benar-benar terbalik sekarang. orang tuanya sudah tidak pernah bertengkar lagi seperti dulu, sifatnya yang dulu dingin kini juga sudah mulai mencair sehingga ia mempunyai banyak teman baru, tapi tetap saja Ji Hye merasakan ada yang kurang.

Saat malam tiba Ji Hye pasti duduk bersandar dibalkonnya sambil melihat bintang-bintang yang ada dilangit. Ia akan mencari bintang yang paling terang dan selalu menganggap bintang itu adalah Kyuhyun, bintang yang paling membuat bulan terlihat bersinar.

—-

Seperti biasa setiap pagi Ji Hye membuka gorden dipintu kacanya untuk mendapatkan sinar matahari. Betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya ada seorang namja yang sedang berdiri disana dengan posisi membelakanginya. Dengan cepat Ji Hye menutup gorden itu kembali. ia bertanya-tanya dalam hati siapa yang berada di balkon orang lain jam segini? Apa ia sudah mendapat tetangga baru? Apa itu……Kyuhyun? Ji Hye menelan ludahnya sendiri saat membayangkan jika Kyuhyun yang ada didepan sana.

Ji Hye membuka gorden itu lagi, dan menutupnya kembali dengan cepat. kali ini ia jauh lebih terkejut karena ternyata namja itu sudah berada tepat didepan pintu kacanya. Menghadap kearahnya, menatap matanya, mata itu….mata yang sangat ia kenal. Ji Hye tidak mempercayai apa yang ia lihat. Ia menganggap ini semua hanya bayangannya karena memang sering sekali ia membayangkan jika hal ini terjadi.

Tiba-tiba pintu balkonnya diketuk dengan tidak sabaran. INI BENAR-BENAR TERJADI??!

Dengan ragu-ragu Ji Hye menyingkap lagi gorden itu, dan melihat namja itu masih berdiri disana dengan tampang merengut. Ji Hye hanya diam di tempatnya dengan pandangan masih tidak percaya. Namja itu…benar-benar Kyuhyun. INI BUKAN MIMPI KAN?!

“nanti saja terpesonanya” ucap namja itu ketus.

Ji Hye masih belum mendapat kesadarannya kembali. Dan hanya terus menatap namja itu.

“kau masih belum waras ya? Kudengar kau jadi gila” ucapnya lagi.

“aku merindukanmu” tiba-tiba kalimat itu yang terucap dari mulut Ji Hye, ia tidak menghiraukan ucapan Kyuhyun barusan yang menyebutnya gila. Itu memang kata-kata yang selalu ia siapkan jika suatu saat akan bertemu Kyuhyun lagi.

Kyuhyun terkejut saat mendengar apa yang Ji Hye ucapkan barusan. Perlahan lengkungan keatas terbentuk dibibir namja itu.

“apa itu benar-benar kau?” Ji Hye bertanya, membuat Kyuhyun jadi bingung, tadi kan dia sudah bilang kalau dia merindukan Kyuhyun, tapi dia malah bertanya begitu seolah-olah tidak menyadari siapa yang ada dihapannya sekarang.

“kau benar-benar jadi gila ya?” tanya Kyuhyun lagi dengan tampang yang menunjukan kecemasan.

“bodoh!” tiba-tiba saja Ji Hye memukul kepala Kyuhyun, membuat namja itu tersentak karena terkejut sekaligus kesakitan. “ini semua kan karena kau, Cho Kyuhyun bodoh!” lanjutnya.

“kau kemana saja? Kenapa selama ini tidak pernah menelponku? Tidak pernah mengirim surat? Apa kau benci padaku karena selalu merepotkanmu dan membuatmu mengalami hal itu?!” ucap Ji Hye lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak sedih, ia ingin menangis karena sangat senang.

Kyuhyun hanya tersenyum kepada Ji Hye untuk menjawab pertanyaan beruntun gadis itu. Ji Hye yang melihat itu malah tidak kuat untuk menahan air matanya yang daritadi mendesak untuk menetes. Ji hye langsung menjatuhkan dirinya kepelukan Kyuhyun dan membiarkan dirinya menangis dipelukan namja itu. Senang, rindu, kesal, rasa bersalah, semua menjadi satu saat ini. Ia bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana perasannya saat ini karena terlalu banyak yang ia rasakan.

Setelah adegan menangis yang terjadi selama hampir 1 jam itu, kini Ji Hye dan Kyuhyun duduk diatas kasur Ji Hye. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain dengan pikiran yang sama, mereka bingung harus memulai pembicaran darimana. Bagi mereka 9 bulan tidak bertemu adalah waktu yang sangat lama, maklum saja, mereka memang berteman sejak kecil dan hampir tidak pernah berpisah lama.

“hmm bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun memecah keheningan.

“aku baik-baik saja. Kau sudah baikan kan?” Ji Hye balik bertanya dengan hati-hati. Masih merasa malu dan masih ada rasa bersalah yang ia rasakan pada Kyuhyun.

“tentu saja” Kyuhyun menjawab sambil tertawa ringan, “fasilitas rumah sakit disana sangat bagus, aku sembuh dengan cepat” lanjutnya.

Ji Hye hanya mengangguk-angguk mengerti, tentu saja disana bagus makanya dia dibawa kesana, pikir Ji Hye. “kabar bibi dan paman bagaimana?” tanya gadis itu.

“mereka baik, eomma titip salam untuk orang tuamu”

“syukurlah…ya akan kusampaikan” jawab Ji Hye.

Keheningan kembali tercipta diantara mereka, sebenarnya banyak sekali yang ingin ia bicarakan pada Kyuhyun tapi mengapa rasanya sangat berat jika orangnya berada langsung di depan mata seperti ini.

“anu…hm..aku belum sempat berterimakasih” ucap Ji Hye.

Kyuhyun terlihat bingung, dan mengerutkan keningnya, “berterimakasih untuk apa?”

“tentu saja untuk payung dan mantel yang kau bawakan, untuk telah menarikku hari itu, dan untuk semuanya” suara Ji Hye bertambah pelan saat mengucapkannya, ia terus menunduk. Rasanya ia tidak berani menatap wajah Kyuhyun, malu. Sangat malu.

“hei…telat sekali berterimakasihnya?” ucap Kyuhyun sedikit mencibir.

“siapa suruh kau langsung pergi ke Jerman?!”

Kyuhyun terdiam sejenak, “iya maaf…”

Ji Hye menatap Kyuhyun yang baru saja mengucapkan kata maaf padanya, padahal itu sama sekali bukan salahnya. Kyuhyun masih dalam keadaan koma saat dibawa ke Jerman, dan Ji Hye sendiri sedang dirawat dirumah sakit jadi tentu saja mereka tidak bisa bertemu dan itu bukan salahnya. Ji Hye tersenyum tipis, ia tidak tahu betapa ia mencintai Kyuhyun sampai ia kehilangan Kyuhyun hari itu.

“kau…apakah tidak akan bertanya yang seperti dulu lagi?” tanya Ji Hye dengan tiba-tiba.

Alis Kyuhyun bertemu, “bertanya apa?”

“bertanya apakah aku sudah percaya lagi pada cinta” jawab Ji Hye dengan mengeluarkan semua keberaniannya.

“ah. Sepertinya tidak”

“kenapa?”

“kau kan tidak suka ditanya seperti itu” jawab Kyuhyun masih dengan tampang bingungnya.

“kenapa tidak kau coba tanya lagi?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya, dalam hati ia berpikir sepertinya otak Ji Hye memang sedikit bergeser, kenapa ia tiba-tiba membicakan hal seperti ini, sih? Padahal kan dulu gadis itu sangat tidak suka jika membicaran tentang cinta.

“coba kau tanya lagi” ucap Ji Hye.

Dengan mehanan tawa Kyuhyun bertanya, “apa kau sudah bisa percaya lagi pada cinta?”

“ya!” jawab Ji Hye tegas.

Kyuhyun terkejut mendengar jawaban Ji Hye. Apakah yang dikatakan gadis itu benar? Siapa laki-laki yang akhirnya bisa menggerakan hati Ji Hye? Pikir Kyuhyun.

“benarkah?” tanya Kyuhyun, “mengejutkan sekali” lanjutnya sambil tersenyum kaku.

“ya..aku sendiri juga terkejut” Ji Hye tersenyum.

Kyuhyun balas tersenyum pada Ji Hye, disatu sisi ia senang, tapi disisi lain juga ia sedih mengingat hanya dalam waktu 9 bulan ada pria yang bisa menggetarkan hatinya, sementara ia? Bertahun-tahun! Tapi tidak bisa sama sekali membuat gadis itu menyukainya juga, bahkan memandangnya sebagai laki-lakipun tidak. Kyuhyun tahu Ji Hye hanya menganggapnya sebagai sahabat.

“kau tidak tanya siapa orangnya?” ucap Ji Hye.

“tidak” jawab Kyuhyun singkat, sangat singkat malah.

“kau harus tanyaaa….”

Kyuhyun menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.

“siapa orang yang sudah membuatmu percaya lagi pada cinta?” tanya Kyuhyun dengan kalimat yang cukup panjang, biar Ji Hye puas, pikirnya.

Ji Hye menahan tawanya, “baiklah akan kuberitahu” jawab Ji Hye dengan senyum yang terus mengembang, membuat Kyuhyun yang melihatnya sedikit mencibir.

“tapi sebelum aku beritahu, Apakah kau benar-benar tidak mau bertanya hal-hal yang seperti dulu lagi?” Ji Hye bertanya pada Kyuhyun dengan alis yang berkerut.

“bertanya apa lagi?”

“bertanya apakah aku berdebar saat sedang bersamamu seperti ini”

“ahh~ tentu saja tidak”

Ji Hye mempoutkan bibirnya, “kenapa tidak?”

“karena jawabanmu tentu saja kau tidak berdebar kan? Dan kau kan sudah punya orang yang kau sukai, jadi untuk apa aku bertanya lagi”

Ji Hye menatap Kyuhyun dengan kesal, ia kira Kyuhyun adalah makhluk paling peka dan mengerti dirinya, tetapi ia salah. Kenapa Kyuhyun tidak bisa melihat kalau orang yang Ji Hye cintai itu sebenarnya dirinya.

“tidak..jawabanku bukan itu!” ucap Ji Hye sambil mendengus kesal, “Aku berdebar saat sedang bersamamu seperti ini, sangat berdebar malah” ucap Ji Hye dengan semburat merah yang mulai terlihat dipipinya.

Kyuhyun merasa ia salah dengar untuk beberapa saat, tapi dalam hatinya diam-diam ia berdoa agar yang diucapkan Ji Hye itu sungguh-sungguh. Kyuhyun tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Apakah yang Ji Hye rasakan itu hanya debaran karena sudah sangat lama tidak bertemu?

“kau suka padaku ya? Hahaha” goda Kyuhyun. Dasar laki-laki bodoh, tidak tahu harus bereaksi seperti apa malah bereaksi seperti itu, umpatnya pada diri sendiri.

“iya” jawab Ji Hye singkat. Ia berusaha tegas tapi sebenarnya ia sangat gugup, bahkan suaranyapun bergetar saat mengatakannya.

Mata Kyuhyun melebar saat mendengar jawaban Ji Hye tadi. Kali ini ia sangat yakin kalau Ji Hye benar-benar mengalami pergeserean otak.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat, “Ji Hye-ya..tolong tidak perlu merasa bersalah seperti itu padaku. Aku sudah pernah bilang kan kalau menjadi orang yang kau sayangi saja sudah cukup bagiku…kau tidak perlu memaksakan dirimu seperti ini. Apa aku terlihat sangat menyedihkan sampai kau harus berpura-pura begitu?” ucap Kyuhyun sambil memegang pelan kedua pundak Ji Hye. Matanya menyorotkan rasa sedih yang amat dalam, tetapi namja itu tetap tersenyum.

Bagaimana ini? Kenapa dia sangat baik? Aku jadi tambah menyukainya, ucap Ji Hye dalam hati.

Ji Hye tersenyum tipis, ia tahu pasti Kyuhyun akan berpikir seperti itu.

“tidak Kyuhyunnie…aku tidak sedang menghiburmu. Aku sadar aku sangat terlambat, dan mungkin perasaanmu padaku sudah tidak seperti dulu lagi. kau tahu.. dengan semua gadis-gadis cantik di Jerman, aku yakin mereka semua seksi, kau suka gadis yang seksi kan?” Ji Hye tertawa, tapi tidak dengan Kyuhyun, namja itu terlalu tegang saat ini.

“semenjak kau berkorban demi aku hari itu, semenjak kau pergi meninggalkan aku sendirian, semenjak kau tidak ada lagi disisiku, aku mulai menyadari kalau selama ini aku mencintaimu…” ucap Ji Hye.

“saat kau menolongku, aku bisa merasakan ketulusanmu padaku. Dan membuatku berpikir, apa yang telah aku berikan untukmu? Tidak ada. Selama kita bersahabat kau sudah sangat banyak membantuku, tapi aku? Tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu. Aku merasa sangat egois Kyu…”

Kyuhyun hendak mengatakan sesuatu tapi Ji Hye buru-buru memotongnya karena ia tahu apa yang akan dikatakan namja itu, “ini bukan perasaan bersalah, atau terimakasih. Aku yakin itu” ucap Ji Hye lagi.

Kyuhyun terus saja terdiam sambil memandangi Ji Hye dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, apakah dia terkejut? Bingung? Kasihan? Apa malah menganggap Ji Hye masih tidak waras? Entahlah.

“kumohon Kyu…jangan ragukan perasaanku, kau tahu kan rasanya diragukan?” ucap Ji Hye lagi karena daritadi Kyuhyun hanya diam.

Kyuhyun masih terus mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ji Hye. Dia tidak mau munafik dengan mengatakan kalau dirinya tidak senang, karena kenyataannya dia luar biasa senang.

“kali ini, aku yang akan bertanya padamu, apakah kau masih mau menjadi orang yang akan selalu kurepotkan?” tanya Ji Hye.

“kau tidak perlu bertanya, aku akan selalu siap jika kau membutuhkan aku” jawab Kyuhyun sambil tersenyum.

“kau masih punya hutang padaku, ingat?” ujar Ji Hye.

“haish..kau ini, iya aku masih ingat” jawab Kyuhyun sambil mencibir.

“boleh aku minta bayarannya sekarang?”

“iyaa silahkan”

“aku sudah pernah bilang kan kau harus bayar mahal”

“iyaa aku ingat itu. Memang kau minta apa?” cibir Kyuhyun lagi.

“aku minta kau untuk jadi pacarku” jawab Ji Hye pelan.

Kyuhyun yang daritadi sedang melihat pemandangan diluar balkon dari kamar Ji Hye langsung menoleh kearah gadis itu. Ia menatap Ji Hye dengan matanya yang melotot hingga seperti mau melompat keluar. Perlahan semburat merah muncul dipipinya, membuat Kyuhyun 200 kali lipat lebih mempesona dari biasanya. Ia terkejut. Tentu saja itu yang ia rasakan, tapi juga rasa senang yang rasanya sampai keubun-ubun. Kata-kata yang bahkan tidak pernah berani ia ucapkan, sesuatu yang ia tidak pernah berani ia bayangkan, kini benar-benar terjadi, dan ternyata rasanya sangat indah.

Ji Hye tertawa melihat ekspesi Kyuhyun. Ia tidak pernah tahu kalau ternyata namja playboy itu bisa merasakan gugup juga.

Perlahan Kyuhyun memperkecil jarak antara dirinya dan Ji Hye. Dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan itu ia berbisik kepada Ji Hye, “kau tidak perlu mintapun, pasti akan kuberikan”

END

 

Believe In Love 2/3

Believe in Love Part 2/3

By: YellowPurple

Cast     : Cho Kyuhyun

              Lee Ji Hye

 

Kyuhyun sedang duduk berhadapan dengan yeoja yang sejak kemarin, ah tidak, selama 20 tahun ini selalu memenuhi pikirannya, Ji Hye. Sudah hampir setengah jam mereka berdua duduk di cafe ini tanpa berbicara sedikitpun. Mereka hanya saling menatap sambil tetap terdiam. Entah mengapa Kyuhyun melakukan ini, padahal dalam hatinya banyak sekali hal-hal yang ingin ia ucapkan pada Ji Hye. Tapi melihat Ji Hye yang hanya tediam sambil memandangnya seperti ini membuat Kyuhyun sedikit takut kalau ternyata Ji Hye sedang marah padanya.

“kau bilang…ingin bicara padaku?” ucap Kyuhyun memecah kesunyian diantara mereka. ia sangat tidak tahan dengan suasana yang dingin seperti tadi, apalagi ia sedang bersama Ji Hye jadi tidak semestinya mereka saling terdiam seperti ini.

Ji Hye tidak menjawab. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan pandangan yang seolah datar dan tidak peduli, padahal saat ini kegelisahan sedang menyelimuti hatinya.

