An Extraordinary Love Story

An Extraordinary Love Story

Author            : YellowPurple

Cast     : Kim Min Young

              Lee Sung min

               Other cast

Genre:  Romance

“aku tidak pernah tahu jika mencintai seseorang akan seindah sekaligus sesakit ini.”

 

Tuesday, 29th January 2008.

Aku masih duduk dikelas dua di Sekolah Menengah Pertama saat semuanya bermula. Saat itu sudah sore hari, jam pelajaran disekolahku juga telah berakhir. Aku sedang berjalan menuju pintu gerbang bersama teman-temanku, ingin segera pulang kerumah karena lelah setelah berjam-jam belajar. Saat itulah tiba-tiba ada  seorang anak laki-laki menghampiriku. Wajahnya terlihat gugup, dan malu-malu. Anak laki-laki itu tersenyum kaku kearahku, dan kearah teman-temanku.

Tiba-tiba saja anak itu mengucapkan sesuatu yang langsung membuat aku, dan teman-temanku melongo karena terkejut. Dia bilang ingin menjadi kekasihku! Tentu saja ini hal yang sangat aneh, dan sangat tiba-tiba bagiku. Dia bukan temanku, dan bahkan kami juga tidak pernah mengobrol walau sekali. Tapi, tanpa berpikir lama aku langsung mengangguk pelan mengiyakan. Aku menerimanya.

Sebenarnya, aku juga telah menyukainya lebih dulu. Hanya saja aku tidak pernah berani mengatakannya pada siapapun, termasuk pada teman-temanku. Nama anak laki-laki itu Lee Sungmin, dia adalah seorang yang sangat populer disekolahku. Tentu saja, karena dia adalah ketua siswa disekolahku.

Walaupun banyak sekali yang memandangnya dengan pandangan aneh, tapi aku tahu Sungmin adalah orang yang baik. Ia selalu tersenyum kepada setiap orang yang bahkan tidak dikenalnya, senyuman ramahnya telah mencuri perhatianku selama ini. Dan itu salah satu alasan mengapa aku diam-diam menyukainya. Dan kini, setelah mengetahui ia memiliki perasaan yang sama denganku, tentu saja membuat rasa sukaku bertambah berlipat-lipat.

Selama berpacaran dengannya, tidak pernah ada sesuatu yang spesial. Bahkan bisa dibilang hubungan kami berada dititik yang ‘mengkhawatirkan’. Dia sangat jarang meneleponku, atau bahkan mengirim pesan untukku. Kami juga tidak pernah mengobrol ketika disekolah, aku bahkan mendengar banyak gosip yang kurang menyenangkan dari orang-orang tentang hubunganku dengan Sungmin. Tapi aku tidak peduli. Aku sangat mempercayainya, walaupun ia tidak pernah berkata langsung padaku, tapi aku tahu dia tidak membohongiku, karena ia memperlakukanku dengan istimewa.

Setiap orang yang mengetahui aku berpacaran dengannya pasti langsung menatapku dengan pandangan seolah aku telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Aku tahu mengapa mereka melihatku seperti itu, dan aku tidak peduli, sungguh! Aku juga menyadari sikap Sungmin yang sedikit ‘aneh’ dan ‘berbeda’ dari kebanyakan anak laki-laki disekolahku. Sikapnya itu memang sedikit seperti seorang anak perempuan, ia sangat lembut, dan mungkin juga terlihat kemayu. Ia juga terlihat lemah, tetapi aku tahu sebenarnya ia kuat. Kita tidak boleh melihat orang dari luarnya saja, kan?

Sudah kubilang kan kalau aku tidak peduli? Aku benar-benar menyukainya. Bahkan dengan semua kejadian yang aku alami saat berpacaran dengannya, saat aku sama sekali tidak diperlakukan seperti kekasihnya, aku tetap sangat menyukainya. Aku juga tidak tahu mengapa.

Sunday, 30th March, 2008.

Dua bulan setelah hari itu, tanpa alasan yang jelas, Sungmin memutuskan hubungannya denganku. Seperti kebanyakan anak perempuan lainnya—diusia yang masih sangat,sangat muda—saat itu hatiku hancur berkeping-keping. Mengingat hal itu aku jadi ingin tersenyum geli, sikapku sangat berlebihan waktu itu. Pada malam kami putus aku menangis, saat disekolah keesokan harinya aku menangis, melihatnya lewat didepan kelasku saja aku kembali menangis. Hari-hari yang sangat melelahkan. Mungkin jika ia melihatku menangis, dia akan sadar betapa aku menyukainya. Tapi kebalikannya, dia sangat benci jika aku menangis. Sungmin bilang dia benci seseorang yang lemah. Entah itu untuk semua orang, atau hanya untukku.

Salah seorang sahabatku yang tidak tahan melihatku yang seperti itu, langsung melabrak Sungmin, dan memaharahi anak laki-laki itu tanpa sepengetahuanku. Aku hanya diberitahu oleh sahabatku yang lain. Katanya ia memarahi Sungmin, dan menarik kerah baju Sungmin hingga tiga kancing teratasnya lepas dari jahitannya.

Berbeda dengan sahabatku yang berani bertindak tegas, aku hanya bisa diam menahan perasaan sakit yang kukira akan bisa hilang dalam waktu cepat. Kukira. Tapi ternyata berhari-hari, berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan, aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran, perasaan, dan debaranku jika mendengar segala sesuatu tentang Sungmin.

