Innocent Namja

Innocent Namja

By: YellowPurple

Cast     : Lee Sung min

              Park Hye Ri

 “aku menyukai dirimu yang selalu tersenyum manis padaku, hanya itu.”

 

Park HyeRi tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang ingin mengembang saat melihat namja favoritnya sudah tiba, dan sedang duduk dengan manis ditempatnya seperti biasa. Dengan hati yang berbunga-bunga, perlahan Hyeri mendekati namja yang sedang menunduk itu, dan ikut menundukan tubuhnya untuk mengintip buku apa yang sedang dibaca oleh Sungmin dari sela-sela tangan namja yang sedang sangat serius itu, sampai-sampai Sungmin tidak menyadari kalau Hyeri sudah berdiri tepat disampingnya.

“selamat pagi Sungmin-ah!” sapa Hyeri sambil tersenyum lebar seperti biasa.

Namja yang dipanggil itu tersenyum simpul saat sebuah aroma cokelat mulai menyeruak, dan tercium sangat manis dihidungnya. Sungmin langsung mengangkat kepalanya, “selamat pagi juga Hyeri-ya,” dia balik menyapa sambil tersenyum ramah—senyum kesukaan Hyeri.

Hyeri tersenyum manis sambil menaruh tasnya dikursi tepat dihadapan Sungmin, lalu ia memutar kursi itu hingga kini ia duduk menghadap kearah Sungmin. Senyum masih saja mengembang diwajahnya, hari ini Hyeri memang sengaja mengubah penampilannya agar terlihat lebih menarik. Rambut hitamnya yang biasanya digerai bebas kini dikuncir kuda, hari ini juga ia memakai bedak tipis, dan juga memakai lipgloss yang tidak terlalu mencolok. Itu semua ia lakukan karena ingin membuat Sungmin terpesona ketika melihatnya.

Hyeri hanya duduk diam sambil terus menghadap kearah Sungmin sambil menunggu reaksi yang akan dikeluarkan oleh namja yang sudah 2 bulan ini menjadi kekasihnya. Tetapi 5 menit berlalu….Sungmin hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa, 10 menit berikutnya….Sungmin malah sudah kembali larut pada buku kekanakan yang ada ditangannya, 10 menit berikutnya….Hyeri sudah menyerah dan melupakan hal itu.

Apapun yang ia lakukan namja itu selalu seperti itu, selalu tidak peka. Hyeri merutuki dirinya sendiri yang berharap Sungmin akan berubah dan bisa lebih peka terhadapnya. Bagaimana mungkin dalam waktu semalam saja Sungmin bisa berubah? Kecuali jika kepalanya terbentur, hal itu baru mungkin terjadi.

Hyeri memutar kembali kursinya sehingga kini ia duduk membelakangi Sungmin, ia mengeluh dalam hati, sudah 2 bulan sejak ia dan Sungmin resmi berpacaran, tapi ia sama sekali tidak pernah berkencan atau semacamnya. Hyeri mendengus pelan sambil menempelkan kepalanya pada meja belajar dihadapannya, ia sudah tidak peduli jika rambutnya acak-acakan atau bedaknya akan luntur, karena percuma saja ia tampil cantik, toh pacarnya juga tidak pernah memperhatikannya.

Tiba-tiba Hyeri teringat pada hari ‘penembakan’ Sungmin padanya, saat itu juga Sungmin bisa menyatakan perasaannya karena dorongan dari sahabat-sahabatnya. Ya, walaupun Hyeri dan Sungmin memang sekelas tapi sebelumnya mereka tidak pernah mengobrol sama sekali. Saat itu sebenarnya Hyeri ingin menolak Sungmin karena predikat Sungmin yang terkenal sangat kutu buku, dan pendiam. Tapi, saat melihat namja itu menyatakan suka pada Hyeri sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah, dengan ekspresi semanis itu, bagaimana mungkin Hyeri mengatakan tidak?