Kyuhyun mendecak frustasi, ia tidak mengerti dengan Ji Hye sekarang ini. Mengapa Ji Hye yang tadi pagi dan Ji Hye yang sekarang sangat berbeda? Tadi pagi gadis itu bersikap seperti biasa dan seolah tidak terjadi apa-apa, tapi sekarang gadis itu bersikap seolah ia marah besar pada Kyuhyun.

“kau marah padaku?” tanya Kyuhyun.

Kening Ji Hye berkerut, “aniyo..” jawabnya dengan tampang yang seolah mengatakan-kenapa-aku-harus-marah?

Alis kyuhyun bertemu, sekarang ia benar-benar bingung dengan gadis itu. “kalau kau tidak marah kenapa kau diam saja?” tanya Kyuhyun lagi, kali ini ia tidak bisa menyembunyikan rasa frustasinya karena nadanya sedikit meninggi.

“aku tidak diam saja, aku sedang memikirkan kata-katamu semalam…apakah itu serius?” ucap Ji Hye sambil melihat Kyuhyun yang air mukanya tiba-tiba berubah menjadi merah padam.

Kyuhyun terdiam sejenak, dalam hati ia mengeluh bagaimana lagi agar yeoja itu bisa percaya padanya? Ia tidak mungkin berbohong pada gadis itu jika menyangkut hal seperti ini.

“aku tahu ini semua sangat konyol dan terdengar tidak mungkin, tapi aku tidak berbohong padamu, aku benar-benar menyukaimu” ucap Kyuhyun, “bagaimana caranya agar kau percaya Ji Hye-ya?” lanjutnya mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.

Ji hye seperti sedang berpikir, “tidak ada” jawabnya, “karena aku selalu percaya padamu” lanjut Ji Hye sambil tersenyum tipis, membuat namja di hadapannya itu membulatkan mata, sepertinya Kyuhyun tidak menduga kalau jawaban Ji Hye akan seperti itu.

“aku percaya padamu jadi…” ji Hye menggantung kalimatnya, ia berpikir sejenak kemudian melanjutkan, “bisakah kau membuatku percaya lagi pada cinta?” tanya Ji Hye dengan senyum yang dipaksakan, dan Kyuhyun bisa menyadari itu, membuat hati Kyuhyun sedikit terluka.

“kalau begitu…boleh aku menjadi namjachingu-mu?” ucap Kyuhyun pelan tetapi Ji Hye bisa melihat keyakinan dari mata Kyuhyun.

Ji Hye membulatkan matanya, ia terkejut dengan ucapan Kyuhyun barusan. Ia kan tidak bilang kalau ia juga menyukai namja itu, pikir Ji Hye.

“apakah harus?” tanya gadis itu dengan sebelah alis yang terangkat, sedikit ragu keputusan apa yang harus ia ambil sekarang.

Kyuhyun mengangguk pelan, “iya. Kalau kau ingin percaya lagi pada cinta setidaknya kau harus punya seseorang yang kau anggap spesial” ucap Kyuhyun

Kening Ji Hye berkerut, “begitukah?”

Kyuhyun mengangkat bahunya, “apakah selama ini kau punya seseorang yang kau anggap spesial?” tanya Kyuhyun.

Ji Hye berpikir sejenak, ia tidak yakin apakah selama ini ia mempunyai orang yang ia anggap spesial. Karena selama ini ia tidak pernah begitu tertarik dengan jalan hidupnya sendiri.

Ji Hye hanya menggeleng sebagai jawaban.

“kalau begitu mulai sekarang bolehkah aku yang menjadi orang spesial itu?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Ji Hye tertawa, ia tidak tahu mengapa Kyuhyun berubah menjadi seperti sekarang ini tapi melihatnya seperti itu sangat lucu. Kyuhyun, sahabatnya yang selalu berdebat dengannya bahkan jika hanya karena masalah-masalah kecil kini sedang mengajukan pertanyaan yang sangat terasa asing ditelinganya.

Dengan senyum yang masih mengembang Ji Hye meninju pelan bahu Kyuhyun, “tidak perlu seperti itu, kau memang selalu ku anggap spesial” ucap Ji Hye.

Perlahan seulas senyum terukir di wajah tampan Kyuhyun, sebenarnya dalam hati ia sedikit kecewa karena Ji Hye tidak bersedia menjadi kekasihnya, tapi disisi lain juga terdapat kelegaan karena setidaknya ia tahu kalau dirinya spesial dimata Ji Hye.

—-

Kyuhyun menatap gadis disebelahnya dengan pandangan memuja. Gadis itu bukanlah gadis yang luar biasa cantik atau menawan, dia hanya gadis biasa. Tapi gadis itu selalu terlihat sangat mempesona dimata Kyuhyun. Raut muka gadis yang sedang menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya itu sangat damai, membuat Kyuhyun yang melihatnya menjadi ikut merasa nyaman.

Perlahan gadis itu membuka matanya, membuat Kyuhyun buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain. Walaupun ia sudah mengakui perasaannya pada gadis itu tapi rasanya akan sangat malu jika ia tertangkap sedang menatap Ji Hye dengan pandangan seperti itu.

“kenapa kau membawaku kesini?” tanya Ji Hye memecah keheningan diantara mereka.

“hm? Mmm aku ingin mengajakmu melihat langit malam” jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis.

“kenapa harus di gunung?” sebelah alis Ji Hye terangkat, “disini sangat dingiiin” lanjutnya.

Kyuhyun melepas mantel yang ia pakai dan menyampirkannya ke bahu Ji Hye yang sedang duduk disampingnya. Ji Hye sedikit kaget dan berusaha menolak tapi Kyuhyun tetap bersikeras.

Sekarang Ji Hye merasa sedikit tidak enak pada Kyuhyun, padahal ia tidak bermaksud seperti ini. Kenapa Kyuhyun sangat perasa? Batinnya.

“karena dari sini langit terlihat lebih indah, bodoh.” Jawab Kyuhyun santai, membuat Ji Hye mencibirnya karena di akhir kalimatnya sempat-sempatnya ia mengejek Ji Hye.

Ji Hye mendelik kearah Kyuhyun, dalam hatinya ia menyesal karena telah menganggap Kyuhyun berubah menjadi namja yang lembut, ternyata sifat evilnya itu tidak berubah sama sekali.

“kau tahu? Menurutku manusia itu seperti bulan” ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Ji Hye berpikir sejenak, tidak mengerti. Mengapa akhir-akhir ini Kyuhyun sedikit berubah? Kenapa tiba-tiba ia membicarakan hal-hal seperti ini? Batin Ji Hye.

“kenapa bisa begitu?” tanya Ji Hye akhirnya.

“hmmm kau tahu kan bulan itu tidak bisa bersinar tanpa pantulan cahaya dari bintang yang ada disekitarnya, manusia juga seperti itu. Seseorang tidak akan bisa bersinar tanpa orang-orang yang ada disekitarnya” ucap Kyuhyun sambil memandang bintang yang bertaburan dilangit.

“kita… dan bahkan semua orang…tidak akan bisa hidup sendirian. Kau pasti membutuhkan orang lain yang bisa membuatmu bersinar” ucap Kyuhyun lagi, kali ini sambil menatap Ji Hye yang daritadi sedang menatapnya.

Kyuhyun tidak bisa menyangkal perasaan gugup dan berdebar yang ia rasakan setiap kali Ji Hye menatapnya, dan ia tidak mengerti apa arti dari tatapan Ji Hye saat ini. Ia harap pandangan gadis itu terhadapnya berubah, ia berharap Ji Hye tidak memandangnya seperti anak laki-laki ingusan yang sudah menjadi sahabatnya selama 20 tahun, tapi ia ingin Ji Hye memandangnya sebagai seorang laki-laki dewasa yang akan terus ada disampingnya, sampai kapanpun.

Kyuhyun berdehem, untung saja penerangan ditempat itu tidak begitu bagus sehingga ia tidak perlu menutupi wajahnya yang pasti sudah memerah sekarang. namja itu mengalihkan pandangannya dari Ji Hye ke langit malam, lebih memilih menatap bulan yang bersinar dengan anggunnya daripada harus tertangkap basah sedang memandangi Ji Hye.

“kau, aku, tidak akan bisa hidup sendiri. Kita semua membutuhkan orang lain untuk bisa terlihat dan bersinar…” ucap Kyuhyun terpotong. “Ji Hye-ya, kau ini tidak sendirian. Cobalah lebih peduli dengan orang-orang disekelilingmu, dengan begitu kau juga akan bersinar” lanjut Kyuhyun.

Ji Hye mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun ke arah langit malam. Ji Hye termenung sembari memikirkan kata-kata Kyuhyun barusan. Apakah selama ini ia yang tidak peduli pada semua orang, atau semua orang yang tidak pernah peduli padanya? Jika Kyuhyun bilang semua orang membutuhkan orang lain tapi mengapa selama ini ia bisa tanpa orang lain?

Ji Hye memejamkan matanya yang sudah memanas. Kata-kata Kyuhyun terasa sangat menohok di hati Ji Hye. ia seperti diberi tamparan keras yang menyadarkannya kalau selama ini ia hanyalah bulan yang redup dan tidak pernah terlihat.

Ji Hye tersenyum kecut, ia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara menganggap hidupnya baik-baik saja tanpa orang lain. Gadis itu menoleh pada Kyuhyun yang sedari tadi asyik memperhatikan langit malam. Ji Hye tahu kalau sahabatnya itu memang sangat menyukai bintang, aneh bukan untuk seorang namja?

“lalu…kenapa kau menyukai orang yang redup seperti aku?” tanya Ji Hye memecahkan keheningan yang tercipta beberapa saat tadi.

Kyuhyun tersenyum, “aku tidak akan membiarkanmu redup, karena aku akan terus menjadi bintang yang akan selalu memberikan cahayanya untukmu” ucap kyuhyun. “kau tidak sadar ya? Aku sudah menjadi bintangmu selama 20 tahun ini!” lanjutnya dengan kening yang berkerut karena sebal.

Ji Hye memandang Kyuhyun dengan mulut yang menganga, “kata-katamu menggelikan sekali sih” ucap Ji Hye sambil tertawa. Ia tidak menyangka kalau namja seperti Kyuhyun bisa mengucapkan kata-kata yang seperti itu.

Kyuhyun ikut tertawa, “yaaa memang begitulah kalau orang sedang jatuh cinta. Kau akan lebih sering mendengar kata-kata yang menggelikan dariku nanti”

DEG

Ji Hye mengulangi ucapan Kyuhyun barusan di dalam hatinya. Kyuhyun bilang jatuh cinta? Apakah Kyuhyun benar-benar jatuh cinta padanya? Batin Ji Hye.

Tiba-tiba Ji Hye bisa merasakan jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasa. Kata-kata yang ia anggap menggelikan tadi justru membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Sudah lama sekali sejak Ji Hye merasakan perasaan ini, perasaan hangat yang menyelimuti hatinya.

Kyuhyun, seseorang yang sudah berada disampingnya sejak 20 tahun lalu adalah orang yang memang selalu membuat dirinya merasa nyaman, jadi Ji Hye yakin kalau perasaan hangat ini karena ia berada disisi sahabatnya, ya hanya itu.

—-

“apa kau merasakannya?” tanya Kyuhyun.

Ji Hye memandang Kyuhyun yang ada dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. ia tidak habis pikir mengapa namja itu bisa melakukan hal konyol seperti ini. Bagaimana tidak konyol? Kyuhyun menyuruh Ji Hye untuk mendengarkan detak jantungnya yang—menurut Kyuhyun—berdetak dengan sangat cepat jika ia sedang bersama Ji Hye.

Tawa gadis itu meledak saat Kyuhyun mengatakannya tadi pagi. Menurutnya Kyuhyun sangat kekanakan. Namja itu bilang kalau ia mencintai Ji Hye jadi sudah pasti jantung namja itu akan memacu lebih keras jika bersama dengan orang yang Kyuhyun cintai—katanya, apa Kyuhyun menganggap Ji Hye tidak tahu tentang hal itu? Sepertinya Kyuhyun menganggap Ji Hye seorang gadis yang tidak tahu apa-apa tentang hal percintaan seperti ini.

“yak! berhenti menganggapku gadis polos yang tidak mengerti apa-apa! Aku juga tahu Kyu, aku kan pernah berpacaran!” ucap Ji Hye sambil menarik tangannya yang berada di dada Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus, “yak pabo! Aku juga tahu kau bukanlah gadis polos! Aku hanya ingin kau merasakan detak jantungku ini” ucap Kyuhyun sambil menaruh tangan Ji Hye di dadanya—lagi.

Ji Hye menghembuskan nafas pasrah, “untuk apa?” tanyanya dengan malas.

“kau bisa merasakannya kan? Jantungku yang berdegup kencang? Ini artinya aku benar-benar jatuh cinta padamu Ji Hye-ya” ucap Kyuhyun sambil ikut merasakan detak jantungnya sendiri.

Refleks Ji Hye langsung menarik tangannya yang berada di dada Kyuhyun. Lagi-lagi Kyuhyun mengucapkan kata-kata yang membuatnya bergidik, ia sama sekali belum terbiasa dengan Kyuhyun yang seperti ini. Sekarang pandangannya terhadap Kyuhyun memang sudah berubah, tapi entahlah berubah kearah yang lebih baik atau malah kebalikannya.

“kau mengatakan hal yang menggelikan lagi” ucap Ji Hye dengan tawa yang dipaksakan.

Kyuhyun sangat mengenal Ji Hye, jadi ia tahu kalau tawa gadis itu dipaksakan. Hati Kyuhyun sedikit kecewa karena sepertinya Ji Hye tidak merasakan apa yang selama ini Kyuhyun rasakan.

Bagaimana caranya membuatmu merasakan ini? Batin Kyuhyun.

—-

Kyuhyun dan Ji Hye duduk bersila sambil berhadapan satu sama lain. Misi Kyuhyun untuk membuat Ji Hye bisa merasakan cinta lagi sejauh ini belum menunjukan tanda-tanda keberhasilan. Hal ini membuat Kyuhyun sedikit frustasi, itu terlihat jelas dari tingkah Kyuhyun saat ini. Yaa, saat ini Kyuhyun mengajak Ji Hye berbicara 4 mata, dari hati ke hati dan sebagainya. Awalnya Ji Hye menolak karena menurutnya tingkah Kyuhyun makin aneh saja. Tapi akhirnya ia hanya bisa menuruti permintaan namja yang suka seenaknya itu. Tentu saja ia pasti kalah jika berdebat dengan orang yang punya mulut tajam seperti Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, Ia juga memejamkan matanya sejenak. Itu semua ia lakukan untuk mengatasi rasa gugupnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia tidak tahu apa yang merasukinya hingga ia bisa melakukan hal ini. Saat ini ia dan Ji Hye sedang duduk di dalam kamar Ji Hye dengan hanya diterangi cahaya lilin yang diletakkan disekitar mereka. Kyuhyun tahu ini sama sekali bukan gayanya, tapi mungkin dengan begini ia bisa bicara serius dengan Ji Hye, karena selama ini mereka tidak pernah berbicara dengan serius, selalu saja bercanda dan main-main.

Ji Hye menatap namja di hadapannya dengan perasaan yang sangat tidak bisa ia jelaskan. Heran, aneh, kesal, penasaran, bingung, rasanya semua kata-kata itu tidak bisa menjelaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ji Hye hanya terdiam, menunggu Kyuhyun untuk membuka mulut terlebih dahulu.

Di tengah-tengah suasana yang serius seperti ini tiba-tiba Kyuhyun tertawa ringan, “huuuh…aku sangat gugup” ucapnya sambil memegangi dadanya dengan sebelah tangannya.

Ji Hye tidak bisa menahan senyumnya yang ingin mengembang melihat tingkah sahabatnya itu. “yak! ini sangat konyol!” ucap Ji Hye sambil hendak berdiri, tapi dengan cepat Kyuhyun langsung menahan tangannya dan menariknya agar duduk kembali.

Kyuhyun menatap Ji Hye yang sedang merengut padanya dengan alis yang bertautan.

“kali ini aku ingin bicara serius padamu” ucap Kyuhyun dengan wajah yang menunjukan ia tidak sedang main-main.

Ji Hye berdehem, sedikit tidak nyaman dengan suasana saat ini. Kalau diingat-ingat walaupun Ji Hye sudah bersama Kyuhyun sejak umurnya 5 tahun tapi ia dan Kyuhyun tidak pernah bicara dengan serius seperti sekarang.

Ji Hye menghembuskan nafas berat, “baiklah…kau ingin bicara tentang apa?” tanya JI Hye.

“tentu saja tentang perasaanku dan perasaanmu” jawab Kyuhyun dengan tampangnya yang masih sangat serius itu.

“memangnya kenapa dengan perasaan kita?” tanya Ji Hye lagi sambil berusaha menahan tawanya. Demi apapun Ji Hye tidak pernah membayangkan Kyuhyun akan melakukan dan mengatakan hal-hal seperti ini.