Aku menghindarinya dengan segala cara yang aku bisa. Aku benar-benar ingin melupakannya. Berbeda denganku yang sangat terlihat mencolok sedang menghindar, Sungmin malah bertindak seperti biasa, seperti saat kami  masih berpacaran. Aku selalu mengalihkan wajahku ketika tidak sengaja berpapasan dengannya, tapi ia malah menatapku dan tersenyum manis seperti biasa. Aku sangat tidak tahan dan tidak mengerti dengan sikapnya itu.

July, 2008.

Empat bulan berlalu, dan kini aku sudah berada di tahun terakhir disekolahku. Setelah waktu yang cukup lama itu, aku masih tetap menghindarinya. Sampai tiba-tiba Sungmin menghubungiku. Ia benar-benar bersikap seperti biasa, padahal ia sangat tahu kalau aku belum bisa melupakannya, dan tentu saja ia tahu kalau aku masih menyukainya. Selama aku menghindarinya, aku tahu ia tidak pernah dekat dengan gadis lain, mungkin juga memang karena sifatnya yang ‘unik’ itu. Tapi entah mengapa, aku masih merasa aku spesial bagi Sungmin, atau itu hanya harapanku saja?

Setelah saling berhubungan lagi, aku kembali dekat dengan Sungmin, dan aku sangat senang karena hal itu. Dan gawatnya, aku semakin menyukainya. Sahabat-sahabatku selalu bertanya mengapa aku bisa sangat menyukai orang yang bahkan tidak pernah benar-benar menyukaiku, ditambah lagi sikap Sungmin yang terlihat bukan seperti laki-laki sejati, membuat mereka bertambah heran. Dan sialnya, aku tidak pernah tahu jawaban dari pertanyaan itu. Mereka harus benar-benar mengetahui isi hatiku jika ingin tahu jawabannya.

Aku dan Sungmin menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ia bahkan lebih sering menelpon, dan memberiku pesan daripada saat kami masih berpacaran. Jujur saja aku terkejut dengan sikap Sungmin yang seperti itu, ia memperlakukanku seolah-olah kami masih sepasang kekasih. Tapi, tentu saja ini tidak seperti yang orang-orang bayangkan karena menjadi ‘kekasih’ Sungmin tidaklah seistimewa kedengarannya.

November, 2008.

Dan, empat bulan setelah aku kembali dekat dengannya, tiba-tiba saja Sungmin  bertanya apakah aku bersedia jika ia memintaku kembali menjadi kekasihnya. Saat itu yang kurasakan adalah jantungku yang nyaris terlepas karena tiba-tiba saja berdetak dengan sangat tidak biasa. Tentu saja aku sangat senang, tapi didalam hatiku masih ada perasaan ragu.

Dengan polosnya aku berkata mau. Tapi itu bukan sebuah pernyataan cinta, itu hanya pertanyaan, karena ia hanya mengatakan ‘jika’, dan kami berdua menyadari itu. Tentu saja kami tidak kembali menjadi sepasang kekasih dengan hanya sebuah pertanyaan yang hanya selewatan, terlebih lagi ia menanyakan dengan hanya melalui pesan singkat.

Aku kira kami mempunyai pemikiran yang sama tentang pertanyaan ini, tapi tiba-tiba ia berkata mulai saat itu kami menjadi sepasang kekasih lagi. Aku bingung dan terkejut, tapi senang. Walaupun aku sangat menantikan hal ini terjadi, tapi aku tidak begitu saja mengiyakan. Aku ingin ia mengatakannya dengan serius, dan bicara langsung tanpa perantara apapun. Diluar dugaanku, ternyata dia menyanggupinya. Tapi ia mengajukan persyaratan yang membuatku terkejut, dan jadi menyadari suatu hal. Ia bilang jika kami menjadi sepasang kekasih, aku tidak boleh memberitahukan kepada teman-temannya, dan juga teman-temanku. Kenapa? Tapi aku jadi tahu, sepertinya ini juga alasannya memutuskan hubungannya denganku waktu itu. Percaya atau tidak, teman-teman Sungmin memang sangat tidak suka melihat Sungmin berpacaran denganku, dan aku tidak tahu mengapa.

Akhirnya setelah pembicaraan yang berputar-putar tentang bagaimana sebenarnya hubungan kami, Sungmin bilang ia akan menemuiku esok hari diperpustakaan saat jam istirahat pertama. Demi tuhan, perasaanku saat itu sangat senang. Aku bahkan tidak sabar untuk cepat-cepat besok agar aku bisa cepat-cepat bertemu dengan Sungmin.

Keesokan harinya, begitu bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju perpustakaan, dan menunggu Sungmin disana. Aku menunggu seorang diri, karena Sungmin bilang aku tidak boleh memberitahu teman-temanku, dan aku menurutinya. Setelah hampir 20 menit menunggu, jam istirahatpun sudah berakhir, tapi Sungmin tidak kunjung datang.

Aku tertawa didalam hati. Tertawa untuk diriku sendiri yang sangat bodoh karena mudah sekali dipermainkan oleh Sungmin. Ini bukan pertama kalinya ia mengingkari janjinya, seharusnya aku belajar dari pengalaman, tapi ternyata aku memang sangat bodoh. Aku terlalu bahagia hingga tidak memikirkan hal lainnya. Benar-benar bodoh. Aku menangis lagi hari itu.

Sebenarnya, sudah sangat sering aku menangis, bahkan jika aku membaca dari awal buku harian ini, aku juga akan menangis. Ah, bahkan saat menulis inipun aku menangis, air mataku jatuh dibeberapa halaman, membuat tulisannya menjadi sedikit memudar.