Hyeri mendengus lagi. ia tertipu. Tertipu  oleh senyuman manis dari seorang kutu buku. Dan sekarang sudah sangat terlambat untuk menyadarinya, karena ia sudah tertipu terlalu banyak oleh senyum itu.

***

Lee Sungmin memasukan sesendok ice cream cokelat lagi kedalam mulutnya, walaupun dirinya sedang menikmati ice cream favoritenya itu, tapi matanya sama sekali tidak terlepas dari buku yang berada digenggamannya.

Tepat disebelahnya, Hyeri sedang memakan roti isinya dengan tidak sabaran, bukan karena dia terlalu rakus, tapi karena kesal melihat Sungmin yang malah sibuk dengan buku kekanannya itu daripada menikmati waktu istirahatnya bersama Hyeri.

Hyeri menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong, ia hanya duduk diam sambil menyandarkan kepalanya kebahu kekar Sungmin. Dadanya yang berdebar karena berada dalam jarak sedekat ini sudah tidak dihiraukannya lagi, ia sudah tidak takut lagi jika Sungmin mendengar debaran jantungnya yang bisa saja terdengar karena suasana yang sangat sepi seperti sekarang ini. Tidak apa-apa, justru mungkin Hyeri akan senang jika Sungmin bisa mendengarnya, agar namja itu tahu bagaimana berdebarnya dia hanya karena berada didekat Sungmin.

“kau lapar sekali, ya?” tanya Hyeri ketika melihat Sungmin sedang melahap sepotong roti setelah menghabiskan ice cream cokelat ukuran jumbo.

Sungmin mengangkat kedua alisnya karena sedikit terkejut dengan pertanyaan Hyeri, “Hmm itu karena kau membuatku selalu lapar,” kata Sungmin.

Kening Hyeri berkerut samar, “aku?” tanya Hyeri karena tidak mengerti dengan ucapan Sungmin. Ia mencoba mengira-ngira apa maksud Sungmin itu tapi tetap saja tidak mengerti, dan hey…ucapan Sungmin tadi terdengar sedikit nakal ditelinga Hyeri, membuat semburat merah mulai muncul dikedua pipinya.

“parfume yang kau pakai….membuatku lapar terus,” kata Sungmin dengan tampang polosnya.

Setelah mendengar jawaban Sungmin, hilang sudah bayangan adegan romantis—yang mungkin saja terjadi—yang daritadi melayang-layang dipikiran Hyeri. Ia yang daritadi sedang bersandar dibahu Sungmin langsung mengangkat kepalanya, dan menatap Sungmin dengan tatapan yang seolah mengatakan-apa-kau-mau-mati-huh?

Setelah melemparkan pandangan yang membuat Sungmin menyalakan tanda S.O.S karena kebingungan—dan takut, Hyeri menempelkan kepalanya lagi dibahu Sungmin, lalu menghembuskan napas berat. Sepertinya Sungmin memang sangat menyukai parfume beraroma cokelat yang selalu Hyeri pakai. Hyeri jadi teringat saat Sungmin menyatakan ‘cinta’ 2 bulan yang lalu, namja itu juga bilang ia menyukai Hyeri karena dirinya tercium sangat ‘manis’. Dan sepertinya daripada ‘manis’ Sungmin lebih menatapnya seperti daging berjalan yang beraroma menggoda, sehingga membuat namja itu selalu lapar.

Perlahan senyum mulai mengembang dibibir Hyeri. Walaupun akhirnya aroma manis ini malah membuat Sungmin selalu lapar, tapi tetap saja ada perasaan senang yang ia rasakan. Yaa..setidaknya ada sesuatu dari dirinya yang berpengaruh pada Sungmin.

“aku haus, boleh aku minta minumanmu?” tanya Sungmin sambil menunjuk sekotak jus jeruk yang daritadi berada didepannya.