Kening Kyuhyun berkerut, sebal. Sepertinya ia tahu kalau Ji Hye sedang menahan tawanya. Tidak bisakah ia memandangku dengan serius? Batin Kyuhyun.

“kau bilang…ingin bisa merasakan cinta lagi, kan?” kali ini Kyuhyun yang bertanya. “apakah kau sudah merasakannya?” lanjutnya.

Ji Hye tersenyum tipis sambil menatap Kyuhyun, “tidak” jawabnya.

“belum” timpal Kyuhyun dengan cepat.

“iya..belum” ucap Ji Hye pelan.

Kyuhyun menghirup oksigen sebanyak yang bisa ditampung oleh paru-parunya. Sebenarnya ia sendiri sadar jika ini adalah hal paling konyol yang pernah ia lakukan. Walaupun Kyuhyun terlihat seperti playboy tetapi sebenarnya dia adalah namja yang tidak tahu apa-apa tentang hal percintaan. Ia tidak pernah menyukai orang lain selain Ji Hye, dan ia baru berani mengungkapkan perasaan yang sudah ia pendam selama 20 tahun itu seminggu yang lalu. Untuk orang yang dianggap ‘playboy’ itu sangat pengecut, bukan?

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, membuat Ji Hye mengerutkan keningnya, dalam hati gadis itu menebak-nebak hal konyol apa lagi yang akan Kyuhyun lakukan.

Namja itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan tenang, lagi-lagi ia melakukan itu untuk menenangkan dirinya yang sedang sangat kacau—dalam arti bingung, gugup, dan takut.

“apa kau berdebar jika sedang bersamaku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Ji Hye tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat ia mendengar pertanyaan Kyuhyun barusan. Gadis itu menggingit bibirnya menahan tawa. Dari semua pertanyaan yang pernah Kyuhyun tanyakan sepertinya ini adalah pertanyaan yang paling aneh. Mereka sudah 20 tahun bersama dan Kyuhyun malah menanyakan hal seperti itu? Membuat Ji Hye makin yakin kalau pasti ada sesuatu yang sudah merasuki tubuh sahabatnya itu.

Ji Hye sudah tidak bisa menahan tawanya yang ingin meledak, “mmppft…Yak Cho Kyuhyun, apa yang kau bicarakan? Kau lupa sudah berapa lama kita bersama?”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih tetap memandang gadis di depannya yang masih tersenyum lebar menganggap lucu setiap kata-kata yang bagi Kyuhyun ia harus membuang semua rasa gengsi yang ia punya untuk bisa mengatakannya.

Ji Hye berdehem, dalam hati ia mengeluh, sepertinya ini memang akan menjadi pembicaraan yang sangat serius, batinnya.

Ji Hye mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia menatap Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat tajam. Jika saja mata Kyuhyun bisa mengeluarkan sinar laser mungkin Ji Hye sudah mati sejak tadi.

Gadis itu membalas tatapan tajam Kyuhyun dengan seulas senyuman, “Kyuhyunnie, apa kau tahu sudah sejak kapan kita bersama? Sejak kita berumur 5 tahun!” Ji Hye masih tersenyum lalu melanjutkan, “aku tidak mungkin berdebar untuk orang yang sudah 20 tahun bersamaku. Mungkin dulu saat umurku  5 tahun aku berdebar saat sedang bersamamu, tapi sekarang? apakah hal itu masuk akal?” ucap Ji Hye dengan hati-hati karena ia sama sekali tidak ingin menyinggung perasaan sahabatnya itu.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar penjelasan Ji Hye, “apa kau tahu? Saat ini melihatmu yang sedang menatapku seperti itu membuat jantungku sangat berdebar. Saat kau berjalan, saat kau bicara, saat kau tersenyum seperti tadi, saat mendengar tawamu yang menjijikan itu, kau membuatku selalu berdebar bahkan hanya dengan hal-hal kecil yang kau lakukan” ucap Kyuhyun, “tentu saja menurutku hal itu masuk akal, karena aku merasakannya” lanjut Kyuhyun sambil menatap Ji Hye intens.

DEG

Entah ini sudah yang keberapa kalinya Kyuhyun membuat jantung Ji Hye seperti berhenti, lalu tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang. Membuat dirinya sedikit sesak, dan membuatnya sedikit bingung juga. Apakah ini sebuah perasaan yang lain atau hanya rasa terkejut karena ucapan sahabatnya itu?

Perlahan lengkungan keatas terbentuk di bibir mungil Ji Hye. Ia sama sekali tidak menganggap konyol kata-kata Kyuhyun barusan karena ia tahu kalau namja itu mengatakannya dengan tulus. Tetapi mungkin hatinya sudah sangat mengeras seperti batu sehingga ia tetap tidak bisa merasakan apa yang Kyuhyun rasakan terhadapnya.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat ekspresi Ji Hye yang tersenyum mendengar kata-katanya. Setidaknya ia senang karena gadis itu tersenyum dengan hatinya, bukan menertawakannya atau tersenyum terpaksa seperti tadi.

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing. sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin Kyuhyun tanyakan pada Ji Hye tetapi Kyuhyun ragu apakah gadis itu mau menjawabnya atau tidak. Sebuah pertanyaan yang hanya akan membuat gadis itu mengerutkan keningnya karena sebenarnya tidak usah bertanyapun Kyuhyun sudah tahu jawabannya. Tapi tetap saja ia ingin mendengar langsung dari mulut gadis itu karena selama ini ia hanya mengira-ngira saja.

“Ji Hye-ya…” panggil Kyuhyun dengan suara yang sangat pelan tapi masih bisa di dengar oleh Ji Hye.

“hm?”

Kyuhyun terdiam lagi sejenak, “apa yang membuatmu tidak percaya pada cinta?” tanya Kyuhyun akhirnya.

Ji Hye menatap Kyuhyun sambil mengeluh dalam hati, apakah Kyuhyun harus terus menanyakan pertanyaan yang ia yakin Kyuhyun sendiri sudah tahu jawabannya? namja itu kan sangat mengenal Ji Hye.

Ji Hye mendengus, ia mendelik sebal kearah Kyuhyun sebelum akhirnya membuka mulutnya, “orang tuaku, cinta mereka sudah lama pudar dan kini saling membenci tapi tidak bisa berpisah karena harus menjaga nama baik masing-masing. Namja brengsek yang pernah kukenal, ia meninggalkan aku demi gadis lain yang baru ia kenal 1 bulan. Yumi, sahabatku yang ditinggal oleh kekasih yang mengaku sangat mencintainya, tapi laki-laki brengsek itu malah pergi dengan wanita lain. Dan…kau, orang yang tidak pernah serius dan selalu mempermainkan para wanita.” Ucap Ji hye dengan mata yang menunjukan kebencian yang sangat.

Ji Hye terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “apa menurutmu dengan semua yang kulihat aku bisa percaya pada omong kosong itu?” kali ini suara Ji Hye mulai bergetar. Tapi dengan segenap kekuatannya ia menahan air matanya agar tidak menetes. Ia tidak sudi menangisi omong kosong itu lagi.

Kyuhyun memandang Ji Hye dengan pandangan menyesal, ia tahu Ji Hye sedang menahan diri agar tidak terisak. Kyuhyun menyentuh dadanya, sebenarnya hatinya sangat sakit mendengar dipenjelasan Ji Hye tadi gadis itu menyebut namanya sebagai salah satu alasannya tidak percaya pada cinta. Tanpa ia sadari caranya untuk mengalihkan perasaannya yang tidak terbalas pada Ji Hye malah menjadi salah satu penguat gadis itu membenci sebuah hubungan.

“maafkan aku” ucap Kyuhyun lemah sambil menyentuh kedua lengan Ji Hye dan menatap gadis itu dengan segenap perasaan menyesal yang ia rasakan, “aku melakukan itu semua untuk melupakanmu, tapi ternyata aku tidak bisa. Sebenarnya alasan aku memutuskan semua pacarku karena aku menyerah untuk melupakanmu dan berniat menyatakan perasaan yang sudah ku pendam ini” lanjut Kyuhyun.

Mendengar ucapan Kyuhyun barusan membuat Ji Hye sedikit terkejut, tapi ia berusaha menutupi rasa terkejutnya dengan tetap memasang tampang datar. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah semua yang Kyuhyun katakan itu benar? Apakah itu bukan salah satu dari sekian banyak kata-kata gombalnya untuk para gadis? Entah kenapa sekarang kalimat-kalimat yang dulu menurut Ji Hye sangat menggelikan kini terdengar berbeda.

Ji Hye menyentuh dadanya. Biasa saja. Ia memang merasakan jantungnya berdebar dengan sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi itu bukan seperti yang dulu ia rasakan pada DongHae. Bahkan setelah mendengar semua pengakuan Kyuhyun ia tetap tidak merasakannya. Ia memang belum bisa menyukai namja itu. Ji Hye memilih diam daripada harus menyakiti perasaan Kyuhyun.

Kyuhyun merasa kecewa saat melihat Ji Hye tidak bereaksi apa-apa. Ia sudah mengatakan semua yang ada di hatinya tapi gadis itu hanya terdiam. Sebegitu tidak berartinyakah aku? Batin Kyuhyun.

“aku sudah mengatakan semua yang ada dihatiku, semua perasaanku. Semua yang kuucapkan itu sungguh-sungguh. Apa kau benar-benar tidak bisa merasakannya?” tanya Kyuhyun dengan suara yang sangat lemah.

Hati Ji Hye sakit melihat Kyuhyun yang terlihat frustasi, dan lebih sakit lagi karena dirinyalah yang membuat Kyuhyun seperti ini. Ia memang sangat, sangat, sangat menyanyangi Kyuhyun, tapi hanya sebatas sahabat, Hanya menganggap Kyuhyun sebagai seseorang yang sudah menemaninya selama ini dan akan terus menemaninya sampai kapanpun.

Tanpa terasa air mata mengalir dipipi Ji Hye, ia menatap Kyuhyun yang terkejut karena Ji Hye tiba-tiba menangis.

“mianhae…aku memang jahat. Aku menyayangimu Kyu, Sungguh! Tapi aku yang seperti batu ini tidak bisa merasakan hal sama denganmu” ucap Ji Hye sambil terus menangis.

Kali ini Ji Hye memang bereaksi, tapi bukan ini reaksi yang Kyuhyun harapkan. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah berbuat hal bodoh sehingga membuat Ji Hye menangis. Hati Kyuhyun sangat sakit melihat gadis yang ia cintai menangis, apalagi hal itu disebabkan oleh dirinya sendiri.

Kyuhyun menyentuh kedua pipi Ji Hye, “hei…hei, gwaenchana. Aku tahu kau sayang padaku, bagiku itu sudah cukup. Maafkan aku karena sudah melakukan hal-hal bodoh ini padamu” ucap Kyuhyun sambil terus menghapus air mata di pipi Ji Hye.

Kyuhyun mendekap Ji Hye di dalam pelukannya dan membiarkan air mata gadis itu membasahi kaus yang ia pakai, “jangan menangis…aku tidak akan memaksamu lagi, dan aku janji ini adalah yang terakhir aku melakukan hal bodoh seperti ini” ucapnya sambil membelai lembut rambut Ji Hye.

Kyuhyun memejamkan matanya yang sudah memanas. Daritadi ia memang sedang menahan air matanya agar tidak jatuh menetes. Apa kata Ji hye nanti jika gadis itu melihatnya menangis?

Ji Hye sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampus saat sebuah foto yang terbingkai dengan manis di ujung rak di kamarnya mengunci perhatiannya. Sebuah foto yang sudah sangat lama tidak ia lihat, lebih tepatnya yang memang tidak ingin ia lihat.

Difoto itu terlihat sebuah keluarga kecil yang sedang tersenyum lebar sambil menatap ke arah kamera. Terlihat eomma, appa, eonni, dan dirinya yang tersenyum dengan sangat tulus. Terpancar jelas rasa sayang dan bahagia dari keluarga tersebut. Rasa sayang dan bahagia yang semakin pudar seiring dengan berjalannya waktu. Ji Hye memandang foto itu sambil tersenyum kecut, matanya mulai memanas sekarang.

Ji Hye menghembuskan nafas berat. Ia meraih foto itu dan meletakannya di dalam laci nakasnya. Itu semua ia lakukan bukan karena ia tidak sayang pada orang tuanya, ia hanya tidak ingin mengingat kenangan yang tidak mungkin bisa ia rasakan lagi, karena sebenarnya ia sangat merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Ji Hye mendengar sebuah langkah kaki mendekat kearahnya, langkah kaki yang sudah sangat ia kenal.

“kenapa kau simpan disitu?” tanya Kyuhyun dengan raut wajah bingung.

Ji Hye menoleh kebelakang, “tidak apa-apa. Aku hanya tidak suka mengenang sesuatu yang sudah lewat” ucapnya acuh tak acuh.

“kau sedang berbohong” ucap Kyuhyun sambil melipat tangannya didepan dada.

Ji Hye tersenyum kecut, “kalau sudah tahu kenapa bertanya? Kau ini kebiasaan sekali” cibir Ji Hye.

Kyuhyun mengangkat bahunya tidak peduli, membuat Ji Hye makin mencibir namja itu.

Ji Hye melirik jam dinding di kamarnya lalu meraih tasnya, ia berjalan kearah pintu dan meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri di dekat tempat tidurnya, entah apa yang sedang namja itu lakukan.

“yak, kau sedang apa? Ayo cepat berangkat” panggil Ji Hye dari depan pintu.

Kyuhyun menoleh dan langsung menyusul Ji Hye.

“hei, lain kali bisa tidak kau menjemputku dari pintu depan? Kenapa kau selalu masuk kerumahku melalui balkon kamarku sih?” ucap Ji Hye sambil menuruni tangga.

“memangnya kenapa? Itu kan lebih praktis” jawab Kyuhyun santai.

Ji Hye mencibir namja itu lagi, ia bingung kenapa di dunia ini ada orang seperti Kyuhyun. Untung saja orang tuanya adalah tipe yang tidak peduli pada anaknya sendiri, jika tidak pasti orang tuanya sudah berpikiran macam-macam karena setiap pagi Ji Hye dan Kyuhyun keluar bersama dari kamarnya.

“kau sudah sarapan?” tanya Ji Hye lagi.

“belum” jawab Kyuhyun yang sedang duduk di meja makan sambil tersenyum lebar. Memang sudah menjadi kebiasaannya untuk sarapan bersama Ji Hye. Walaupun rumahnya hanya disebelah tapi Kyuhyun selalu sarapan dirumah gadis itu.

 Ji Hye menaruh roti yang sudah diolesi selai cokelat diatas piring Kyuhyun, namja itu menggumamkan kata ‘gomawo’ dengan sangat pelan hingga nyaris tidak terdengar oleh Ji Hye.

Ji Hye tersenyum menatap Kyuhyun yang sedang melahap sarapannya. Ia sangat bersyukur karena namja dihadapannya ini masih berada disisinya setelah kejadian kemarin. Ia dan Kyuhyun memang langsung bersikap seperti biasanya lagi, ia merasa beruntung karena sifat Kyuhyun yang sangat pengertian dan selalu bisa menjadi mood boosternya.

“sudah terlambat kalau kau baru terpesona padaku sekarang” ucap Kyuhyun yang daritadi menyadari kalau Ji Hye memandanginya sambil tersenyum.

Ji Hye tertawa kecil, “jangan bermimpi dipagi hari Kyu” ucap Ji Hye sambil berjalan meninggalkan Kyuhyun menuju dapur.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar ucapan Ji Hye, “memang hanya di dalam mimpi kau bisa menyukaiku” ucapnya pada diri sendiri.

—-

Tok..tok..tok

Ini sudah kesekian kalinya Kyuhyun mengetuk pintu kaca yang menghubungkan balkon dan kamar tetangganya itu. Dalam hatinya ia mengumpat apakah Lee Ji Hye benar-benar seorang gadis? Karena sudah siang seperti ini tapi gadis itu belum keluar juga dari kamarnya.

Kyuhyun mendorong pelan pintu kaca itu, dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Kyuhyun melangkah memasuki kamar Ji Hye, seperti biasa ia memang tidak butuh persetujuan dari gadis itu dulu jika dirinya ingin kesini.

Kyuhyun mengira kalau gadis itu masih terlelap, tetapi ternyata tebakannya salah. Gadis itu sudah tidak ada dikamarnya. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menekan deretan nomer yang menghubungkannya dengan Ji Hye.

Pada deringan ketiga telepon itu diangkat, ia mendengar Ji Hye mengucapkan salam dari seberang.

Kyuhyun mengerutkan keningnya saat mendengar suara-suara berisik dibelakang Ji Hye, “yak, kau ada dimana?” tanya Kyuhyun.

“aku sudah dikampus hehe. Maaf ya aku hari ini kuliah pagi jadi aku berangkat lebih dulu, kau masih dirumah?” jawab Ji Hye, tidak merasa bersalah sama sekali.