Tiba-tiba saat aku sedang didalam perjalanan pulang hari itu, aku mendapat sebuah pesan singkat dari Sungmin. Pesannya berisikan permintaan maaf yang bertubi-tubi. Ia bilang sebenarnya ia ingat tentang janjinya padaku, tapi saat itu teman sekelasnya sedang meminta bantuannya—dan ternyata teman sekelasnya yang menjadi penganggu itu adalah salah seorang sahabatku. Sungmin bilang setelah selesai meminta bantuan, orang itu tiba-tiba bercerita tentangku. Sungmin juga bilang ia terlalu serius mendengarkan cerita tentangku hingga tidak sadar jika jam istirahat telah selesai. Aku hanya bisa mendengus pasrah. Walaupun Sungmin dan sahabatku itu sama-sama lelaki, tapi sepertinya mereka sangat suka bergosip.

Aku memaafkannya, dan aku tidak sadar baru saja mengulangi kebodohanku sekali lagi. tetapi anehnya, aku tidak menyesali kebodohanku itu. Aku memaafkannya karena aku masih sangat menyukainya, bahkan setelah semua yang terjadi hari ini. Walaupun aku sangat kecewa, dan bahkan sangat ingin memarahi namja pemberi harapan itu, tapi pada akhirnya aku akan memaafkannya, jadi untuk apa aku membuang-buang energiku?

Setelah Sungmin menjelaskan semuanya, ia meminta maaf lagi. saat itu aku ingat aku tersenyum. Seorang Lee Sungmin adalah seorang yang jarang sekali meminta maaf. bahkan mungkin ini pertama kalinya ia meminta maaf sampai sebegininya. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada orang ini? Aku bahkan tidak berani marah padanya. Aku takut. Takut jika aku marah ia akan kembali jauh dariku. Aku tidak mau hal itu terjadi.

Akhirnya Sungmin berjanji akan menepati janjinya pada hari berikutnya saat sepulang sekolah, dan kali ini tetap di perpustakaan. Aku mengiyakannya, dan aku masih tetap menantikan hari itu dengan perasaan yang berdebar. Polos sekali. Wajar saja, aku masih kelas tiga di Sekolah Menengah Pertama.

Saat hari itu tiba, aku ditemani tiga orang sahabatku menunggu Sungmin di perpustakaan. Sebenarnya aku tidak bilang pada ketiga sahabatku itu jika aku sedang menunggu Sungmin. Jika aku bicara jujur, mungkin mereka akan dengan senang hati menyeretku pulang agar tidak usah menunggu Sungmin lagi.

Setelah hampir satu jam menunggu, Sungmin belum juga muncul ditempat itu. Aku mencoba menghubunginya bebeapa kali, tapi nomernya tidak aktif. Mungkin saja kan telah terjadi sesuatu dan Sungmin  tidak bisa menghubungiku. Aku meringis dalam hati, tidak enak pada teman-temanku yang sudah terlihat bosan. Akhirnya dengan berat hati, aku pulang tanpa bertemu Sungmin terlebih dahulu.

Lagi-lagi seperti ini. Lagi-lagi ia tidak datang. Lagi-lagi aku yang dibohongi. Dari hal ini sudah jelas terlihat siapa yang salah. Aku. Karena masih percaya kata-kata seorang pemberi harapan palsu.

Aku sudah tiba dirumahku sejak 2 jam yang lalu, saat itu tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku melihat itu adalah nomer salah seorang sahabatku. Tapi aku sangat terkejut ketika tiba-tiba suara Sungmin yang terdengar diujung sana. Ia bilang tadi ia harus belajar lebih lama diruang guru. Aku memakluminya, ia memang salah satu siswa terpintar disekolahku, dan aku juga tahu kalau ia sedang dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade. Ah, dia nyaris sempurna. Kecuali untuk urusan percintaan.

Suara Sungmin saat itu terdengar lelah, dan putus asa. Sungmin bilang ia sudah 2 jam menungguku diperpustakaan. Aku terkejut! Kukira aku dibohongi lagi, ternyata ia juga menungguku, bahkan lebih lama daripada aku menunggunya tadi. Aku ingin menangis mendengar suaranya. Aku ingin menangis menyesali perbuatanku yang sudah tidak sabar menunggunya. Dan memang akhirnya aku menangis banyak hari itu.

Seperti sebelumnya, akhirnya Sungmin bilang ia akan menepati janjinya minggu depan, di kelasku. Mungkin ia sudah lelah dengan perpustakaan. Tapi kenapa harus minggu depan? Apa karena ia tidak mau teman-temannya tahu jika ia menemuiku?

Dan seperti sebelumnya, hari itu pun ia gagal menepati janjinya. Terlalu sulit untuk bertemu denganku dihari yang sangat sibuk bagi seorang ketua siswa. Akhirnya kami menyerah. Lucu sekali kami tidak pernah bisa bertemu padahal berada dijarak yang berdekatan. Bukan sekali kami gagal bertemu, tapi tiga kali! Mungkin itu juga sebuah pertanda bahwa kami memang tidak bisa bersatu lagi.

Berminggu-minggu setelahnya, aku sudah benar-benar melupakan janji itu, begitupun dengan Sungmin. Pada akhirnya aku tidak tahu bagaimana sebenarnya hubunganku dengannya, karena ia masih saja memperlakukanku seperti kekasihnya, ia bahkan mulai sering mengatakan hal-hal yang romantis, dan tidak jarang ia bilang ia menyukaiku, dan bahkan Sungmin pernah bilang ia menyayangiku.