Hyeri menyodorkan jus jeruk miliknya kepada Sungmin, ia tidak heran jika Sungmin kehausan, bagaimana tidak? Jika makannya sangat lahap seperti orang kelaparan begitu. Hyeri memperhatikan Sungmin yang sedang meminum jus jeruk melalui sedotan yang tadi sudah ia gunakan. Hyeri mengerjap beberapa kali saat menyadari suatu hal. Seketika Hyeri merasakan wajahnya memanas. Lee Sungmin, sedang minum jus melalui sedotan yang sama dengan yang Hyeri gunakan, mereka baru saja melakukan ciuman tidak langsung kan?!

Alis Sungmin terangkat saat menyadari Hyeri sedang menatapnya tanpa berkedip. Dengan cepat namja itu melepaskan sedotan yang daritadi berada dimulutnya, “maaf aku sudah meminum jusmu.” Sungmin menaruh kembali kotak berisi jus jeruk itu ditempatnya semula.

Alis Hyeri bertautan, “tidak apa-apa! Minum saja, minum yang banyak!” ucap Hyeri. Ia mengambil jus itu dan memberikannya lagi pada Sungmin.

Sungmin terlihat kebingungan melihat Hyeri yang sedang menatapnya sambil tersenyum lebar, “tidak apa-apa?” tanya Sungmin ragu.

“tentu saja!” Hyeri menjawab dengan semangat yang berlebihan. ia hampir saja berteriak saat melihat Sungmin mulai meminum jusnya itu lagi.

Hyeri sudah bertekad akan minum dari sedotan itu juga saat Sungmin sudah selesai minum, tapi tiba-tiba terdengar suara yang terdengar seperti suara kotak minuman yang kosong. Ia menatap Sungmin yang sedang meletakan kotak jus itu ditempat sampah dengan mulut yang menganga. Ciuman tidak langsung miliknya kini tergeletak begitu saja ditempat kotor seperti itu?

“kau menghabiskan minumannya?” tanya Hyeri dengan pandangan tidak percaya.

“eh? Tadi kukira kau bilang tidak apa-apa?” Ucap Sungmin dengan tampang polosnya.

Hyeri menarik napas panjang, dan mengeluarkannya dengan perlahan. Tentu saja ini bukan salah Sungmin, karena ia tidak tahu apa yang ada dibenak Hyeri, kan? dan yah..memang hanya Hyeri yang berdebar seperti itu, pikiran Sungmin itu masih sangat suci jadi dia tidak akan menganggap kami baru saja berciuman secara tidak langsung.

Hyeri menoleh kearah Sungmin yang  sudah kembali larut dalam buku ditangannya, namja itu sangat tenang, dan seperti tidak merasakan apa-apa. “Sungmin-ah, apa kau menyukaiku?” tanya Hyeri.

Sungmin ikut menoleh kearah Hyeri yang sedang menatapnya penuh harap, “ke..kenapa kau bertanya begitu?” Sungmin balik bertanya. Hyeri bisa merasakan suara Sungmin yang sedikit bergetar, mungkin karena ia terkejut dengan pertanyaan Hyeri yang sangat tiba-tiba.

“aku hanya penasaran…habis, kau lebih memilih membaca buku itu daripada mengobrol denganku,” Hyeri mengatakannya sambil mempoutkan bibirnya.

Hyeri melihat Sungmin tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit, kini namja itu malah sudah memalingkan kepalanya kearah yang berbeda. Hyeri terkesiap. Reaksi macam apa itu? Kenapa Sungmin malah membuang mukanya?

Hyeri menyentuh kedua pipi Sungmin, dan memutar kembali kepala namja itu agar menghadap kearahnya, Hyeri sedikit terkejut karena melihat wajah Sungmin yang sudah merona merah.

“kenapa tidak jawab pertanyaanku?” Hyeri bertanya lagi dengan kening yang berkerut samar.