“tidak, aku dirumahmu” jawab Kyuhyun dengan nada kesal yang jelas terdengar.

“ah, sudah kuduga” cibir Ji Hye. “pintu balkonnya tidak kukunci, aku tahu kau pasti akan masuk. Ya sudah ya, aku sedang mengerjakan tugas”—pip. Ji Hye langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Kyuhyun terlebih dulu.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat sambil menatap ponselnya. Ia memang sudah sangat terbiasa dengan sifat Ji Hye yang seperti itu. Kyuhyun merutuki dirinya sendiri, ia tidak mengerti mengapa ia bisa jatuh cinta setengah mati pada gadis seperti Ji Hye, jika orang-orang menjulukinya evil, sebenarnya terkadang Ji Hye lebih evil daripada Kyuhyun sendiri.

Kyuhyun memandang kesekeliling kamar Ji Hye, matanya tertuju pada nakas disamping tempat tidur gadis itu. Tiba-tiba ia teringat Ji Hye yang memandangi sebuah foto dengan mata yang berkaca-kaca beberapa hari yang lalu.

Kyuhyun menatap nakas itu dengan ragu. perlahan namja itu berjalan mendekati nakas tersebut dan membuka lacinya dengan hati-hati.

—-

Ji Hye memasuki rumahnya tanpa mengucapkan salam apapun. Ia memang terbiasa seperti itu, karena jika ia mengucapkan salampun juga tidak akan ada yang menjawabnya karena rumahnya pasti kosong di jam-jam seperti ini.

Gadis itu melangkah menuju ruang keluarga sebelum menaiki tangga menuju kamarnya. Ia sedikit terkejut saat melihat eommanya sedang duduk di sofa sambil menatap sesuatu. Sebuah bingkai foto. Samar-samar Ji Hye bisa mengenali apa yang sedang dilihat eommanya itu. Awalnya ia bingung kenapa foto itu bisa berada di tangan eommanya, tapi sepertinya Ji Hye tahu siapa pelakunya. Cho Kyuhyun, pasti namja itu.

Nyonya Lee menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, ia tersenyum tipis saat menyadari itu adalah langkah Ji Hye. Nyonya Lee memandang darah dagingnya itu dengan senyum yang sangat sulit diartikan, yang dibalas dengan tatapan yang sangat dingin oleh Ji Hye.

“tumben sekali jam segini sudah pulang” ucap Ji Hye dengan ekspresi datar.

“ya, hari ini tidak terlalu banyak kerjaan dikantor” jawab nyonya Lee dengan datar juga.

Setelah percakapan yang sangat singkat itu mereka berdua terdiam. Tanpa berbasa basi lagi Ji Hye langsung beranjak meninggalkan eommanya yang masih duduk diam di sofa. Memang hanya seperti itulah percakapan antara eomma dan anak dirumah ini. Tidak ada kehangatan sama sekali yang terpancar dari hubungan mereka berdua.

Ji Hye menghentikan langkahnya di ujung tangga untuk menoleh sejenak kearah eommanya. Dilihatnya wanita paruh baya itu masih duduk terdiam sambil memandangi foto yang sama dengan tatapan kosong. Ji Hye menghembuskan nafas berat, ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal ini. Ia lelah menjadi satu-satunya yang memikirkan tentang hubungan keluarganya.

—-

Ji Hye memejamkan matanya yang sudah sangat panas, setetes demi setetes cairan bening mengalir dari pelupuk matanya. Walaupun dia sudah berusaha dengan keras menahan air matanya, tetapi ternyata cairan bening itu terus mendesak keluar. Ji Hye menggigit bibir bawahnya sendiri untuk meredam isakannya.

Gadis itu lelah, sangat lelah. Perlahan Ji Hye terlelap sambil memeluk boneka beruang kesayangannya, boneka yang sama dengan milik eonninya, orang tuanya memberikan boneka beruang itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 4. Boneka yang sampai saat ini menjadi boneka favoritnya, karena hanya itulah kenangan terakhirnya bersama eonninya.

“Selamat ulang tahun anakku Joo Hyun-ah, Ji Hye-ya” ucap seorang wanita berumur awal 30-an. Wanita itu menyerahkan dua buah kado yang berukuran sangat besar bagi kedua gadis yang sedang berulang tahun, sampai-sampai dua gadis itu susah payah untuk memeluk kado tersebut.

Salah satu yang berulang tahun merobek kertas yang membungkus kado tersebut dengan tidak sabaran, mata gadis itu berbinar-binar saat melihat sebuah boneka teddy bear yang berukuran sama besar dengan dirinya muncul dibalik kertas berwarna-warni itu. Ia berteriak-teriak kegirangan sambil meloncat karena mendapat hadiah yang sudah sejak lama gadis itu inginkan.

Gadis yang satu lagi ikut membuka kado yang diterimanya, dan tidak kalah terkejut setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah boneka yang sama persis dengan yang diberikan kepada eonninya.

Gadis kecil itu tersenyum ceria sambil memanggil eonninya, “eonni, lihat! aku mendapat boneka yang sama denganmu” ucap gadis kecil yang bernama Ji Hye itu.

Gadis yang dipanggil eonni itu menoleh sambil ikut tersenyum senang, “wuah, bonekamu lebih besar daripada milikku, lihat, ini bahkan lebih tinggi darimu” ucap gadis yang ternyata bernama Joo Hyun itu.

Ji Hye tersenyum manis sambil memeluk boneka itu dengan sayang, bahkan saat itu menurutnya pelukan boneka itu sama nyamannya dengan pelukan yang diberikan oleh eomma dan appanya.

Eomma dan appa kedua gadis itu berjalan menghampiri anak-anaknya yang sedang saling tersenyum ceria, “siapa yang mau kejutan selanjutnya?” tanya sang appa.

Kedua gadis kecil itu berlomba-lomba mengacungkan tangan sambil berteriak menyebutkan nama mereka masing-masing.

Tuan Lee menggendong Ji Hye, ia membawa gadis kecil itu memasuki mobil, sementara sang kakak berjalan sambil bergandengan tangan dengan eommanya. Mereka berdua akan melakukan perjalanan bertamasya keluar kota.

Ji Hye duduk di sebelah kakaknya—Joo Hyun—dikursi belakang, menurutnya ini adalah hari ulang tahunnya yang paling hebat. Dia sangat senang mendapat hadiah boneka beruang, itu terlihat jelas karena daritadi boneka itu tidak pernah lepas dari pelukannya. Hari ulang tahun yang tepat bersamaan dengan eonninya membuat setiap ulang tahunnya terasa sangat indah, karena ia seperti akan mendapat perayaan yang lebih menyenangkan lagi dari kedua orang tuanya.

Hujan yang cukup lebat mengiringi perjalan mereka menuju Daegu, Ji Hye memandang keluar jendela mobil dengan senyum yang mengembang, gadis kecil itu memang sangat menyukai hujan—kecuali jika hujan yang disertai petir. Ia menyukai hujan karena jika hujan turun ia dan eonninya akan keluar rumah dan bermain dibawah guyuran hujan bersama-sama.

Ji Hye hampir saja terlelap ketika ia mendengar suara klakson yang sangat nyaring hingga memekakkan telinganya.

 BRAAAAAKKKK!!!

Ji Hye merasa seperti melayang di udara untuk beberapa saat, gadis kecil itu tidak sadar dirinya sudah tergeletak di jalanan, membuatnya basah kuyub karena terkena guyuran air hujan yang cukup lebat sore itu. ia tidak tahu persis apa yang terjadi sebelumnya, tapi saat ini gadis itu melihat mobil yang ditumpangi ia dan keluarganya terguling di sisi jalanan yang lenggang itu, dilihatnya orang tuanya yang sedang merangkak keluar dari mobil yang terguling itu. Sementara itu dilihatnya eonninya yang tidak sadarkan diri tergeletak jauh dari mobil yang mereka tumpangi.

Kepala gadis itu pusing, ia hanya bisa menangis sambil memanggil-manggil eommanya dengan suara yang nyaris tidak keluar, Ia terlalu lemah bahkan hanya untuk mengeluarkan suara. Ji Hye mengulurkan tangannya dengan masih tetap memanggil-manggil orang tuanya. Perlahan pandangannya kabur, tiba-tiba hanya gelap yang menguasai pandangannya.

Ji Hye membuka matanya yang masih merah karena tidurnya yang hanya beberapa jam itu malah membuat kepalanya semakin sakit. Gadis itu mengumpat dalam hati, ia sangat benci hal-hal yang sangat ingin ia lupakan malah datang kembali di mimpinya.

Ji Hye menyeka keringat yang megalir deras didahi dan lehernya. diliriknya jam yang menempel dengan manis di dinding baru menunjukan pukul 03.00 pagi sekarang. gadis itu membaringkan tubuhnya kembali dengan perlahan lalu mencoba memejamkan matanya sekali lagi karena tubuhnya yang terasa sangat lelah. Tapi hal itu percuma saja, karena mimpi sialan itu masih saja membayang-bayanginya.

Ji Hye meraih ponselnya dan dengan cepat menyentuh angka 2 di layarnya, menghubungkannya pada tetangganya yang pasti sedang mendengur saat ini.

Pada deringan kelima telepon itu diangkat, terdengar suara parau Kyuhyun menyapanya diseberang.

“kau sedang tidur?” tanya Ji Hye.

“iya tadi, tapi sekarang tidak karena kau!” jawab Kyuhyun terdengar sedikit kesal.

“mian…aku mimpi buruk” ucap Ji Hye, merasa sedikit bersalah karena sudah membangunkan namja itu.

“hm…lalu apa yang bisa kulakukan?”

“temani aku sampai aku benar-benar mengantuk”

“ck, merepotkan sekali…saat ini aku yang benar-benar mengantuk. Apa aku perlu kesitu?” cibir Kyuhyun, tetapi namja itu tetap melakukan permintaan Ji Hye untuk menemaninya.

“tidak usah..kau disitu saja”

Kyuhyun mengerutkan keningnya, yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Ji Hye, “lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Kyuhyun bingung.

Ji Hye terdiam sejenak, “bercerita. Bagaimana harimu hari ini..hmm cerita tentang apa saja”

Ji Hye dapat mendengar Kyuhyun menghembuskan nafas berat, sebenarnya kan ini semua gara-gara namja itu! Karena dia yang memberikan foto itu ke eommanya ia jadi bermimpi tentang masa lalunya lagi.

“memangnya kau bermimpi apa?” tanya Kyuhyun dengan mata yang setengah terpejam. Sebenarnya namja itu sangat mengantuk, tapi ia tidak tega jika harus membiarkan Ji Hye terjaga semalaman seorang diri.

“aku bermimpi tentang ulang tahunku yang ke-4” ucap Ji Hye pelan. “ini semua gara-gara kau memberikan foto itu kepada eomma! aku jadi teringat lagi pada kejadian dimasa lalu itu!” omel Ji Hye pada Kyuhyun. Rasanya tidak berlebihan jika ia marah pada Kyuhyun, ini semua memang karena ulahnya yang seenaknya saja mengambil foto orang lain dan memberikannya ada eommanya.

“aku tidak memberikannya” jawab Kyuhyun cepat, “aku hanya menaruhnya di meja ruang keluargamu” lanjutnya dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

Untung saja mereka hanya berbicara lewat telepon, karena jika mereka bertemu langsung Kyuhyun tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan yeoja itu padanya.

“aku minta maaf…” ucap Kyuhyun dengan suara yang sangat pelan, sehingga hampir saja Ji Hye tidak bisa mendengarnya.

Ji Hye menghembuskan nafas berat, tanpa meminta penjelasanpun Ji Hye sangat tau kalau Kyuhyun punya niat yang baik.

“pokoknya kau harus bertanggung jawab, kau harus menemaniku hingga tertidur malam ini” ucap Ji Hye dengan suara yang sudah tenang lagi.

“baiklahhh” jawab Kyuhyun pasrah. Sebenarnya memang namja itu tidak keberatan sama sekali Ji Hye memintanya menemaninya.

Ji Hye menunggu beberapa menit sebelum akhirnya Kyuhyun membuka mulutnya, dan mulai bercerita tentang harinya, dari tadi pagi saat ia harus sarapan sendirian karena Ji Hye sudah meninggalkannya duluan, sampai tadi saat ia hendak tidur.

Namja itu terus bercerita sampai akhirnya Ji Hye terlelap dan tidak bisa menanggapi setiap kata-katanya lagi.

“hallo? Ji Hye-ya apa kau tidur?” panggil Kyuhyun, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari gadis yang dipanggil-panggilnya itu.

Kyuhyun tersenyum membayangkan Ji Hye yang sedang tertidur dengan telepon yang masih menyala ditelinganya. Seandainya saja saat ini ia bisa berada disamping Ji Hye, dan memastikan kalau gadis itu benar-benar terlelap sehingga tidak akan terbangun lagi dia pasti akan sangat senang.

Kyuhyun tersenyum kecut. Sebagian otaknya yang masih berjalan dengan normal memaksa pikiran-pikiran itu untuk menghilang. Baginya melihat Ji Hye, dan menyadari jika gadis itu bisa ada di dekatnya, disampingnya, itu sudah sangat cukup. Kyuhyun tidak berani meminta lebih dengan semua kebahagiaan yang ia dapatkan saat bersama Ji Hye.

Perlahan namja itu memejamkan matanya kembali, seulas senyum masih saja terukir dibibir manisnya saat ia sudah memasuki alam bawah sadarnya.

-TBC-

 

Believe In Love 1/3

Believe in Love part 1/3

By:       YellowPurple

Cast :   Cho Kyuhyun

            Lee Ji Hye

 

 “Jika kau tidak percaya padaku, tidak bisakah setidaknya kau percaya pada cinta? Karena  saat kau patah hati, bukan cintalah yang salah. Tetapi kau yang telah salah mencintai seseorang”

Lee ji Hye menatap pasangan kekasih yang baru memasuki bus sambil bergandengan tangan dengan pandangan sinis. Tidak, ia bukan iri.

Pasangan kekasih itu duduk tepat di kursi di depannya. Dari belakang Ji Hye bisa melihat si yeoja bersandar dengan manja di bahu namjanya. Ji Hye tersenyum sinis. Butuh berapa lama sampai pasangan itu menyadari kalau mereka hanya membuang-buang waktu bersama orang yang palsu dan—mungkin—hanya berpura-pura mencintai?

Sejak 4 tahun yang lalu Ji Hye memang sudah tidak percaya pada yang namanya cinta. Menurutnya cinta hanya omong kosong dan hanya berpihak pada orang-orang yang cantik dan tampan, atau paling tidak berlimpah harta, bukan untuk orang yang biasa sepertinya. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utama Ji Hye.

—-

Ji Hye membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat dua orang yang sedang berteriak-teriak di lantai bawah berhenti sejenak, tapi tidak lama karena mereka belum puas saling memaki satu sama lain. Dua orang itu adalah orang tuanya.

Ji Hye merebahkan dirinya dikasur dan segera memasang headphone dan menyalakan musik dengan volume maksimal. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di lantai bawah rumahnya. Baginya suara teriakan orang tuanya yang saling memaki sudah seperti nyanyian pengantar tidur dan alarm paginya, jadi dia sudah sangat biasa mendengarnya.

Ji Hye berjalan menuju balkon kamarnya, kalau sudah begini ia ingin mencari udara segar, atau mungkin jika ia sudah tidak tahan dia tinggal melompat dari atas balkon. Pikiran seperti itu bukan hanya sekali dua kali terlintas di benak Ji Hye. Kadang semua masalahnya membuatnya ingin lenyap, ingin menghilang. Toh kalaupun dia menghilang tidak akan ada yang merasa sedih, dan dia sudah sangat biasa diabaikan. Setidaknya selama beberapa tahun belakangan ini.

“yak, sedang apa kau?”

Suara seseorang membuyarkan lamunannya.

Ji Hye menoleh dan mendapati Kyuhyun—sahabat sekaligus tetangganya—sedang menatapnya dari balkon kamarnya disebelah.

Ji Hye tersenyum sinis, “hanya sedang berusaha menghindari sesuatu”

“orang tuamu?” tebak Kyuhyun.

“bingo!” jawab Ji Hye sambil mengangguk.

Tiba-tiba Kyuhyun melompat dari balkon kamarnya menuju balkon kamar Ji Hye, membuat Ji Hye sedikit tersentak karena kaget.

“mau ditemani?” tanya Kyuhyun.

Ji Hye tertawa pelan, “yak, kenapa kau? Memangnya aku baru pertama kali seperti ini? Sudah setiap hari Kyuhyunnie” jawab Ji Hye.

Kyuhyun mengangkat bahunya, “sekedar informasi saja, aku akan selalu ada untukmu jika kau membutuhkan aku” ucap Kyuhyun.