Walaupun hubungan kami tidak jelas, tapi ini semua sudah cukup membuatku sangat bahagia, aku tidak peduli dengan sebuah status karena kupikir kami akan terus bersama, jadi begini saja tidak jadi masalah. Tentu saja hubungan kami bukanlah hubungan yang sempurna. Miscomunication lah yang paling sering kami alami. Aku yang selalu berusaha tidak pernah menganggap aku kekasih Sungmin, sering membuatnya berpikir jika aku sudah tidak menyukainya, dan begitu juga sebaliknya. Benar-benar pikiran seorang anak kecil.

April, 2009.

Semua berjalan seperti biasa, tidak terasa lima bulan telah berlalu, dan hubunganku dengan Sungmin masih saja tidak jelas. Tidak apa-apa, sungguh! Asalkan dia tetap disisiku aku pasti akan baik-baik saja.

Dua bulan lagi, kami akan segera lulus dari sekolah ini, sangat senang rasanya. Kami berjanji akan tetap saling berhubungan walaupun berbeda sekolah nanti. Lucunya, aku akan masuk ke sekolah yang dekat dengan rumah Sungmin, sementara kebalikannya, Sungmin akan masuk ke sekolah yang dekat dengan rumahku. Sebenarnya aku ingin sekali satu sekolah lagi dengan Sungmin, tetapi anak itu malah memilih sekolah unggulan, tentu saja sulit untuk masuk kesekolah itu.

Kami akan sering mengunjungi satu sama lain, ya begitulah janji kami. Tapi, satu bulan sebelum kami lulus tiba-tiba saja aku mendapat kabar jika Sungmin akan masuk salah satu sekolah unggulan Korea selatan di kota Haenam, di provinsi Jeollanam-do. Aku tahu sekolah itu, salah satu sekolah terbaik di Korean Selatan. Letaknya memang cukup terpencil, dan itulah yang membuat sekolah itu istimewa karena seolah tidak bisa dijamah oleh sembarang orang.

Minuman yang ada ditanganku seketika terlepas, seolah jari-jariku ini tidak mempunyai tenaga bahkan untuk memegang sebotol jus. Hal yang aku takutkan akhirnya benar-benar terjadi. Sekolah terkutuk itu, akhirnya memanggil Sungmin untuk datang. Dan sialnya, aku sangat mengenal Sungmin, ia pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, ia pasti akan pergi. Saat itu, aku menyangkal semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sekolah terkutuk itu adalah boarding school, bukan hanya tidak akan bisa bertemu dengan Sungmin, bahkan aku juga tidak akan bisa berkomunikasi dengan Sungmin. Aku sedih, dan kecewa. Kecewa karena bahkan Sungmin tidak pernah memberitahuku soal ini, aku malah tahu dari orang lain. Aku merasa memang aku bukan siapa-siapa untuknya.

Aku ingin menghindarinya, tapi tidak bisa. bagaimanapun aku tidak pernah membayangkan diriku tanpa Sungmin. Dalam waktu 1 bulan lagi dia akan berada jauh, dan aku tidak akan bisa melihatnya untuk waktu bertahun-tahun.

Friday, 17th July 2009.

            Hari ini, adalah hari dimana Sungmin akan berangkat. Tadi malam aku tidak bisa tidur, pikiran tentang Sungmin benar-benar membuatku terjaga. Aku tidak akan menangis karena akan berpisah dengan Sungmin, ya, aku sudah bertekad seperti itu. Tapi saat aku sudah mulai memaksakan diri untuk tidur, tiba-tiba handphoneku bergetar, tertera nama Sungmin muncul dilayarnya, ia memberiku sebuah pesan singkat. Di pesan itu ia mengungkapkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya padaku, aku terkejut, aku tidak tahu jika ia juga memikirkan aku seperti aku memikirkannya. Sungmin minta maaf atas semua yang telah ia lakukan padaku, sepertinya ia juga sadar jika ia sering sekali membuatku kecewa.

            Dipesan itu Sungmin bilang dia mencintaku, mencintai katanya! Bahkan aku tidak tahu jika Sungmin punya kosa kata itu. Dia bilang aku harus menunggunya hingga ia kembali, dan ia juga bilang ia akan sering menulis surat untukku. Saat membaca itu semua, aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis bahagia, dan terharu. Aku sangat menyukai Sungmin, Sangat! Aku akan menunggunya…aku berjanji.

            Dan pagi ini, aku terbangun dengan dua buah pesan yang masuk dihandphoneku, dari Sungmin. Pesannya hanya berupa salam perpisahan sebelum ia berangkat, dan ia mengirimimnya hingga dua kali, mungkin karena aku tidak membalas pesannya. Dan, saat aku membalas pesannya tadi, handphone Sungmin sudah tidak aktif, sepertinya ia sudah berada di pesawat.

August, 2009.

            Sudah satu bulan sejak Sungmin pergi, dan ia belum memberikan kabar apapun padaku. Aku memakluminya, ia berada di sebuah boarding school, dengan peraturan super ketat yang melarang siswanya membawa ponsel, bahkan ia tidak bisa keluar sepulang sekolah, ia hanya bisa keluar saat akhir pekan, itupun hanya beberapa jam saja. Benar-benar membuat frustasi.

            Tentu saja berada jauh darinya membuatku sangat khawatir, aku takut ia akan berpaling dariku. Walaupun sikap Sungmin itu sedikit ‘berbeda’ tapi ia lumayan menarik. Dulu saja aku beberapa kali dilabrak oleh senior wanita karena ketahuan berpacaran dengan Sungmin, dan sekarang bisa saja ada anak perempuan yang menyukai Sungmin, atau mungkin….kebalikannya. ya, hal itu tidak mustahil terjadi, kan.