Tiba-tiba suara bel berbunyi, membuat Hyeri, dan Sungmin sedikit tersentak karena kaget. Dengan cepat Sungmin bangkit dari tempatnya, sepertinya namja itu mengambil kesempatan ini untuk segera kabur dari Hyeri.

“bel sudah berbunyi, sebaiknya kita cepat kembali kekelas,” Sungmin tersenyum kaku sebelum akhirnya berjalan—dengan cepat sekali!—kembali ke kelas.

Hyeri mendengus pasrah, tidak tahu mengapa Sungmin menghindari pertanyaannya barusan. Jangan-jangan…, tidak! Hyeri menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri sambil berusaha menghilangkan pikiran yang tidak-tidak dari otaknya.

setelah melihat Sungmin yang sudah berjalan cukup jauh dari dirinya, Hyeri memanggil Sungmin dengan suara yang cukup keras, “Sungmin-ah, tunggu aku!” serunya.

Sungmin langsung menghentikan langkahnya, dan menunggu Hyeri untuk menyusulnya seperti yang diminta gadis itu barusan. Sungmin memutar kepalanya, dan tersenyum kearah Hyeri sambil menunggu gadis itu mendekat kepadanya.

***

Lee Sungmin berjalan pelan kembali kekelasnya setelah menghabiskan waktu berjam-jam diruang klub Sains. Ia lelah setelah hampir seharian bercengkerama dengan berbagai rumus dan teori yang bisa membuat orang mual dengan hanya melihatnya. Ia yakin ada asap tebal yang mengepul diatas kepalanya yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata saat ini.

Sungmin membuka pintu kelasnya, ia terkejut ketika melihat Hyeri masih ada didalam kelas tersebut, dan hanya tinggal gadis itu seorang diri. Sungmin mendekati Hyeri yang sedang tidur bersandar pada meja didepannya. Sungmin tersenyum simpul, ia tahu pasti saat ini Hyeri sudah sangat lelah, tetapi gadis itu tetap menunggunya hingga selesai kegiatan klub.

Sungmin memutar kursi yang berada tepat didepan Hyeri agar menghadap kearah gadis yang sedang tertidur itu. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil terus memperhatikan wajah Hyeri. Bahkan saat tertidurpun gadis itu masih terlihat manis dimatanya. Sungmin melirik jam yang melingkar ditangannya, pukul 4 sore. Sebenarnya ia sangat lelah, dan juga lapar, tapi ia tidak tega jika harus membangunkan Hyeri, jadi ia memutuskan untuk menunggu hingga Hyeri terbangun dengan sendirinya.

Setelah setengah jam lebih berlalu, Hyeri mulai bergerak gelisah dan tidak lama gadis itu mulai membuka matanya, Sungmin langsung menegakkan tubuhnya, membiarkan Hyeri melihat dirinya dengan kening yang berkerut untuk beberapa saat.

“eoh? Kau sudah selesai?” kalimat pertama yang Hyeri ucapkan saat ia baru saja bangun.

Sungmin tersenyum sambil mengangguk lemah sebagai jawaban.

Hyeri menegakkan badannya dan langsung melirik jam ditangannya, ia terlihat sangat terkejut saat mengetahui sudah sangat sore sekarang, ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya tertidur selama itu.

“maaf, kau pasti lelah dan bosan sekali ya menungguku.” ucap Sungmin, senyum masih saja tidak lepas dari wajahnya. Tapi dalam hati ia merasakan perasaan tidak enak pada Hyeri. Membuat gadis itu menunggu hingga bosan, dan akhirnya tertidur, pasti sangat tidak menyenangkan.

“kau bicara apa? Tentu saja aku tidak bosan,” Jawab Hyeri sambil tertawa kecil, “kau sudah lama selesai?”

“hmm hampir satu jam lalu.”

Mata Hyeri membulat lagi, “eoh? Kenapa kau tidak membangunkanku?”