Ji Hye tersenyum, “ne, gomawo. Kau memang sahabat yang sangat baik”

Kyuhyun mengangguk pelan, “hmm.. tentu saja aku akan ada untukmu, setidaknya jika aku sedang tidak bersama pacar-pacarku” ucap Kyuhyun sambil tertawa.

“dasar, baru saja kau dipuji” cibir Ji Hye sambil memukul pelan bahu Kyuhyun dan ikut tertawa.

—-

Ji Hye sedang berjalan menuju kantin saat tiba-tiba teman sekelasnya, Yumi, menghampirinya dengan berurai air mata.

“Yumi-ya ada apa?” tanya Ji Hye bingung. Tidak biasanya ia melihat sahabatnya satu-satunya itu menangis, karena Yumi yang ia kenal adalah seorang gadis yang sangat ceria.

Yumi yang masih terisak duduk di samping Ji Hye, ia hanya menggeleng.

Ji Hye memeluk Yumi untuk menenangkannya, dan menunggu hingga Yumi sudah bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia melepaskan pelukannya saat merasakan tangisan Yumi yang sudah mereda, “kau kenapa?” tanya Ji Hye lagi.

Yumi mengusap air mata yang masih berada dipipinya dengan sebelah tangannya, lalu mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan akibat menangis tadi, “Hyuk Jae…dia meninggalkan aku” jawabnya dengan masih sedikit sesenggukkan.

Ji Hye mendengus. Ia sudah menduga kalau namja yang beberapa bulan belakangan ini menjadi kekasih Yumi itu memang namja yang brengsek. Itu sudah terlihat dari awal sebelum Yumi dan Hyuk Jae berpacaran, Yumi adalah selingkuhannya, dan akhirnya namja itu meninggalkan kekasihnya untuk bersama Yumi.

Karma berlaku, bukan?

Ji Hye menghembuskan nafas berat, “aku sama sekali tidak ahli dalam hal-hal seperti ini, tapi aku tahu satu hal yang benar. Lupakan dia. Memang mudah jika hanya mengucapkannya, tapi memang itu jalan satu-satunya. Kau cantik dan pintar, dia tidak pantas untukmu.”

“aku tidak akan bisa melupakan dia Ji Hye-ya, tidak semudah itu” ucap Yumi dengan mata yang masih sembab.

Ji hye meringis, bagaimana bisa orang yang tidak percaya akan cinta seperti dirinya harus memberikan nasihat untuk orang yang sedang patah hati?

—-

Ji Hye menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dilihatnya edisi terbaru majalah langganan eommanya tergeletak di atas meja. Ji Hye meraih majalah itu dan membukanya dengan perlahan. Dilihatnya sebuah kolom yang berjudul ‘cara menjaga keharmonisan keluarga’, Ji Hye mamandang judul itu dengan jijik. apalagi jika ia membaca nama penulisnya, Eommanya sendiri.

Ji Hye melempar asal majalah itu dan membiarkannya tergeletak di lantai. Ia sangat jengah dengan keadaan keluarganya sendiri. Eommanya adalah seorang editor sekaligus penulis di kolom di salah satu majalah, kolom yang membahas tentang ‘keluarga’ katanya. Sementara appanya adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar di Seoul. Keadaan ini membuat eomma dan appanya yang sudah tidak saling mencintai tidak bisa bercerai karena harus menjaga nama baik masing-masing. Mereka menjalani kehidupan yang palsu dengan selalu berpura-pura harmonis dan mesra jika dihadapan umum, tetapi saling memaki dibelakang.

Keadaan yang seperti ini membuat Ji Hye semakin tidak percaya dengan yang namanya cinta. Karena selama ini ia tidak pernah melihat cinta yang sesungguhnya, semua yang ia lihat itu palsu dan penuh dengan intrik.

Tiba-tiba ponsel Ji Hye berbunyi, membuatnya tersadar dari lamunannya. Dilihatnya nama Kyuhyun tertera di layar ponsel.

“yeobseo” ucap Ji Hye.

“Ji Hye-ya, kau ada dimana?” tanya Kyuhyun.

“dirumah, wae?”

“baiklah aku jemput kau sekarang ya, kau harus ikut aku. Sekarang kau siap-siap saja dan berdandan yang cantik” ucap Kyuhyun lalu memutuskan sambungan telepon.

Ji Hye memandangi ponselnya sendiri dengan bingung, “apa-apaan dia? Jemput katanya? Hah rumahnya kan hanya disebelah” cibir Ji Hye.

—-

“kita mau kemana?” tanya Ji Hye. Daritadi Kyuhyun hanya menyuruhnya ini dan itu tapi tidak bilang mereka akan kemana.

“hanya ke cafe” jawab Kyuhyun sambil tersenyum lebar, “kau harus membantuku ya?”

Kening Ji Hye berkerut, “bantu apa?”

“aku ingin memutuskan pacar-pacarku, dan kau harus berpura-pura menjadi tunanganku. Oke?”

Ji Hye membulatkan matanya, “mwo? Kau sudah gila?!”

“biar saja. Kau mau membantuku kan?” ucap Kyuhyun sambil tertawa kecil, sebelumnya ia memang sudah menduga bagaimana ekspresi Ji Hye.

Ji Hye mendengus, sahabatnya satu ini memang sangat pintar dalam hal memanfaatkannya, dan tentu saja ia juga tidak boleh kalah, pikirnya. “baiklah.. tapi bayarannya harus setimpal” jawab Ji Hye sambil tertawa.

“dasar pemeras” cibir Kyuhyun tapi ikut tertawa.

Ji Hye hanya menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun sebagai jawaban.

Gadis itu sebenarnya sedikit ragu karena takut ia akan dikeroyok oleh pacar-pacar Kyuhyun, tapi Kyuhyun menjamin hal itu tidak akan terjadi, dan Ji Hye percaya padanya.

Ji Hye dan Kyuhyun memasuki sebuah cafe yang cukup ramai diisi oleh kebanyakan yeoja, ia sempat mengira mereka semua adalah pacar-pacar Kyuhyun. Dan surprise! Ternyata tebakannya memang tepat! semua yeoja—yang masih muda dan cantik pastinya—di cafe ini memang pacar Kyuhyun.

“pegang tanganku” perintah Kyuhyun.

Ji Hye membulatkan matanya, “mwo? Tidak mau!” jawabnya setengah berteriak.

“sssttt!!! Kau bilang mau membantuku?” Kyuhyun mengerutkan keningnya.

Ji Hye manarik nafas berat, “baiklah…” ia menuruti Kyuhyun dan dengan—sedikit—ragu mulai menyambut tangan Kyuhyun yang terulur menunggu sambutannya.

Kyuhyun dan Ji Hye berjalan menuju kursi dengan saling bergandengan tangan. Seketika  semua yeoja yang berada di cafe itu menatap Ji Hye dengan pandangan marah, bingung, kaget, kesal—bermacam-macam. Jelas saja, siapa yang tidak akan kesal jika melihat namjachingu-nya bergandengan tangan dengan seorang yeoja? Terkadang Kyuhyun memang sedikit keterlaluan. Tapi yang jelas Ji Hye tidak habis pikir kenapa Kyuhyun bisa mempunyai pacar sebanyak ini, Yaa memang harus Ji Hye akui kalau Kyuhyun memang tampan, sangat tampan malah, tapi sepertinya hanya itu saja kelebihannya.

—-

Ji Hye memejamkan matanya, ingin menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Saat ini Ji Hye dan Kyuhyun sedang duduk di dekat sungai Han.

Setelah memutuskan kesembilan pacarnya, Kyuhyun langsung pergi dan mengajak Ji Hye kesini. Sebenarnya Ji Hye tidak tega juga melihat yeoja-yeoja itu, mereka terlihat sangat sedih, kecewa, dan juga marah pastinya. Yaa walaupun Ji Hye tidak percaya dengan cinta, tapi dia tetap seorang yeoja, dan ia pasti sedih jika mengalami hal itu sendiri.

“Kyuhyunnie” panggil Ji Hye.

“hm?” jawab Kyuhyun yang sedang memandangi langit sore kota Seoul.

“kenapa kau memutuskan pacar-pacarmu?” tanya Ji Hye, daritadi dia memang penasaran karena Kyuhyun belum bilang alasannya memutuskan semua pacarnya.

“aku bosan. Ingin cari yang baru” jawab Kyuhyun sambil terkekeh pelan.

Mendengar jawaban Kyuhyun yang sangat ‘ringan’ itu membuat Ji Hye mencibirnya, “cih, dasar namja. Padahal mereka semua cantik” ucap Ji Hye.

“memang, tapi bagaimana lagi, aku sudah bosan” Kyuhyun tertawa lagi.

Ji Hye memandang sahabatnya itu dengan sinis, bahkan untuk orang cantik seperti yeoja-yeoja itupun cinta tidak berpihak. Lalu bagaimana dengan yeoja seperti dirinya?

“kalau untuk yeoja cantik saja namja bisa mempermainkan, bagaimana dengan yeoja sepertiku?” ucap Ji Hye lemah tapi masih bisa didengar oleh Kyuhyun.

“maksudmu untuk yeoja yang sangat cantik sepertimu?” goda Kyuhyun.

Ji Hye mendengus, “terimakasih atas pujiannya” cibir Ji Hye.

“aku serius. Kau memang sangat cantik, tapi kau tidak pernah sadar dan selalu mengangap dirimu adalah bebek buruk rupa, padahal kau adalah angsa yang sangat anggun Ji Hye-ya” ucap Kyuhyun dengan tampang serius, membuat Ji Hye ingin tertawa melihatnya.

Ji Hye mencibir Kyuhyun, sejak kapan dia jadi baik begitu? Membuat Ji Hye bergidik ngeri membayangkan sosok Kyuhyun yang berubah menjadi baik.

Ji Hye mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun, lalu menatapnya lekat-lekat, “kau menyukaiku?” tanya Ji Hye dengan tampang serius.

Kyuhyun mendorong kening Ji Hye dengan telunjuknya, “bodoh. Mana mungkin aku menyukaimu. Aku sudah mengenalmu sejak kau masih mengompol jadi aku sudah bosan denganmu” jawab Kyuhyun sambil terkekeh pelan.

“kau pikir aku berharap kau menyukaiku? Tidak sama sekali Kyuhyunnie” ucap Ji Hye sambil menatapnya sinis.

Kyuhyun dan Ji Hye terus saling mencibir dan bercanda. Mereka memang sudah bersahabat sejak kecil. Hanya Kyuhyun satu-satunya namja yang dekat dengannya. Tidak ada namja yang berani mendekati Ji Hye karena sikap Ji Hye yang sangat dingin terhadap laki-laki, dan salah satu alasan Ji Hye bisa bersahabat dengan Kyuhyun adalah karena mereka berdua sama-sama tidak percaya pada cinta. Kyuhyun selalu bergonta-ganti pacar dan meninggalkannya jika ia sudah bosan, melihat itu membuat Ji Hye makin tidak percaya pada cinta.

“tapi…terimakasih untuk hari ini, kau sudah sangat membantuku” ucap Kyuhyun tiba-tiba sambil merangkul pundak sahabatnya itu.

Ji Hye membalas rangkulan Kyuhyun dipundaknya, “ingat ya kau harus bayar haha” ucap Ji Hye sambil tertawa.

“kenapa tertawamu menjijikan begitu, sih?” tanya Kyuhyun sambil tertawa kencang. Namja itu tidak bermaksud serius saat mengatakannya, sebenarnya Kyuhyun senang jika melihat Ji Hye tertawa, karena gadis itu jarang sekali tertawa seperti itu.

Ji Hye ikut tertawa mendengar ucapan Kyuhyun barusan, karena ia tahu kalau namja evil itu hanya bercanda. Mereka memang sudah sangat sering saling mengejek satu sama lain.

“lihat saja ya, kau akan membayar mahal tuan Cho” balas Ji Hye sambil memamerkan smirknya—yang tentu saja ia pelajari dari Kyuhyun.

Kyuhyun melepaskan rangkulannya sambil mencibir gadis itu, sepertinya ia lupa kalau Ji Hye itu paling hebat dalam urusan seperti ini, “bagaimana cara aku membayarnya?” tanya Kyuhyun dengan nada mencibir.

Ji Hye berpikir sejenak. Ia belum tahu apa yang bisa Kyuhyun lakukan untuknya karena ia sedang tidak membutuhkan apa-apa.

“nanti aku pikirkan dulu” ucap Ji Hye sambil tersenyum lebar.

—-

“maaf aku harus mengatakan ini, tapi aku tidak ingin kita bersama lagi. kau berbahagialah dengan laki-laki lain. Aku pergi, tolong jangan ganggu aku lagi. terimakasih atas kebaikanmu selama ini.”

Namja itu melepaskan genggaman tangannya dan langsung berbalik meninggalkan seorang yeoja yang berdiri sendirian ditengah hujan. Yeoja itu hanya bisa diam menatap punggung namja yang sudah selama 3 tahun ini menjadi namja favoritnya, namja yang sangat ia puja.

Namja itu masuk kedalam mobil yang berisi seorang yeoja lain. Hati yeoja yang ditinggalkan itu mencelos. Payung yang berada di tangan yeoja itu seketika terjatuh ke tanah, membuat tubuh mungilnya basah oleh hujan yang turun sore itu. Ia jatuh terduduk di tanah, hanya bisa menangis dan menangis melihat namjanya pergi bersama wanita lain.

Ji Hye terbangun dengan keringat yang mengalir deras di ditubuhnya. Kejadian itu terulang lagi di dalam mimpinya. Kejadian 4 tahun yang lalu yang membuatnya benar-benar terpuruk, dan mungkin itu adalah alasan utama ia mulai tidak percaya lagi pada cinta.

Tidak terasa air mata Ji Hye mengalir, walaupun itu hanya mimpi tapi rasa sakitnya seperti kejadian aslinya. Mimpi itu seperti menariknya kembali pada saat-saat yang sangat buruk di dalam hidup Ji Hye. Mungkin terdengar berlebihan, tapi orang yang tidak pernah mengalaminya tidak akan pernah mengerti rasanya, walau mereka bilang mengerti, mereka tidak akan benar-benar mengerti. Ji Hye buru-buru menghapus air matanya, ia tidak ingin menangisi namja yang sudah sangat menyakitinya, ia tidak ingin menjadi yeoja bodoh yang terpuruk dalam kesedihan hanya karena ditinggal oleh seorang namja.

Ji Hye melangkahkan kakinya menuruni tangga, ia sedikit heran kenapa rumahnya sunyi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan ‘nyanyian selamat pagi’ dari kedua orang tuanya.

Ji Hye menghentikan langkahnya di ujung tangga saat dilihatnya eomma dan appanya sedang menyantap sarapan dengan hening, sudah siap untuk berangkat ke kantor masing-masing. Mereka terlihat sangat santai dan seperti pasangan normal lainnya, tapi sebenarnya tidak. Mereka bukan terlihat santai, tapi mereka sedang saling mengacuhkan satu sama lain. Menganggap orang sedang duduk berhadapan itu adalah orang yang tidak saling mengenal.

“selamat pagi Ji Hye-ya. Bagaimana tidurmu? Kau bermimpi indah?” tanya nyonya Lee saat menyadari keberadaan Ji Hye.

Ji Hye tersenyum tipis, mimpi katanya? Mimpiku sangat buruk! Memangnya sejak kapan mereka peduli? Batinnya.

“kau kuliah hari ini?” tanya tuan Lee.

Ji Hye hanya menggangguk dan langsung menaiki tangga lagi menuju kamarnya. Ia tidak tahan melihat orangtuanya seperti itu. Walaupun mereka duduk bersama tetapi mereka tidak pernah saling menyapa, kalimat sapaan mereka hanyalah makian satu sama lain. Sampai kapan mereka akan berpura-pura terus seperti itu? Jika memang sudah tidak peduli satu sama lain untuk apa mempertahankan hubungan yang sia-sia?

Ji Hye menjatuhkan tubuhnya di kasur, ia ingin melanjutkan tidurnya lagi saat tiba-tiba pintu balkonnya diketuk. Dengan malas Ji Hye bangkit dan berjalan lemah kearah pintu. Ia sudah tahu siapa yang ada di balik pintu kaca itu. Cho Kyuhyun. Siapa lagi orang yang sudah berada di lantai 2 rumah tetangganya, di balkon seorang gadis, kalau bukan Cho Kyuhyun. Hanya dia yang bisa seperti itu.

“kau sudah bangun?” tanya Kyuhyun sedikit terkejut saat melihat Ji Hye tidak setengah terpejam saat membukakan pintunya.

Ji Hye tidak menjawab, ia lebih memilih berbaring lagi di kasur daripada menjawab pertanyaan yang sebenarnya Kyuhyun sudah tau sendiri jawabannya.

“kau mau tidur lagi?” tanya Kyuhyun saat melihat Ji Hye menarik selimut hingga melewati kepalanya.

Kyuhyun menyingkap selimut dari badan Ji Hye, membuat Ji Hye mendecak kesal.