May, 2010.

            Tetapi, ketakutan itu sepertinya harus aku tunjukan pada diriku sendiri. Selama menunggu kabar dari Sungmin tentu saja ada banyak halangan yang aku hadapi. Sungmin memang selalu memberiku kabar, tapi apa kalian tahu? Sungmin hanya memberiku kabar satu bulan sekali! Aku bahkan pernah mendapatkan surat yang baru tiba setelah dua bulan ia kirim. Bukan masalah jarak yang ditempuh, tetapi keadaan Sungmin disana yang tidak memungkinkan. Sungmin bilang ia hanya bisa keluar asrama pada hari minggu, dan asal kalian tahu, kantor pos tutup pada hari minggu! Aku tahu akan sulit berhubungan dengan keadaan yang seperti ini, tapi sungguh, aku tidak pernah membayangkan akan sesulit sekarang.

Sedihnya, selama hampir satu tahun tidak bertemu, jarak aku dan Sungmin menjadi menjauh, benar-benar menjauh. Kami menjadi berbeda. Sepertinya Sungmin kembali menjadi dirinya yang dulu, sangat acuh dan tidak peduli lagi padaku. Tetapi anehnya, ia tidak pernah sekalipun menghapus namaku dari jejaring sosial facebooknya. Sampai akhirpun ia masih menganggap aku sebagai kekasihnya, itu yang membuatku bertambah bingung. Sungmin selalu membuatku bingung! Seandainya saja dulu saat Sungmin masih disini aku memberanikan diri untuk meminta kejelasan, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Menyadari Sungmin yang berada jauh dari pandanganku selalu membuat hatiku sedih.

Akhirnya, kami memang benar-benar tidak berkomunikasi lagi. Sungmin tidak pernah memberiku kabar lagi belakangan ini, dan aku seperti biasa tidak bisa melakukan apapun jika Sungmin sendiri tidak memberi kabar. Bukannya aku tidak mau, tapi sangat sulit. Pernah beberapa waktu lalu ada nomer yang tidak kukenal meneleponku, dan ternyata itu Sungmin, memakai telepon umum yang ada disana, berikutnya, ada nomer lain lagi yang menghubungiku dan ternyata itu juga Sungmin. Dan saat aku ingin menghubunginya balik, bukan Sungmin lah yang kudapati, melainkan selalu orang yang berbeda.

Mungkin karena diriku yang sudah beranjak dewasa, aku tidak selemah dulu saat teringat tentang Sungmin, aku tidak menangis lagi seperti dulu. Aku ingin kuat, dan sebenarnya aku ingin jatuh cinta lagi. ya..salah satu alasannya karena ingin lebih cepat melupakan Sungmin.

July, 2010.

            Tepat setahun aku dan Sungmin berpisah, dan saat itulah tiba-tiba ia datang kembali kehadapanku. Ya, hari ini Sungmin tiba-tiba datang kesekolahku. Aku sangat, sangat, sangat terkejut! Aku tidak tahu dia ada di seoul, kukira Sungmin masih ada di Haenam. Ternyata ia datang bukan untuk menemui aku, tetapi untuk menemui salah seorang sahabatnya—yang juga sahabatku. Mengetahui ia bukan datang untukku benar-benar membuat hatiku kecewa. Seharusnya aku tidak boleh seperti itu, karena saat ini aku sudah mempunyai namjachingu. Jujur saja, selama aku tidak berkomunikasi dengan Sungmin, diam-diam aku masih berharap dia datang tiba-tiba seperti ini.

            Tadinya aku ingin pura-pura tidak melihatnya. Aku ingin mengabaikannya. Tetapi tidak bisa, sahabatku itu melihatku dan buru-buru menarikku agar berkumpul bersama. Padahal saat itu ada namjachingu ku—yang sebenarnya juga salah satu teman baik Sungmin.

            Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu. Benar-benar kacau. Sebenarnya saat itu aku sangat ingin menangis melihat Sungmin yang duduk santai sambil tersenyum—senyum kesukaanku—kearah teman-temannya. Aku ingin menangis, benar-benar ingin menangis. tapi tidak bisa. setidaknya tidak mungkin dengan suasana yang ramai, dan orang-orang yang ada didekatku, terlebih lagi, ada namjachinguku.

            Ah, hatiku mencelos saat menyadari keadaan yang sangat tidak berpihak padaku dan Sungmin. Seandainya saja Sungmin datang dua minggu lebih cepat, mungkin saat ini aku sudah berlari kearahnya. Sayangnya, dua minggu yang lalu ada seorang namja yang selalu memandangku dengan pandangan memuja. Sementara saat itu aku sudah lelah menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah memandangku. Dan pada hari itu, aku mengingkari janjiku yang akan menunggu Sungmin.

            Malam harinya, Sungmin meneleponku. Aku berusaha dengan keras menahan suaraku agar tidak terdengar terlalu antusias. Mungkin usahaku sangat berhasil, sehingga Sungmin sampai bilang jika aku bersikap dingin hari ini. Dengan perasaan menyesal, aku hanya bisa tertawa palsu dan menyangkal.