“tidak apa-apa, tidurmu nyenyak sekali tadi.” Sungmin tertawa kecil.

Hyeri tersenyum tipis mendengar jawaban Sungmin, ia sangat senang karena hal ini sangat, sangat jarang terjadi. Sepertinya Hyeri harus lebih sering lagi tertidur dikelas agar bisa lebih lama bersama Sungmin, pikirnya.

KRIUUUUUKKKK.

Tiba-tiba saja terdengar suara aneh yang Hyeri yakin berasal dari namja dihadapannya itu. Gadis itu tidak bisa menahan tawanya saat melihat Sungmin yang saat ini wajahnya sudah merona merah.

“kau lapar?” tanya Hyeri sambil tertawa kecil.

Sungmin hanya mengangguk, wajah polos dan kekanakannya membuat Hyeri ingin sekali mencium pipi chubby namjanya itu. Entah kenapa Hyeri lebih tertarik dengan namja imut seperti Sungmin dibandingan namja yang cool, dan terlihat macho diusia yang masih sebaya dengannya. Hyeri langsung menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha menarik dirinya dari pikirannya yang sudah melayang-layang entah kemana, ia kan seorang yeoja jadi tidak boleh terlihat lebih agresif dari Sungmin. Hyeri menghembuskan napas berat, selama satu jam berduaan didalam kelas, dan dengan keadaan Hyeri yang sedang tertidur, tapi Sungmin tidak ada niat melakukan hal apapun, hati dan pikiran namja itu pasti sangat bersih.

“mau mampir makan dulu?” Suara Sungmin menyadarkan Hyeri dari lamunannya.

“hmm aku juga sedikit lapar.” jawab Hyeri sambil menggangguk pelan.

“baiklah…ayo pulang.” ajak Sungmin sambil bangkit dari tempatnya dan mulai berjalan pelan meninggalkan Hyeri yang masih duduk manis dikursinya.

Hyeri mengerutkan keningnya, bukan seperti ini kan seharusnya? Harusnya Sungmin mengulurkan tangannya, dan berjalan bergandengan bersama Hyeri, bukannya malah meninggalkan dirinya seorang diri didalam kelas seperti ini.

Hyeri menghembuskan napas putus asa melihat Sungmin yang sudah berada jauh di depannya. Saat Hyeri mulai beranjak dari tempatnya Sungmin menoleh ke belakang dengan tampang tidak bersalah sama sekali. Namja itu malah tersenyum sambil menunggu Hyeri menyusulnya, seperti biasa.

***

Suara dentingan lonceng terdengar keseluruh sudut toko itu saat Sungmin mendorong pintu kaca dan mulai berjalan masuk kesebuah toko Kue yang berada tidak jauh dari sekolah mereka. Ia dan Sungmin memilih duduk dikursi yang berada disudut agar tidak terlalu terlihat dari luar, dan tidak terlalu sering dilewati oleh orang-orang. Tempat yang cukup nyaman untuk melemaskan otot-ototnya sejenak.

Hyeri duduk sambil mengaduk-aduk pelan jus jeruk dihadapannya, hari ini ia sangat tidak mood melakukan apapun.

“kau kenapa?” tanya Sungmin yang ternyata daritadi memperhatikan yeoja disampingnya.

Hyeri melirik Sungmin sekilas, lalu tersenyum kaku berusaha menutupi dirinya yang saat ini sedang tidak bersemangat.

“hmm? Kau merasa ada yang berbeda denganku hari ini?” Hyeri balik bertanya sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.

Sungmin terdiam sejenak untuk berpikir, “ya, kurasa ada. Hari ini kau tidak banyak tersenyum, tidak seperti biasanya.” jawab Sungmin dengan tampang yang menunjukan kebingungan? Atau cemas? Entahlah. Tapi tidak lama karena namja itu langsung kembali sibuk melahap cake cokelat kesukaannya.