“ada apa pagi-pagi menggangguku haaah?” tanya Ji Hye sambil bangkit dan mendelik kesal kearah Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum lebar, “aku ingin mengajakmu pergi”

“kemana?“ tanya Ji Hye datar. Ia tidak terlalu antusias jika diajak pergi oleh Kyuhyun, karena paling-paling Kyuhyun hanya akan mengajaknya ke toko buku, membeli kaset game baru, atau memancing. Sebenarnya Ji hye penasaran apakah Kyuhyun memandangnya sebagai seorang wanita? Karena ia selalu mengajak Ji Hye melakukan hal-hal yang harusnya bisa ia lakukan dengan teman-teman namjanya.

“kita pergi jalan-jalan. Kita nonton film dan belanja, yaa seperti berkencan. aku yang traktir” jawabnya, terlihat sangat antusias.

Ji Hye tertawa, “yak. Sepertinya kau frustasi karena belum mendapat pacar baru, sampai-sampai mengajakku berkencan” ucapnya sambil memandang Kyuhyun.

Kyuhyun ikut tertawa, “enak saja! Justru aku kasihan padamu yang sudah sangaaaat lama tidak pergi berkencan. Jadi aku ingin mengingatkanmu lagi bagaimana rasanya berkencan itu” jawabnya.

Tanpa berbasa-basi lagi Kyuhyun menarik Ji Hye agar bangkit dari kasurnya dan segera mendorong gadis itu menuju kamar mandi. Ji Hye yang sedikit aneh melihat kelakuan Kyuhyun hanya bisa pasrah menuruti si ‘tuan seenaknya’ ini. Karena percuma saja melawan Kyuhyun, ia pasti kalah.

—-

Ji Hye sedang duduk di sebuah bangku yang berada di sebuah taman yang sangat cantik. bangku-bangku itu ditata mengelilingi sebuah air mancur yang berada di tengah taman. Air mancurnya tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat indah karena dikelilingi oleh bunga yang berwarna-warni.

Ji Hye memejamkan matanya. Ia sangat suka suasana alam seperti ini. Sangat tenang. Maklum saja, karena Ji Hye tidak pernah mendapatkan ketenangan jika berada dirumahnya sendiri.

Saat Ji Hye membuka matanya, ia melihat Kyuhyun berjalan kearahnya dengan ice cream di kedua tangannya. Ji Hye tersenyum kearah Kyuhyun yang juga sedang tersenyum kearahnya.

Sebenarnya Ji Hye juga memang sudah lupa bagaimana rasanya berkencan, karena semenjak putus dengan kekasihnya dulu Ji Hye memang benar-benar menutup hatinya untuk semua orang. Ia senang karena Kyuhyun mengajaknya pergi hari ini, ‘berkencan’ bersama Kyuhyun ternyata tidak terlalu buruk.

Kyuhyun menyerahkan satu ice cream yang berada di tangannya pada Ji Hye. Hari ini Kyuhyun memang sengaja ingin menikmati waktu bersama sahabatnya, karena semenjak ia mempunyai banyak kekasih ia seperti kehilangan waktunya bersama Ji Hye.

Kyuhyun memandang Ji Hye yang sedang melahap ice creamnya, gadis itu memang sangat berbeda. Tidak peduli apapun yang sedang dilakukannya, gadis itu selalu mempesona.

“kau senang?” tanya Kyuhyun.

Ji Hye menggangguk lemah, “hmm.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat…emh entahlah ini sesuatu yang bagus atau buruk, Kyuhyun juga tidak terlalu yakin. Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah, ia mencoba menghilang pikiran itu saat ini. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

 “kemarin…aku bertemu DongHae hyung” ucap Kyuhyun lemah.

Ji Hye terdiam. Tiba-tiba hatinya terasa sangat perih, ditambah tadi malam ia baru saja terbayang kenangan buruknya bersama namja itu.

Ji Hye menatap tajam kearah Kyuhyun, “aku tidak suka mendengar namanya” ucap Ji Hye dingin.

Ji Hye benar-benar benci pada namja itu dan bahkan tidak mau walaupun hanya mendengar namanya, dan Kyuhyun sangat tahu hal itu. Tapi kenapa Kyuhyun malah menyinggung namja itu lagi di hadapan Ji Hye?

“mianhae, tapi ia ingin aku menyampaikan sesuatu padamu” ucap Kyuhyun dengan suara yang sangat pelan.

Ji Hye tidak menjawab. Ia ingin menulikan telinganya untuk beberapa saat, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia juga penasaran apa yang ingin disampaikan namja brengsek itu padanya.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat, ia seperti menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menyampaikan pesan DongHae atau tidak. Tapi di dalam hatinya seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan hal itu. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi Ji Hye jika mendengarnya, entah kenapa.

“DongHae hyung akan menikah” ucap Kyuhyun hati-hati.

DEG

Ji Hye tidak bereaksi, tapi di dalam ia seperti tersambar petir. Sangat terkejut mendengar ucapan Kyuhyun. Dia bingung harus menunjukan reaksi apa saat ini. Apakah ia harus berpura-pura tidak peduli? Atau harus menangis lagi?

Kyuhyun memandang Ji Hye dengan tatapan cemas dan tidak enak. Dilihatnya sahabatnya itu tidak bereaksi sama sekali. Apakah ia salah? Apakah seharusnya Ji Hye tidak usah tahu?

Kyuhyun memeluk tubuh Ji Hye yang seperti membeku. Dalam hati Kyuhyun meminta maaf karena telah mengingatkan Ji Hye pada orang yang sangat dibencinya.

—-

Ji Hye duduk di depan meja riasnya. Setelah mendengar pesan dari DongHae tadi Ji Hye langsung minta diantarkan pulang. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan sekarang, Ia diantara peduli dan tidak peduli dengan pernikahan DongHae. Ia peduli karena bagaimanapun DongHae pernah menjadi laki-laki yang sangat ia cintai, dan ia tidak peduli karena justru karena laki-laki itu juga lah ia tidak percaya lagi pada cinta, dan memang sudah seharusnya Ji Hye tidak mempedulikan namja yang sudah merubah hidupnya itu.

Untuk apa namja brengsek itu memberitahukan pernikahannya? Apakah namja itu mengira Ji Hye masih seorang yeoja lemah yang terus menangisinya? Salah besar jika ia berpikir begitu, batin Ji Hye.

Ji Hye memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia sangat bersyukur karena ia tidak menangis di hadapan Kyuhyun tadi. Sekarang pun ia tidak menangis. Sepertinya air matanya sudah habis untuk menangisi namja itu, terlebih lagi Ji Hye memang sudah bertekad untuk tidak pernah mengingat namja itu lagi.

Ponsel Ji Hye berdering, dilihatnya nama Kyuhyun tertera di layar ponsel. Ji Hye menghembuskan nafas panjang, dengan sedikit ragu ia mengangkat telepon itu.

“yeoboseo?” sapa Kyuhyun.

“ne, ada apa Kyu?” Ji Hye menjawab dengan suara yang sangat lemah.

“kau—tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun, dia terdengar sangat cemas. Membuat Ji Hye sedikit tidak enak padanya.

“tentu saja…” jawab Ji Hye masih dengan suara yang lemah.

Kyuhyun tidak menjawab, tiba-tiba teleponnya terputus dan Ji Hye mendengar pintu balkonnya diketuk.

Ji Hye memandang pintu balkonnya dengan sedikit ragu. Ia tidak yakin apakah harus membiarkan Kyuhyun menemuinya saat ini. Keadaannya sangat kacau, dan jujur saja ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengetuk pintu balkonnya lagi.

Dengan malas Ji Hye membuka pintu balkonnya, dilihatnya Kyuhyun sudah berdiri menunggunya.

“gwaenchana?” tanya Kyuhyun terlihat cemas.

Ji Hye tersenyum kaku, “tentu saja”

Kyuhyun mendengus, ia merasa bersalah karena telah merusak hari ini, padahal tadi siang Ji Hye terlihat sangat senang, tapi sekarang Kyuhyun benar-benar membuatnya menjadi bersedih.

“maafkan aku, seharusnya aku tidak memberitahumu” ucap Kyuhyun dengan lemah.

Ji Hye tersenyum tipis, “hei ini bukan salahmu. Aku tidak apa-apa, Kau tidak perlu cemas” ucap Ji Hye berusaha terlihat ceria.

Kyuhyun menatap mata Ji Hye yang seolah berkata kebalikannya.

“kau.. masih mencintainya?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Ji Hye menatap Kyuhyun dengan tampang terkejutnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Bagaimana mungkin Kyuhyun bertanya hal yang sangat konyol seperti itu? Kyuhyun tahu lebih dari siapapun bagaimana Ji Hye membenci namja itu.

Ji Hye membulatkan matanya, “kau gila? Tentu saja tidak!” jawabnya dengan sedikit menahan tawa.

“jeongmal?” selidik Kyuhyun, ia seperti tidak percaya dengan jawaban Ji Hye.

“tentu saja. Aku sama sekali sudah tidak mencintainya. Kebalikannya, aku sangat membencinya. Kau tahu itu Kyuhyunnie…” jawab Ji Hye meyakinkan Kyuhyun.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia tidak yakin Ji Hye jujur atau tidak, tapi ia memang sangat tahu bagaimana dulu Ji Hye sangat mencintai DongHae, dan sekarang berbalik membencinya.

“lalu  kenapa kau terlihat sangat terpukul saat mendengar ia akan menikah?” tanya Kyuhyun lagi, ia berusaha mencari tahu apakah Ji Hye sedang berbohong atau tidak.

Ji Hye mendengus, “aku sama sekali tidak terpukul. Aku hanya kaget, sudah sangat lama tidak mendengar kabarnya. Aku sendiri bingung harus peduli atau tidak, tapi setelah kupikir-pikir… aku tidak mau peduli” jelas Ji Hye.

Kyuhyun terlihat ragu, dan Ji Hye menyadari itu.

“aku sudah tidak mencintainya sejak dia meninggalkanku 4 tahun lalu. Dan sampai sekarang aku sudah tidak pernah menyukai apalagi mencintai seseorang. Kau kan tahu aku tidak percaya pada omong kosong itu” lanjut Ji Hye sambil memandang langit malam yang mendung, tidak ada satupun bintang di langit malam ini.

“kau masih tidak percaya pada cinta?” tanya Kyuhyun lagi.

Kening Ji Hye berkerut “kenapa kau bertanya? Kau sangat tahu jawabannya. Kau kan juga tidak percaya pada cinta” jawab Ji Hye sambil mengangkat bahunya tidak peduli.

Kyuhyun terdiam sejenak. Hatinya sedikit menciut saat mendengar jawaban Ji Hye.

Kyuhyun menatap Ji Hye lekat-lekat, membuat Ji Hye sedikit bingung karena ditatap begitu.

Kyuhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia memandang Ji Hye sejenak untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tidak, tidak. Ia tidak butuh itu, karena sebenarnya ia sudah sangat yakin. Ia yakin sejak 20 tahun yang lalu.

“aku… percaya pada cinta.” Ucap Kyuhyun dengan terlihat sangat serius, membuat Ji Hye sedikit terkejut.

Selama beberapa detik Ji Hye tidak menjawab, tetapi perlahan senyum mengembang di bibirnya, “benarkah? Sejak kapan?” tanya Ji Hye. Sedikit bingung harus menjawab apa, ia senang tapi tidak senang juga.

“aku selalu percaya cinta sejak 20 tahun yang lalu” ucap Kyuhyun sambil memandang wajah Ji Hye yang sedang tersenyum. Kyuhyun sedikit bingung kenapa Ji Hye malah tersenyum.

Kali ini Ji Hye benar-benar kaget. Ia memandang Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya.

“dan aku sudah mencintai seseorang selama 20 tahun ini” ucap Kyuhyun lagi. ia terdiam dan seperti berpikir sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “dan seseorang itu adalah kau”

Ji Hye tertawa pelan, “kau tidak perlu menghiburku sampai seperti itu Kyuhyunnie” ucap Ji Hye sambil sedikit mencibir Kyuhyun.

Kening Kyuhyun berkerut, “aku tidak bercanda” ucapnya sungguh-sungguh.

Ji Hye menatap Kyuhyun lekat-lekat. Sial, wajahnya memang menunjukan kalau ia tidak bercanda. Ji Hye sangat terkejut mendengar semua ucapan Kyuhyun tadi, ini jauh lebih mengejutkan dari berita yang disampaikan Kyuhyun tadi siang. Ji Hye memejamkan matanya, kenapa hal-hal seperti ini harus terjadi padanya? Ia sudah sangat bahagia memiliki Kyuhyun sebagai sahabatnya, tapi sekarang setelah semua pengakuan Kyuhyun, ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana nantinya dihadapan Kyuhyun.

ji Hye tersenyum sinis, “maaf. Tapi untuk kali ini aku tidak bisa mempercayaimu” ucap Ji Hye dingin.

Ji Hye berbalik membelakangi Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan putus asa. Kyuhyun berjalan mendekati Ji Hye yang sedang tertunduk. Ia tidak menyesal karena sudah mengungkapkan perasaannya pada Ji Hye, tapi ia sangat sedih mengetahui kenyataan Ji Hye tidak mempercayainya.

Kyuhyun memeluk tubuh Ji Hye yang mungil dari belakang, Ji Hye tidak menolak, mereka sudah dekat sejak kecil, dan tentu saja ini bukan pertama kalinya Kyuhyun memeluk Ji Hye.

“mianhae..” ucap Kyuhyun lemah sambil terus memeluk Ji Hye.

Ji Hye membeku di dalam pelukan Kyuhyun, ini bukan pertama kalinya Kyuhyun memeluknya, tapi mengapa kali ini rasanya berbeda? Apakah karena kata-kata Kyuhyun tadi? Tapi mengapa sekarang ia malah meminta maaf? Apakah tadi dia berbohong? Saat itu juga banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benaknya.

Perlahan Ji Hye melepaskan tangan Kyuhyun dari tubuhnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ji Hye berjalan pelan menuju kamarnya, meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri di depan balkonnya.

—-

Ji Hye menarik selimut hingga melewati kepalanya. Daritadi ia berusaha untuk tidur tetapi sangat sulit, bahkan untuk memejamkan matanya pun ia tidak bisa! Pengakuan Kyuhyun padanya tadi rasanya terus terngiang-ngiang dikepalanya. Ia sangat mengenal Kyuhyun jadi ia yakin kalau Kyuhyun serius. Namja itu tidak akan bercanda kalau sudah menyangkut perasaan Ji Hye karena Kyuhyun tahu Ji Hye pernah mengalami sakit hati yang sangat dalam. Tapi ia sendiri tidak habis pikir mengapa ini semua bisa terjadi. Tadi Ji Hye mengatakan kalau ia tidak percaya dengan ucapan Kyuhyun, tapi mengapa seperti ada perasaan yang mengganjal? Apakah sebenarnya ia percaya? Ia juga tidak mengerti. Selama ini Ji Hye memang selalu percaya pada Kyuhyun, apakah kali ini ia juga harus percaya?

Ji Hye meringis, Ia bingung. ia benar-benar tidak tahu apa yang ia rasakan dan apa yang harus ia lakukan sekarang. terlalu banyak kejutan hari ini. Dihidupnya yang sangat membosankan ia tidak biasa dengan semua kejutan seperti ini.

Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi sore, saat Kyuhyun bilang kalau DongHae akan menikah. Ji Hye menyentuh keningnya dengan frustasi, ia sangat benci pada otaknya yang tidak bisa menghapus bayangan namja brengsek itu. Saat ini ingatan tentang Dong Hae hanya akan membuat kepalanya bertambah pusing.

—-

Ji Hye terbangun karena suara yang sangat berisik, tapi ini bukan suara yang biasanya ia dengar. Suara berisik ini lain.

Ji Hye perlahan bangkit, ia sedikit menyipitkan matanya untuk melihat keadaan disekitarnya. Matanya langsung melebar saat menyadari kalau suara berisik itu berasal dari rumah tetangganya, dari kamar Kyuhyun sepertinya.

Ji Hye berlari menuju balkonnya, ia hampir memekik karena mendapati Kyuhyun tidur di kursi bersantai yang terdapat di balkon kamar Ji Hye. Dari balkonnya ia bisa melihat nyonya Cho berteriak memanggil anaknya yang semalaman tidak pulang, dan ternyata malah tidur di balkon rumah orang lain. Ji Hye menahan tawanya yang hampir saja meledak. ia sangat geli melihat kelakuan sahabatnya ini, selalu membuat orang lain repot saja.

Perlahan Ji Hye mengguncang tubuh Kyuhyun agar namja itu bangun, tapi bukan Kyuhyun namanya kalau mudah di bangunkan. Ji Hye melirik nyonya Cho yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak laki-lakinya itu. Ji Hye hanya bisa tersenyum canggung kearah nyonya Cho sambil berjanji kalau ia akan segera membangunkan Kyuhyun.