Saat ditelepon, tiba-tiba Sungmin mengajakku berkencan. Dan ia bilang ia merindukanku, sepertinya Sungmin belum tahu jika aku sudah punya namjachingu. Ia juga minta maaf karena ia menghilang beberapa waktu yang lalu karena sibuk dengan ujian. Aku ingin menangis mendengar semuanya. sangat ingin mengatakan jika sebenarnya aku sangat, sangat, merindukan Sungmin, dan hari ini aku sangat bahagia dapat bertemu dengannya. Kenapa aku sangat cengeng ya? Semua hal yang berhubungan dengan Sungmin sangat sensitif terhadapku.

Sambil menahan air mataku yang hendak menetes, aku menjelaskan semuanya. Semua hal saat dia tidak ada disini. Termasuk tentang aku sudah mempunyai namjachingu. Saat itu bukan hanya suaraku yang bergetar, tetapi suara Sungmin juga ikut bergetar saat mengatakan ia tidak apa-apa. Setelah mengobrol dengan canggung selama beberapa menit, akhirnya Sungmin menutup teleponnya. Dan saat itu juga tangisanku tidak bisa terbendung lagi. Aku tidak bisa tidur, dan hanya menangis semalam suntuk. Ingin mencari kambing hitam atas semua yang terjadi padaku dan Sungmin, tetapi aku tidak menemukannya. Karena semuanya salahku. Keesokan paginya, mataku bengkak, sangat besar! Hingga aku harus memakai kacamata hitam kesekolah.

November, 2011.

            Saat ini aku sudah berada ditahun terakhir disekolahku. Sekarang semuanya berjalan dengan normal. Hubunganku dengan namjachinguku hanya bertahan selama 15 bulan, aku dengan sangat berat hati memutuskan hubunganku dengan namjachinguku. Alasannya sangat konyol, karena aku belum bisa melupakan Sungmin. Bahkan setelah 3 tahun aku masih tetap tidak bisa menghapus bayangan Sungmin dari benakku. Tapi aku tidak melakukan apapun untuk bisa bersama Sungmin. Semuanya aku biarkan begitu saja, aku memang tidak berharap apa-apa, bagiku bisa mencintai Sungmin dalam diam sudah membuatku cukup bahagia.

            Sungmin tidak berusaha menghubungiku, begitupun denganku, tidak berusaha menghubunginya. Kami benar-benar tidak mengetahui kabar masing-masing. Sampai suatu pagi, aku mendapat kabar jika Sungmin berada di Seoul. Aku senang, tapi tidak senang juga. Karena tidak akan ada bedanya Sungmin berada dimana, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. rasa bersalahku padanya terlalu besar, aku harus membuang wajahku dulu jika ingin bertemu dengannya. Malu dengan semua yang telah aku lakukan kepadanya.

            Tetapi, ternyata Sungmin berada di Seoul itu bukan kabar yang baik. Sungmin ditemukan pingsan dikamar di asramanya dua hari lalu, dan akhirnya ia langsung dibawa kembali ke Seoul untuk berobat. Ternyata Sungmin terkena penyakit TBC tulang. Sebuah penyakit yang cukup mengerikan. Kudengar penyakit itu benar-benar membuat Sungmin kesakitan.

            Aku menyesal karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya. Akupun memutuskan untuk menjenguknya. Dan sialnya, sudah tiga kali aku hendak menemuinya tetapi tidak pernah bisa. ada saja penghalang untukku untuk bertemu dengannya. Padahal aku sangat ingin melihat keadaan Sungmin. Tiga kali gagal bertemu, dan tiga kali juga aku menangis, perasaan sedih, kesal, dan kecewa benar-benar bercampur menjadi satu saat itu. Sepertinya aku memang benar-benar tidak ditakdirkan untuk bersama Sungmin. Bertemu dengannya pun sangat sulit untukku.

            Mendengar Sungmin telah dioperasi hingga dua kali, membuatku semakin cemas. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakannya disetiap ibadahku, dan disela-sela doaku sebelum tidur. Aku hanya berdoa untuk kesembuhannya, hanya itu. Aku tidak tahan mendengar ia mengalami sakit yang sangat. Bahkan kudengar ia menangis. seorang Lee Sungmin menangis? hanya hal-hal yang luar biasa saja yang bisa membuatnya sampai seperti itu.

            Sudah sebulan semenjak kejadian itu, dan kini Sungmin sudah kembali ke Haenam. Semenjak saat itu aku kembali mulai berkomunikasi lagi dengannya. Kami menjadi teman baik seperti dulu. Walaupun jujur saja aku masih berharap Sungmin akan mengetahui perasaanku padanya. Aku sedikit terkejut saat beberapa hari yang lalu aku melihat namaku masih tercantum disalah satu jejaring sosialnya. Kalau dipikir-pikir hubunganku dengan Sungmin memang masih tidak jelas hingga sekarang. tapi, semakin aku memikirkan hal itu malah akan membuatku sedih. Jadi aku menyangkal pikiran-pikiran yang menganggu itu.

Yang terpenting aku masih bisa berkomunikasi dengan Sungmin. Aku senang karena dia baik-baik saja sekarang. Aku kira, cinta monyet yang aku alami 3 tahun lalu akan mudah aku lupakan begitu saja, tetapi ternyata aku salah. Cinta monyet ini sangat mempengaruhi hidupku.

January, 2014.

Kim Min Young menutup sebuah buku harian usang yang berada dipangkuannya. Ia tersenyum tipis sambil menghapus pelan air mata yang daritadi meluncur dipipi mulusnya. Sudah 3 tahun yang lalu sejak terakhir ia memegang buku harian itu, dan tiba-tiba saja hari ini ia memberanikan diri untuk membukanya lagi. sebenarnya, awalnya Min Young hanya ingin mengintip beberapa halaman saja, tetapi akhirnya ia malah membaca satu buku penuh.