Hyeri tersenyum kecut mendengar jawaban Sungmin. Semua yang ia harapkan memang tidak berjalan dengan baik hari ini, membuat moodnya tidak bagus.

Hyeri terdiam sejenak menunggu kata-kata selanjutnya dari namja disampingnya itu. Tapi nihil. Jika Sungmin merasa hari ini Hyeri tidak banyak tersenyum, seharusnya sebagai pacar yang baik Sungmin bertanya apa penyebabnya, bukan malah diam saja seperti ini, pikir Hyeri.

“Lee Sungmin!” panggil seseorang.

Hyeri dan Sungmin langsung menoleh kearah suara yang memanggil Sungmin tadi. Terlihat seseorang yang melambai dari arah kasir, dan sedang tersenyum kearah mereka berdua. Setelah mendapatkan minumannya, orang itu langsung berjalan kearah Sungmin dan Hyeri.

“Yak! Lee Sungmin, sudah lama kita tidak bertemu, ya?” ucap Namja yang Hyeri tidak tahu namanya itu saat sudah berada tepat dihadapan mereka, Sungmin langsung menyuruh namja itu duduk dikursi kosong di depannya.

“iya. Sejak lulus tidak pernah bertemu lagi.” jawab Sungmin sambil menunjukan senyum ramahnya.

“lama sekali, kan?” ucap namja itu sambil tertawa kecil, “woah ini pacarmu? Manis sekali. Kemajuan pesat ya Sungmin-ah.” goda namja itu sambil menunjuk Hyeri dengan dagunya.

Hyeri tersenyum tipis, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan teman Sungmin, setidaknya yang bukan dari sekolah yang sama.

“oh iya, kenalkan ini Kim Young Woon, temanku saat di SMP. Young Woon-ah, kenalkan Park Hyeri, dia teman sekelasku.” ucap Sungmin sambil menunjuk kearah Hyeri.

“bukan pacarmu ya?” tanya Young Woon lagi.

Sungmin hanya tersenyum kecil sebagai jawaban.

DEG.

Hyeri terkejut saat mendengar ucapan Sungmin. Ia menatap namja disampingnya itu dengan pandangan tidak percaya. Hatinya serasa mencelos saat melihat bagaimana reaksi Sungmin saat ini. Namja itu bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah mengatakan hal itu. Mengapa seperti itu? kenapa hanya tersenyum? Kenapa tidak dijawab? Kenapa bilang kalau Hyeri teman sekelasnya? Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenak Hyeri saat ini.

Hyeri menundukan kepalanya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. ia kecewa, sangat kecewa. Tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Setelah setengah jam lebih berbincang-bincang, akhirnya Young Woon pamit pergi, meninggalkan Hyeri dan Sungmin yang masih betah untuk berlama-lama di toko kue ini.

“kenapa…” ucap Hyeri terputus. Selama hampir satu jam itu ia memang tidak berbicara sama sekali. Ia hanya diam sambil menunduk menahan air matanya yang hampir saja meleset jatuh dari pelupuk matanya. Hatinya sangat sakit mengetahui dirinya tidak pernah dianggap.

“kenapa…?” tanya Sungmin dengan kening yang berkerut, sedikit bingung dengan ucapan Hyeri yang menggantung.

Hyeri mengangkat kepalanya, membuat Sungmin terkejut saat melihat mata Hyeri yang sudah berkaca-kaca. Namja itu tidak berkata apa-apa karena sepertinya Hyeri masih ingin mengatakan sesuatu.

“kenapa kau tidak mengakui kalau aku itu pacarmu?” tanya Hyeri akhirnya. Gadis itu mengucapkannya dengan kembali menundukan kepalanya.

“eh?” Sungmin mulai terdengar panik.

“kau malu ya punya pacar sepertiku?” tanya Hyeri lagi sambil tersenyum kaku menutupi kesedihannya.