“Kyuhyunnie! Yak! Bangun!” teriak Ji Hye tepat di telinga Kyuhyun, membuat Kyuhyun tersentak kaget dan langsung membuka matanya.

“astaga! Kau mau membuatku tuli?!” tanya Kyuhyun setengah berteriak .

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Ji Hye tidak kalah kencang.

“aku…menunggumu..” jawab Kyuhyun dengan suara yang sangat pelan. Berbeda sekali dengan yang tadi.

Kening Ji Hye berkerut, “untuk apa?” tanyanya lagi.

“tentu saja ingin meminta maaf”

“minta maaf untuk apa? Karena kau berbohong dan membuatku cemas, huh?” cibir Ji Hye.

“aku tidak berbohong padamu” ucap Kyuhyun dengan wajah yang serius, sepertinya ia tidak terima Ji Hye menuduhnya berbohong.

Ji Hye tidak menjawab. Sebenarnya ada banyak sekali rentetan pertanyaan yang ingin Ji Hye tanyakan pada namja di depannya ini. Tapi entah kenapa ia tidak ingin menanyakannya. Ia seperti tidak ingin percaya pada ucapan Kyuhyun, tapi juga tidak ingin membantahnya.

Kyuhyun menatap Ji Hye lekat-lekat, “kau tidak percaya padaku?” tanyanya dengan mata yang menunjukan kalau ia sungguh-sungguh, tapi juga lelah, entahlah Ji Hye tidak bisa menebaknya.

Ji Hye tersenyum tipis, “aku selalu percaya padamu” ucapnya singkat.

“jeongmal?”

Ji Hye mengangguk, “iya”

“lalu?” tanya Kyuhyun.

“lalu aku ingin mandi! Sana kau pulang, badanmu sangat bau” ucap Ji Hye mengalihkan pembicaraan.

Ji Hye langsung meninggalkan Kyuhyun menuju kamarnya tanpa menengok sama sekali, tapi ia tahu kalau sahabatnya itu belum beranjak dari tempatnya.

“aku mau bicara padamu setelah kau selesai mandi” ucap Ji Hye tanpa menoleh kebelakang.

Perlahan senyum Kyuhyun mengembang. Memang ini yang ia tunggu, karena ia tahu Ji Hye tidak akan membuatnya menyimpan perasaan bingung seperti ini.

-TBC-

boyfriend’s Distress

By: YellowPurple

Cast     : Cho Kyuhyun

              Choi Senna

Genre: Romance

Length: one shot

 

aloha! ada yang suka baca manga? kebetulan aku ini pecinnnnta manga dan ff ini terinspirasi dari komik buatan Kurumatani haruko Oneesan dengan judul cerita yang sama. semoga ff ini ga mengecewakan yaa. Happy reading ;;

 

“aku menyukaimu. Aku akan membahagiakanmu lebih dari siapapun. Kau mau kan menjadi yeojachingu-ku?” ucap seorang namja.

Senna terdiam. Ia sangat terkejut dengan pernyataan cinta yang sangat tiba-tiba ini. Baru kali ini ada namja yang berkata dengan sangat tegas kalau ia akan membahagiakan Senna, dan itu Cho Kyuhyun, seseorang yang terkenal karena sikapnya yang sangat pembuat onar disekolah. Namja itu tiba-tiba menyatakan cinta padanya? Ini seperti mimpi, entahlah ini seperti mimpi indah atau mimpi yang buruk, Senna juga tidak tahu.

Senna tidak mempercayai matanya saat melihat wajah Kyuhyun yang memerah. Apakah Kyuhyun sedang gugup? Senna bahkan tidak menyangka kalau ternyata namja pemberontak dan pembuat masalah ini masih mempunyai rasa malu.

Senna berpikir sejenak, dengan—sedikit—tidak yakin akhirnya Senna mengangguk pelan, memberi jawaban atas pertanyaan Kyuhyun tadi.

“yes!” Kyuhyun berteriak senang, membuat kali ini Senna yang salah tingkah. Apakah ia sesenang itu? Pikir Senna.

“gomawo” ucap Kyuhyun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Senna hanya tersenyum. Dalam hati ia berdoa semoga keputusannya ini tidak salah.

—-

Senna sedang mengobrol di dalam kelas bersama Kyuhyun, ia sangat senang jika Kyuhyun bersikap tenang seperti sekarang ini, hanya duduk dan mengobrol, tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.

Sudah 3 bulan semenjak ‘hari penembakan’ itu. Senna sangat bersyukur karena ternyata ia tidak salah mengambil keputusan saat itu. Ia sangat beruntung karena Kyuhyun sangat menyayanginya, dan selalu berusaha menjaganya, tapi…

Ponsel Kyuhyun berdering, setelah menerima telepon Kyuhyun langsung bangkit dari kursi dengan tergesa-gesa, lalu setengah berlari keluar kelas. Senna yang bingung ikut berdiri dan berusaha mengejar Kyuhyun. Sepertinya Senna tahu apa yang terjadi.

Kyuhyun berjalan menuju tempat parkir dan segera menyalakan motornya, Senna memegang tangan kyuhyun dan berusaha menahannya agar tidak pergi.

“kau mau kemana? Ini belum jam pulang” tanya Senna.

“tadi temanku menelpon, katanya dia butuh bantuan.” Ucap Kyuhyun

Senna mendengus pasrah. Ia memandangi wajah tampan Kyuhyun yang sudah penuh dengan luka, dan ia tidak mau ada luka yang bertambah lagi.

“Kyuhyun-ah. Hari ini tolong kau jangan berkelahi” pinta Senna dengan suara lemah.

Kyuhyun hanya memandang Senna dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, ia seperti ingin menuruti Senna tapi juga tidak bisa mengabaikan permintaan teman-temannya.

Kyuhyun tersenyum, “kau tidak usah khawatir” ucapnya.

Kyuhyun memakai helmnya dan langsung melesat kencang dengan motornya, Senna hanya bisa menghembuskan nafas pasrah melihat Kyuhyun. Inilah yang tidak ia sukai dari Kyuhyun. Namja itu tidak pernah memikirkan keselamatan dirinya, membuat Senna selalu khawatir.

—-

Senna berjalan lemah menuju kelasnya, yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa agar Kyuhyun tidak terluka. Ia tidak tega setiap melihat luka yang terus bertambah di tubuh Kyuhyun.

“aku…tidak suka sifat Kyuhyun yang seperti itu” ucap Senna lemah pada Yuri—temannya.

“kau memang harus sabar menghadapinya” ucap Yuri, ia sendiri sebenarnya bingung harus menjawab apa, karena seluruh sekolah juga tidak suka pada sifat Kyuhyun yang pembuat onar.

“aku tidak suka sifatnya yang terlalu baik” lanjut Senna.

Yuri memandang Senna dengan tatapan tidak percaya, ia kaget mendengar ucapan Senna. Kyuhyun terlalu baik katanya? Namja itu kan selalu membuat masalah.

“hah? Terlalu baik bagaimana? Dia kan sedang berkelahi” ucap Yuri hati-hati.

“dia kan berkelahi untuk membantu temannya, karena itu dia sangat baik dan setia kawan” jawab Senna tegas. Menurutnya Kyuhyun memang sangat baik, dan sebenarnya penyayang.

Kening Yuri berkerut, “bukan itu masalahnya, tapi berkelahi kan perbuatan yang—“

“selain itu, dia juga sangat menyayangiku dan selalu menjagaku” ucap Senna memotong ucapan Yuri.

“eh? Benarkah?” tanya Yuri, seperti tidak percaya.

“tentu saja, misalnya..”

Tiba-tiba pintu kelas Senna terbuka dan Kyuhyun bersama teman-temannya muncul dari balik pintu.

“Kyuhyun-ah” panggil Senna dengan ceria saat melihat Kyuhyun baik-baik saja, setidaknya luka ditubuhnya tidak bertambah.

Senna langsung menghampiri Kyuhyun dan meninggalkan Yuri yang sekarang sedang merengut sebal karena daritadi ucapannya tidak didengar oleh Senna. Tapi Senna tidak peduli, saat ini yang ia pikirkan hanya kondisi Kyuhyun.

Senna memperhatikan wajah dan tubuh Kyuhyun dengan seksama. Ia takut Kyuhyun terluka dan menyembunyikannya dari Senna.

“ada apa?” tanya Kyuhyun, bingung dengan tingkah Senna.

“kau tidak terluka kan?” tanya Senna dengan wajah seriusnya, membuat Kyuhyun ingin tersenyum jahil.

“tentu saja tidak” jawab Kyuhyun membanggakan diri.

Senna tersenyum lebar, “syukurlah” katanya sambil memeluk Kyuhyun dengan manja.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah Senna yang sangat manja.

“Kyuhyun-ah, ayo kita adakan pesta perayaan” ucap salah satu teman Kyuhyun.

“eh? Perayaan apa?” tanya Senna penasaran.

“perayaan kemenangan. Karena Kyuhyun datang membantu jadi tadi kami menang berkelahi” jawab teman-teman Kyuhyun dengan bersemangat.

“tidak. Kau tidak boleh ikut” ucap Kyuhyun dengan tegas, dan langsung menggandeng Senna menjauh dari teman-temannya.

Senna merengut, ia sebal karena selalu dilarang ini dan itu oleh Kyuhyun, “kenapa tidak boleh sementara kau boleh?” tanya Senna dengan sedikit kesal.

“Aku ini berbeda denganmu, lagipula mereka suka ribut, bisa-bisa berkelahi lagi. aku tidak mungkin membiarkanmu ketempat berbahaya seperti itu” jawab Kyuhyun.

“tapi kalau itu tempat yang berbahaya kenapa kau akan datang?” tanya Senna lagi sambil cemberut.

“aku juga tidak akan datang. Ini sudah sangat sore, aku akan mengantarmu pulang. Kajja” ucap Khuhyun.

Senna tersenyum kearah Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya karena bingung dengan sikap Senna. Senna menggandeng lengan Kyuhyun dengan manja, ia senang Kyuhyun selalu berusaha menjaganya. Itulah yang pertama, walaupun Kyuhyun suka melakukan hal yang berbahaya tapi ia tidak akan membiarkan atau melibatkan Senna pada situasi yang berbahaya.

“apa kau sedang menungguku disekolah?” tanya Kyuhyun.

Senna menggangguk, “iya…aku sangat khawatir padamu” jawab Senna.

“bodoh. Kan sudah kubilang kau tidak usah mengkhawatirkan aku” ucap Kyuhyun sambil memandang Senna dengan tajam.

Senna mendecak kesal, “bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu? Aku kan mencintaimu!” ucap Senna.

Kyuhyun tersenyum lebar, “mianhae. Lain kali kau tidak usah khawatir. Aku ini kuat, tidak akan terjadi apa-apa padaku” ucapnya sambil bercanda dengan memamerkan otot-otot tangannya.

Senna tertawa, “kalau begitu berjanjilah untuk tidak pernah membuatku khawatir lagi?” ucap Senna sambil menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus, “baiklah” jawabnya sambil ikut tersenyum manis, tapi ia tidak ikut mengulurkan jari kelingkingnya, namja seperti dia mana mungkin melakukan hal yang konyol—menurutnya—seperti itu.

—-

Kyuhyun melahap bekal makan siang yang dibuat oleh Senna untuk mereka berdua. Saat ini mereka sedang istirahat makan siang, dan seperti biasa mereka menghabiskan waktu istirahat diatap gedung sekolah. Karena Kyuhyun tidak suka jika banyak orang makannya Senna harus menuruti—sebenarnya dengan senang hati—ajakan Kyuhyun untuk selalu menghabiskan jam istirahat di atap gedung sekolah.

“hari minggu nanti mau jalan-jalan?” tanya Kyuhyun sambil mengunyah makanannya.

Senna tersenyum lebar, “kencan?” tanyanya dengan antusias. Ia sangat senang jika Kyuhyun mengajaknya jalan-jalan. Karena hal itu jarang sekali terjadi.

“hmm mmm” Kyuhyun hanya mengangguk pelan sambil berdehem karena iya tidak bisa menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan. Menurutnya bekal buatan Senna memang yang paling enak.

“tentu saja aku mau” jawab Senna dengan riang. “kita naik motormu?” tanyanya lagi dengan senyum yang sangat lebar. Berharap kali ini Kyuhyun bisa melihat kalau ia memang sangat ingin diboncengi naik motor oleh Kyuhyun.

“tentu saja tidak” jawab Kyuhyun tegas.

Senna menghembuskan nafas pasrah. Inilah yang kedua, Kyuhyun tidak pernah membiarkannya naik motor, alasannya karena telalu berbahaya katanya. Padahal Kyuhyun sendiri selalu naik motor kemana-mana—kecuali jika bersama Senna.

Senna mempoutkan bibirnya sambil menatap Kyuhyun yang sedang asyik menyantap makan siangnya. Raut wajah Senna berubah menjadi sedih ketika sadar luka di wajah Kyuhyun bertambah lagi.

“kalau begitu…aku…akan ikut tes untuk dapat surat izin berkendara” ucap Senna tiba-tiba. “kalau kau tidak mau memboncengiku, aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi, dengan begitu aku bisa menjagamu” tambah Senna sambil tersenyum tipis. Bibirnya tersenyum tapi sebenarnya hatinya tidak. Hatinya penuh ke khawatiran terhadap Kyuhyun, dan ia merasa memang harus melakukan itu agar ia bisa terus berada di dekat Kyuhyun sehingga dia bisa memastikan kalau Kyuhyun tidak akan terluka.

Kyuhyun tersedak mendengar ucapan Senna, matanya langsung melotot sambil memandangi kekasihnya yang juga sedang menatapnya dengan wajah polosnya.

“ya! Jangan melakukan hal bodoh seperti itu” ucapnya setengah berteriak, “naik motor itu lebih berbahaya” tambahnya ketika melihat wajah kecewa Senna.

Senna mendengus, ia sudah tahu kalau Kyuhyun akan berkata seperti itu. Karena sudah puluhan, ah tidak, ratusan kali Kyuhyun mengatakannya. “tapi kau sendiri naik motor” ucap Senna tidak mau kalah.

Kyuhyun mendecak kesal, “ck, kan sudah kubilang aku ini berbeda denganmu”

“apanya yang berbeda? Aku ini kan bukan putri, aku ini pacarmu Kyuhyun-ah” ucap Senna sambil mempoutkan bibirnya.

Kyuhyun yang melihatnya tanpa sadar mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Senna dengan gemas, “tapi bagiku kau ini seperti putri” ucapnya sambil tersenyum manis.

Blush. Pasti wajah Senna sudah memerah sekarang. Kyuhyun memang orang yang suka membuat onar dan pemberontak, tapi Senna tahu hatinya sangat lembut.

Senna ingin tertawa mengingat kembali ekspresi Kyuhyun saat mengatakannya tadi, sangat aneh rasanya melihat orang yang tubuh dan wajahnya penuh luka, tetapi mengatakan hal yang sangat romantis seperti itu. Sangat tidak cocok! Pikir Senna dalam hati.

Senna terdiam sambil menunduk. Sebenarnya ia sangat kecewa dan sedih dengan sikap Kyuhyun yang seperti itu. Sikapnya yang tidak mau mendengarkan orang lain, sikapnya yang selalu mendahulukan orang lain walaupun harus membahayakan dirinya sendiri. Ia sangat tidak suka itu.

Kyuhyun memandangi Senna yang sedang menunduk, “sudah jangan dipikirkan. Pokoknya kau jangan pernah melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Jangan pernah membuatku cemas” katanya sambil merebahkan dirinya, hendak bersandar dipangkuan Senna. Ya itu memang kebiasaan Kyuhyun, setelah makan siang, Kyuhyun pasti tertidur dipangkuan Senna.

Senna membelai lembut rambut Kyuhyun yang sangat halus, dan memperhatikan wajah tampan Kyuhyun yang penuh luka dan plester. Lukanya bertambah lagi, apa kemarin ia berkelahi lagi sepulang mengantarku? Pikir Senna.

—-

Kyuhyun dan Senna berjalan menuju kelas karena jam istirahat sudah selesai. Senna melirik tangannya yang digenggam erat oleh Kyuhyun. Ia senang jika Kyuhyun berjalan bersamanya seperti ini, tidak terburu-buru seperti biasanya.

“kyuhyun-ah. Hari ini kau jangan ber—“ Senna hendak mengucapkan sesuatu saat tiba-tiba ada yang berteriak memanggil nama namjachingunya itu.

“Kyuhyun-ah!!”

Senna dan Kyuhyun langsung menoleh kearah suara dan sedikit terkejut ketika melihat Tae Sung—teman Kyuhyun—berlari sambil berteriak memanggil nama Kyuhyun.

“ada apa?” tanya Kyuhyun dengan wajah seriusnya

“ayo bantu kami!” teriak Tae Sung lagi.