Buku itu, buku yang daridulu menjadi temannya untuk mengungkapkan segala keluh kesahnya. Tapi hanya sampai di  Sekolah Menengah Atas saja, karena ia memutuskan untuk mengubur jauh-jauh semua kenangan itu. Ia memutuskan untuk tidak menyentuh buku itu. Sampai hari ini, ia membukanya kembali.

Sebenarnya, alasannya untuk membuka buku harian itu kembali adalah karena tadi sore ia mendengarkan curahan hati dari seorang sahabatnya—Jung Ji Na—tentang laki-laki yang gadis itu cintai. Cerita itu hampir sama dengan ceritanya dimasa lalu, karena itulah Min Young membuka kembali buku harian itu. Hanya sekedar untuk mengenang saja. Karena memang Min Young sudah menggangap kejadian itu hanya sebuah masa lalu.

Min Young masih saja menatap buku harian itu dengan tatapan kosong saat tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan langsung menariknya kembali dari kenangan masa lalunya.

“kau dimana?” tanya orang diseberang tanpa basa-basi. Benar-benar ciri khas seorang Ji Na.

“dirumah, kenapa?”

“aku kesana sekarang.” Ji Na langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Min Young terlebih dahulu.

Min Young hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Padahal ini sudah malam tapi gadis tomboy itu masih saja berkeliaran.

***

Min Young bangun terlambat hari ini. itu semua akibat perbuatan Ji Na yang mengajaknya mengobrol hingga pagi. Dan yang membuatnya bertambah kesal lagi adalah topik yang dibicarakan oleh gadis itu pasti sama. Lee Dong Hae. Ya, hanya namja itu.

Lucu sekali mengingat gadis tomboy itu menangis sambil bercerita tentang bagaimana ia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya 4 tahun yang lalu. Walaupun Ji Na sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan laki-laki lain tetapi gadis itu selalu mengakhiri hubungannya dengan alasan yang sama. belum bisa melupakan seorang Dong Hae, katanya.

Min Young hanya bisa tersenyum kecut setiap kali mendengar cerita itu. Bagaimana bisa ia dan sahabatnya mengalami nasib yang sama? selama 4 tahun Ji Na masih mencintai Dong Hae. Ya, dia lelaki yang baik, pantas saja Ji Na belum bisa melupakannya.

Setelah bersusah payah melepaskan dirinya dari jeratan kasur, Min Young langsung bersiap-siap untuk pergi. Menemui siapa lagi, Ji Na, sang gadis galau.

***

Min Young berdiri sambil berpengangan pada tiang didalam kereta bawah tanah. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah kemana. Didalam keramaian ini dia tetap merasa seorang diri. Ia berharap suatu saat ia akan bertemu dengan Lee Sungmin tanpa disengaja, sepertinya itu terdengar romantis.

Min Young menggeleng lemah, ia buru-buru menghilangkan pikrannya itu. Ya, 6 tahun sudah berlalu, tetapi Min Young masih belum berhasil juga untuk melupakan Sungmin. Padahal dirinya benar-benar sudah lost contact dengan Sungmin, ia bahkan tidak tahu bagaimana sosok Sungmin saat ini. terakhir saat ia bertemu Sungmin hanya saat itu, saat pertama kali namja itu kembali ke Seoul dan mereka bertemu disekolah Min Young.

Tiba-tiba ponselnya berdering, Min Young tersentak kaget sebelum buru-buru mengambil ponsel itu, dilihatnya nama Ji Na tertera dilayar ponselnya.

“Kim Min Young!!!” suara Ji Na terdengar nyaring, tetapi juga sedikit serak. Seperti sedang menangis.

“Ji Na? Kau menangis?” tanya Min Young. Ia sedikit panik saat mendengar suara Ji Na yang seperti itu.

Tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis yang diredam. Kening Min Young berkerut, ada apa sebenarnya?

“Ji Na jawab aku, kau kenapa?” kali ini Min Young bertanya dengan nada mendesak.

Isakan Ji Na masih terdengar samar-samar, “tadi…hiks..aku..menelpon DongHae..” ucap Ji Na terputus-tupus dengan suara yang lemah. Walaupun ucapan Ji Na tidak terdengar jelas, tapi Min Young cukup menangkap ucapan dari gadis itu.

“apa?!” Min Young membulatkan matanya, ia sangat terkejut. Suaranya cukup keras, membuat beberapa orang didalam subway ini menengok kearahnya.

“aku tadi menelpon Donghae!” ucap Ji Na dengan tidak sabaran, tetapi gadis itu masih saja terisak. Lucu sekali.

“kau serius? Lalu?” tanya Min Young masih dengan nada yang serius.

“iya!”

“lalu???”

“lalu?”

“ck, lalu apa? Kau bicara apa?” Min Young berdecak kesal, terkadang jika sedang sedih Ji Na jadi mendadak bodoh.

“aku bilang semua perasaanku. Tentang aku yang masih mencintainya, dan belum bisa melupakannya walaupun sudah 4 tahun berlalu. Aku mengungkapkan semua yang ada dihatiku…” ucap Ji Na panjang lebar.

Entah mengapa, mendengar ucapan Ji Na barusan membuat jantungnya berdegub dengan cepat. Dan tiba-tiba juga ia merasa sesak. Min Young tidak menjawab untuk beberapa saat. Bukan ia yang baru saja menelepon Donghae dan mengungkapkan perasaan, tetapi mengapa ia sangat berdebar?