“oke” jawabnya tenang. Kyuhyun menoleh kearah Senna yang sedang menatapnya dengan kesal. “aku pergi dulu, kau kembali saja ke kelas” ucapnya kepada Senna.

Wajah Senna berubah menjadi sangat muram, ia bahkan belum selesai bicara tapi Kyuhyun sudah ingin berkelahi lagi. senna menahan genggaman tangan Kyuhyun yang hendak dilepas. Ia berjalan pelan mendekati Kyuhyun lalu memeluknya, “jangan pergi. Jangan berkelahi lagi” ucap Senna di dalam pelukan Kyuhyun. Senna tidak melihat kearah Kyuhyun, ia tidak ingin bertatap mata dengannya.

Kyuhyun tersenyum, sebenarnya ia senang Senna tidak memandangnya, karena ia tidak ingin wajahnya yang memerah terlihat oleh gadis itu. pelan-pelan Kyuhyun melepaskan pelukan Senna ditubuhnya, “kan sudah kubilang kau tidak usah khawatir” katanya sambil tersenyum menenangkan.

Senna melepaskan pelukannya dan hanya bisa memandang punggung Kyuhyun yang bergerak menjauh.

“kau hati-hati ya! Jangan sampai terluka!” Senna berteriak dikoridor. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandangan dengan pandangan yang..emh..bermacam-macam.

Tiba-tiba Kyuhyun menghentikan langkahnya dan langsung berbalik sambil menatap tajam kearah Senna.

Senna bingung melihat Kyuhyun yang berjalan kearahnya dengan tatapan tajam. Apakah aku salah bicara? Pikir Senna.

Kini Kyuhyun berdiri tepat dihadapan Senna, ia masih menatapnya dengan tajam. Cup! Senna tidak sempat bertanya karena setelah itu Kyuhyun langsung mengecup bibirnya dengan singkat.

“bodoh. kan sudah kubilang kau tidak perlu cemas” ucap Kyuhyun tegas dengan wajah yang merona merah.

Senna sangat terkejut, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum, manis sekali Cho Kyuhyun-ku.

—-

Senna merebahkan tubuhnya dikasur. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Yang ada di dalam pikirannya hanya Kyuhyun. Senna memandangi ponselnya yang tidak juga bergeming semenjak pulang sekolah tadi. Kyuhyun belum memberinya kabar. Apakah Kyuhyun sudah pulang? Apa dia terluka? Dia baik-baik saja kan? Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Kyuhyun, dan rasanya ia ingin cepat-cepat pagi dan bertemu Kyuhyun disekolah.  Entah kenapa malam ini perasaannya sangat gelisah.

Senna memeluk punggung Kyuhyun dengan erat, angin berhembus menerpa wajahnya dengan lembut.  motor besar Kyuhyun membelah jalanan kota yang cukup ramai. Senna mengeratkan pelukannya ketika tiba-tiba Kyuhyun menambah kecepatan motornya, ia sangat senang saat ini. Akhirnya Kyuhyun mau memboncengnya berjalan-jalan.

Kriiinggg Kringggg!!!

Senna terkejut mendengar suara ponselnya. Ia melirik jam di dinding, keningnya berkerut saat tahu sudah jam 8 malam sekarang. Ia tersadar dan menghembuskan nafas kecewa. “mimpi yang indah” gumamnya lemah pada diri sendirinya.

Senna melirik handphonenya yang masih berbunyi nyaring, lagi-lagi keningnya berkerut ketika melihat nomor yang tidak dikenalnya tertera di layar ponselnya.

“yeoboseo?” sapa Senna.

—-

Senna berlari di dalam koridor rumah sakit. Setelah mendapat telepon dari Tae Sung, Senna langsung bergegas pergi kerumah sakit. Dadanya sangat sakit. Jangtungnya berdetak dengan sangat kencang saat ini. Ia tidak ingin membayangkan hal-hal yang mengerikan tentang Kyuhyun. Ia sempat menangis membayangkan Kyuhyun yang terluka sekarang.

Senna melesat masuk keruangan tempat Kyuhyun berada. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika melihat Kyuhyun yang terbaring di tempat tidurnya. Kepalanya berdarah dan diperban, tangan dan kakinya juga diperban. Hati Senna mencelos melihat orang yang selalu kuat kini terbaring lemah tidak berdaya dengan luka disekujur tubuhnya.

Kyuhyun sedikit terkejut ketika menyadari Senna yang berada di ambang pintu sedang berjalan mendekati ranjangnya.

“kenapa kau disini?” tanya Kyuhyun pada Senna

Senna menyipitkan matanya, “kenapa bertanya begitu? Sudah jelas aku kesini karena mendengar kau terluka” ucap Senna dengan sedikit tidak sabar.

Kyuhyun mendecak sambil melihat jam di dinding. “bodoh. Ini sudah sangat malam. Siapa yang memberitahu Senna tentang hal ini?” ucap Kyuhyun sambil menatap tajam kearah teman-temannya yang juga sedang berada di ruangan itu.

“aku hanya luka ringan. Tae-sung, antarkan Senna pulang. Jangan biarkan ia pulang sendiri” ucap Kyuhyun lagi.

Inilah yang ketiga, Kyuhyun tidak akan membiarkan Senna pergi malam-malam, bersamanya saja Kyuhyun tidak akan mengijinkan, apalagi jika ia Sendirian seperti ini. ia harus selalu memastikan bahwa Senna dalam keadaan aman. Tapi bukan ini yang diharapkan Senna sekarang.

Senna menatap Kyuhyun tidak percaya. Apa-apaan sih dia ini? Dalam keadaan seperti ini dia malah berpikir seperti itu?

“Se…senna-ssi, maaf aku sudah membuatmu cemas dan pergi malam-malam begini. Mari aku antar kau pulang” ucap Tae sung. Sepertinya sedikit merasa bersalah.

Senna memandang Tae sung dengan kesal. Dalam hatinya ia mengeluh apakan anak ini sama bodohnya dengan Kyuhyun? Kenapa dia harus minta maaf, dia kan melakukan hal yang benar—bagi Senna.

“sebaiknya kau pulang dengan Tae Sung. Ini sudah sangat gel—“

“Kau bodoh Kyuhyun-ah!” belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya Senna sudah memotongnya, dan kali ini Senna setengah berteriak, membuat Kyuhyun sedikit terkejut.

“bodoh. Padahal kau bilang aku tidak perlu cemas. Tapi ternyata kau malah terluka dan membuatku sangat cemas?! Kau sangat bodoh!” Senna berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Kyuhyun menatap Senna dengan mata yang mengatakan jelas kalau ia menyesal telah membuat Senna khawatir. “mianhae” ucapnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Senna.

—-

Air mata Senna sudah tidak bisa terbendung lagi. perasaannya saat ini sangat sulit untuk dijelaskan. Ia cemas, kesal, sedih, kecewa, rasanya semua perasaan yang tidak menyenangkan berkumpul menjadi satu. Ia memandang Kyuhyun yang juga sedang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan, entahlah, Senna juga tidak mengerti dengan arti pandangan itu.

Senna membalikan tubuhnya, tanpa berkata apa-apa lagi Senna berjalan cepat keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia berjalan menyusuri koridor dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia tidak menghiraukan Kyuhyun yang berteriak memanggilnya. Senna tersenyum kecut. Sepertinya Kyuhyun memang baik-baik saja, karena ia masih bisa berteriak dan menggertak seperti itu.

Senna berjalan menyusuri jalanan kota Seoul dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Bagaimana bisa Kyuhyun masih mencemaskannya padahal dia sendiri dalam keadaan lemah seperti itu? Senna merasa sangat tersanjung dengan sikap dan semua perhatian dari Kyuhyun, tapi bukan itu yang ia harapkan. Ia hanya ingin Kyuhyun sekali saja memikirkan dirinya sendiri. Ia ingin sekali Kyuhyun mengerti kalau ia benar-benar khawatir dan tidak ingin Kyuhyun terluka.

Senna berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk Kyuhyun, setidaknya ia ingin sekali saja dirinya berguna dimata Kyuhyun, ia lelah dianggap lemah, walaupun mungkin seperti itu kenyataannya tapi Senna ingin juga bisa menjaga orang yang ia cintai.

Senna membulatkan tekatnya. Ya, dia harus melakukan itu. Ia harus tegas.

—-

Sudah seminggu berlalu, dan kabarnya kemarin Kyuhyun sudah keluar dari rumah sakit. Ya, semenjak hari itu ia memang tidak pernah bertemu dengan Kyuhyun lagi. ia tidak ingin melihatnya dalam keadaan seperti itu. Jangankan melihatnya, mengingatnya saja sudah membuat perasaannya sangat sedih.

Senna sedang berada di dalam kelas ketika ia mendengar murid-murid berkerumun dan mulai ribut-ribut tidak jelas. Senna yang tidak terlalu berminat dengan hal itu tidak menghiraukannya sama sekali sampai keributan itupun berakhir di kelas Senna.

Senna melihat Kyuhyun sedang berdiri di ambang pintu kelasnya. Oh jadi ini yang membuat heboh tadi? Tanyanya lebih kepada diri sendiri. Sebenarnya Senna tidak terkejut dengan kemunculan Kyuhyun, tentu saja ia sudah tahu sebelumnya. Mata Senna bertemu dengan mata Kyuhyun, ya, Kyuhyun menatapnya tepat dikedua matanya. Tatapan mata yang sangat dirindukan Senna, ingin sekali ia berlari dan memeluk namja itu.

Senna berjalan pelan kearah Kyuhyun yang sedang berdiri bersama teman-temannya di ambang pintu kelasnya. Perasaannya sangat lega melihat Kyuhyun sudah kembali pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Kyuhyun tersenyum melihat Senna berjalan kearahnya, tapi tidak lama keningnya berkerut saat ia melihat keadaan Senna saat ini. Dari jarak sedekat ini Kyuhyun bisa melihat jelas kondisi kaki dan tangan Senna yang penuh luka lecet, plester, dan bahkan perban. Rok sekolahnya yang diatas lutut dengan jelas menunjukan semua luka itu. Kyuhyun menatap tajam kearah Senna, ia menuntut penjelasan atas apa yang ia lihat sekarang.

Tanpa Kyuhyun perlu berkata Senna sudah tahu pasti apa yang ada di pikiran Kyuhyun sekarang, dan ia juga tahu apa arti tatapan tajam Kyuhyun ini.

Senna menarik nafas dalam-dalam, ia memandang Kyuhyun dan berusaha—dengan keras—tersenyum seperti biasanya. “aku…mengikuti tes untuk ijin berkendara” ucap Senna ragu-ragu.

Mata Kyuhyun melebar, ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Senna barusan. “apa? Kau benar-benar melakukannya?” Kyuhyun berkata sambil menatap Senna dengan tajam, tetapi nada khawatir tidak bisa ia sembunyikan.

“ne!” jawab Senna dengan pasti. “kau selalu melarangku melakukan perbuatan berbahaya padahal kau sendiri melakukannya, kau selalu berkata untuk tidak mencemaskanmu tapi kenyataannya kau selalu membuatku cemas dan khawatir. Kau tahu itu kenapa? Karena aku menyayangimu, aku tidak ingin kau terlibat masalah apalagi sampai terluka” ucap Senna panjang lebar dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

Kyuhyun terdiam.

“kau selalu mendahulukan orang lain dan tidak pernah memikirkan keselamatanmu sendiri. Apa kau tahu aku sangat khawatir saat mendengar kau terluka dan sampai dirawat? Kau beruntung karena hanya luka ringan, bagaimana kalau kau sampai mati?” lanjut Senna lagi, kali ini ia tidak bisa menahan air mata yang sudah berada di ujung pelupuk matanya.

Kyuhyun masih terdiam.

“kalau kau tidak mau mengajakku naik motor denganmu, biarkan aku mengikutimu sehingga aku bisa tahu kau pergi ketempat yang berbahaya atau tidak, dan kalau kau tidak mau menjaga dirimu sendiri, biarkan aku yang menjagamu. Aku akan berusaha menjagamu seperti kau menjagaku selama ini.” Ucap Senna dengan senyum yang kaku, sangat jelas terlihat kalau Senna memaksakan tersenyum padahal hatinya sedang sangat tidak karuan.

Senna memandang Kyuhyun yang daritadi hanya menunduk lalu menghembuskan nafas berat, ”Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi. kalau kau terluka, biarkan aku ikut terluka bersamamu Kyuhyun-ah” ucap Senna dengan lemah, tapi semua kata-kata itu tulus ia ucapkan dari dalam hatinya.

Lagi-lagi Kyuhyun hanya terdiam mendengarkan rentetan ucapan Senna. Setelah beberapa saat mereka saling terdiam Kyuhyun tiba-tiba membalikan badannya, membuat Senna bingung dengan sikap Kyuhyun yang seperti itu. Teman-teman Kyuhyun yang saat itu menjadi penonton juga hanya bisa terdiam dan memandang bingung kearah mereka berdua. Sepertinya mereka berada di tempat yang salah di waktu yang salah juga, pikir Tae Sung.

Kyuhyun berjalan lemah menjauh dari Senna. Senna yang tidak mengerti dengan sikap Kyuhyun segera menyusulnya dan memanggil-manggil namanya.

—-

Kyuhyun menghentikan langkahnya ketika mendengar Senna memangil namanya. Alis Senna bertautan saat melihat pundak Kyuhyun yang bergetar. Ia makin tidak mengerti dengan namja ini, pikirnya.

Senna membalikan tubuh Kyuhyun yang daritadi membelakanginya. Mata Senna melebar, dan dengan refleks ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Apa yang dilihatnya sekarang benar-benar tidak bisa dipercaya. Ia hampir tidak mempercayai matanya, Kyuhyun menangis. SEORANG CHO KYUHYUN MENANGIS?!

Senna menatap Kyuhyun dengan takjub, ia sangat terkejut dengan reaksi Kyuhyun ini. teman-teman Kyuhyun yang daritadi berada bersama mereka juga sepertinya tidak kalah terkejut dengan Senna, hal itu bisa terlihat jelas dari ekspresi mereka yang membulatkan matanya dengan mulut yang menganga.

Senna menatap Kyuhyun dengan khawatir tapi juga bingung, apakah badannya sakit lagi? ia kenapa?

“kau..kenapa?” tanya Senna sambil menyentuh lembut pipi Kyuhyun.

“aku..kau..kenapa berkata seperti itu?” jawab Kyuhyun lemah.

“ap..apa?” tanya Senna lagi, ia bingung karena banyak sekali kalimat yang ia ucapkan dari tadi pada Kyuhyun.

“kenapa kau berkata tentang kematian? Melihat tubuhmu penuh luka saja sudah membuatku sangat sedih, aku tidak sanggup membayangkan jika hal itu ternyata padamu atau padaku, karena aku tidak ingin kita berpisah” ucap Kyuhyun dengan pundak yang masih bergertar.

Senna mengerjapkan matanya beberapa kali, ia butuh beberapa saat untuk bisa mencerna kata-kata Kyuhyun barusan. Jadi karena hal itu Kyuhyun menangis?

“aku…tidak ingin mati dan berpisah denganmu” ucap Kyuhyun dengan suara yang lemah tapi masih bisa didengar oleh Senna. “mulai sekarang…aku akan berhenti naik motor, dan  juga akan berhenti berkelahi. Aku tidak ingin kau mengikutiku dan membuatmu ikut terluka. Kau tidak perlu menjagaku, karena akulah yang akan menjagamu” lanjut Kyuhyun.

Senna memandang Kyuhyun yang berdiri tepat di hadapannya. Walaupun Kyuhyun menunduk tapi Senna bisa melihat wajah Kyuhyun yang merona merah. Senna tersenyum tipis. bahu Kyuhyun yang bergetar, dan wajahnya yang merona merah saat mengatakan hal yang baru saja ia katakan, membuat Senna tidak bisa menjelaskan lagi bagaimana perasaannya terhadap namja ini. Ia tahu rasa sukanya pada Kyuhyun selalu meningkat setiap harinya, tapi ia tidak menyangka jika hari ini Kyuhyun benar-benar membuatnya seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Perlahan Senna berjalan mendekati Kyuhyun yang masih berdiri mematung di depannya. Senna memeluk tubuh Kyuhyun yang terasa sangat lemah saat ini. Kyuhyun yang biasanya selalu terlihat kuat kini lemah dan menangis karena dirinya? Senna sendiri tidak percaya dengan hal itu.

“apa kau sungguh-sungguh?” tanya Senna sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat.

“tentu saja, aku tidak pernah melanggar ucapanku sendiri” ucap Kyuhyun.

Senna tertawa kecil, namja ini masih saja membanggakan dirinya.

“kalau begitu, mulai sekarang kita berjalan pelan saja sambil bergandengan tangan, tidak perlu terburu-buru seperti dulu” ucap Senna kepada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban ucapan Senna. Senna mempererat pelukannya dan memberikan senyuman termanisnya untuk Kyuhyun.

 

END