“Min Young, kau masih disitu?” suara serak Ji Na terdengar lagi.

Min Young mengerjap beberapa kali, “ya…lalu bagaimana kelanjutannya? Maksudku, reaksi Donghae, bagaimana?” tanyanya dengan hati-hati.

Ji Na terdiam beberapa saat, samar-samar terdengar suara Ji Na yang menangis lagi, membuat Min Young mengerutkan keningnya. “setelah mengatakan semuanya, aku langsung mematikan teleponnya.”

Min Young hanya terdiam, menunggu Ji Na untuk melanjutkan ceritanya.

“lalu, tiba-tiba Donghae menghubungiku. Dia bilang ia juga merasakan hal yang sama denganku. Ternyata, selama ini dia juga masih mencintaiku. Dia bahkan belum pernah berpacaran lagi setelah putus denganku…” ucap Ji Na dengan suara yang bergetar, terlalu senang sepertinya, “bagaimana ini? aku harus bagaimana setelah ini?” lanjutnya lagi.

***

Kim Min Young duduk di sendirian di bangku yang berada di sebuah taman. Hari ini ia tidak jadi bertemu dengan Ji Na, mungkin gadis itu sedang sibuk menata hatinya yang mulai ditumbuhi bunga-bunga saat ini. Min Young tersenyum tipis, ia bahagia dengan apa yang dialami oleh Ji Na. Dan jujur saja, Min Young sangat salut dengan keberanian yang dimiliki oleh Ji Na. Selain salut, ia juga iri. Seandainya saja ia punya keberanian seperti Ji Na, mungkin sudah sejak dulu perasaannya lega. Tidak seperti sekarang, selalu ada perasaan yang terasa mengganjal.

Min Young tidak sadar saat air matanya jatuh, dan menetes kepunggung tangannya. Kenapa ia berdebar? Kenapa ia menangis? karena ia iri. Sangat iri. Iri akan keberanian yang Ji Na miliki, iri akan perasaan Ji Na yang terbalas.

Min Young berjalan pelan kearah jalan layang yang berada tidak jauh dari taman itu. Pandangannya lurus kedepan sementara sebelah tangannya mengaduk-aduk isi tasnya, mencari sesuatu.

***

Kim Min Young berdiri sambil bersandar disebuah jalan layang sambil memegang sebuah buku ditangannya. Angin yang berhembus lembut menerpa wajahnya membuat air mata yang sedang mengalir dikedua pipinya terlihat samar.

Min Young menatap buku ditanganya dengar pandangan samar karena air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Buku harian usang yang menyimpan banyak sekali kenangan manis, maupun kenangan pahit dimasa lalunya. Sebentar lagi, ia akan membuang semua kenangan itu.

Min Young lelah. Ia lelah menangis, ia lelah kecewa, ia lelah berharap, ia lelah mencintai seorang diri. Ia ingin menyerah, menyerah bahkan sebelum ia mencoba mengungkapkan perasaanya. Ia sudah membuat keputusan. Dulu ia hanya menyukai Sungmin secara diam-diam, dan sekarang biarlah semuanya berakhir secara diam-diam juga. Tidak perlu ada yang tahu jika dirinya masih mencintai Sungmin, termasuk namja itu sendiri.

Sebelah tangan Min Young yang memegang buku itu terangkat kesisi jalan layang itu. Dibawahnya terlihat lalu lalang orang-orang yang sedang beraktifitas dimalam hari.

“selamat tinggal…Lee Sungmin.” Ucap Min Young lemah. Ia langsung melepaskan genggamannya itu perlahan, membuat buku harian itu terjatuh kebawah, “aku masih mencintaimu…sangat.” ucapnya lagi dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Min Young menatap buku yang melayang itu sambil terus meneteskan air mata. Bukan hal yang mudah untuk melakukan ini. tapi memang keputusannya sudah bulat. Ia tidak boleh terus menjalani kehidupan dengan bayang-bayang Sungmin. Min Young berbalik sebelum melihat buku itu jatuh disuatu tempat. Meninggalkan buku itu ditempat yang ia tidak tahu letaknya akan lebih baik.

***

Lee Sung Min meneguk minumannya beberapa kali. Setelah seharian berada dikampus ia ingin menyegarkan otaknya dulu dengan berjalan-jalan menikmati pemandangan malam kota Seoul. Kota yang sudah lama ia tidak lihat.

Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba saja ada benda yang jatuh diatas kepalanya, “awww…hei siapa yang melakukannya?!” Sungmin menengok kekanan dan kekiri, ia mengira seseorang telah melemparkan sesuatu padanya.

Tapi, saat ia menengok kebawah, ternyata benda yang tadi menimpa kepalanya itu adalah sebuah buku. Dengan kening yang berkerut samar Sung Min memungut buku itu. Dibolak-baliknya buku itu dengan alis yang bertautan. Dilihat sekilaspun Sungmin yakin jika itu adalah sebuah buku harian, tapi buku itu terlihat sudah usang.

Sungmin membuka buku itu, sedikit tertegun saat membaca nama pemilik buku itu, Kim Min Young kelas 2-3. Kerutan dikening Sungmin bertambah jelas setelah membaca nama pemiliknya karena nama itu mengingatkan Sungmin pada seseorang.

Walaupun membaca buku harian milik orang lain itu bukan tindakan yang terpuji, tapi Sungmin sudah tidak bisa mentoleransi rasa penasarannya. Dengan perlahan Sungmin membuka halaman pertama buku itu, membacanya.

END

 

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s