“Bukan begitu. Itu karena menurutku tidak penting. Apakah semua orang harus tahu kalau kita pacaran?”

Hyeri melemaskan bahunya saat mendengar jawaban Sungmin. Pemikiran macam apa itu? Hyeri bangkit dari duduknya, ia menatap Sungmin yang sedang terlihat bingung saat ini. Gadis itu menghembuskan napas berat, “maaf aku pulang duluan ya,” ucap Hyeri lalu pergi meninggalkan Sungmin sendirian di toko kue itu.

Sungmin tidak mengejarnya. Jangankan mengejar, menahannya saja tidak. Namja itu hanya memandangi tubuh Hyeri yang bergerak menjauh dari dirinya.

Setelah melihat Hyeri yang pergi meninggalkannya seperti ini, Sungmin baru sadar kalau ternyata apa yang ia lakukan tadi itu salah. Sungmin mengeluh kepada dirinya sendiri. Ia tidak suka dirinya yang tidak pernah memahami Hyeri.

***

Hyeri menatap ponselnya yang tengah bergetar ringan menandakan ada pesan yang masuk, dilayarnya tertera nama namja yang tadi sore membuatnya hampir menangis didalam bus kota.

Hyeri meraih ponsel itu dan membuka pesan dari Sungmin

“maafkan aku”

Hyeri menatap pesan itu beberapa saat. Hanya sebuah kalimat yang sangat pendek, tapi cukup membuat Hyeri tersenyum tipis dibuatnya.

“untuk apa?” hyeri membalas pesan itu.

“karena aku membuatmu marah tadi sore”

“aku tidak marah. Aku kecewa”

“iya maaf…aku salah menebak lagi”

“begitulah”

“jadi kau mau memaafkanku?” tanya Sungmin.

 “kau tahu penyebab aku kecewa?” Hyeri balik bertanya.

Sudah satu jam berlalu sejak Hyeri mengirim pesannya yang terakhir untuk Sungmin, tapi sampai saat ini juga belum ada balasan sama sekali dari namja itu.

Hyeri menatap ponselnya dengan putus asa, sebenarnya ini bukan pertama kali Sungmin tidak membalas pesan Hyeri, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengabaikan pesannya, kan? Hyeri jadi tidak yakin kalau Sungmin meminta maaf dari hatinya.

Hyeri beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan pelan menuju jendela kamarnya, gadis itu menatap langit malam yang sangat sepi saat ini dengan banyak sekali pertanyaan didalam hatinya. Tiba-tiba pemikiran itu terlintas lagi didalam benaknya. Suatu pemikiran yang sebenarnya ingin ia hilangkan, tetapi pada saat-saat seperti inilah justru pemikiran itu menjadi bayang-bayang yang selalu menghantuinya.

***

Hyeri menyembunyikan wajahnya kedalam lipatan tangannya yang berada diatas meja. Sejak baru datang tadi pagi ia memang terlihat sangat lesu dan tidak seperti biasanya. Pagi ini bahkan ia belum menyapa Sungmin yang duduk tepat 2 kursi dibelakangnya, sangat sulit sebenarnya untuk Hyeri agar tidak berbalik dan menganggu Sungmin yang sedang serius dengan buku kekanakan yang setiap hari namja itu baca, tapi hari ini ia tidak akan melakukan itu, setidaknya sampai Sungmin menyapanya lebih dulu. Mungkin ini memang terdengar kekanakan, tapi memang ini yang selalu diinginkan wanita, kan? Ingin diperhatikan lebih dulu.

Lengan Hyeri disenggol beberapa kali oleh seseorang yang duduk disampingnya, Hyeri mendongak dan mendapati orang itu sedang memandangnya dengan kening berkerut. Hyeri sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh—sahabat sekaligus tetangganya—Chaerin.

Hubungan Hyeri dan Sungmin yang tidak berjalan dengan baik memang bukanlah rahasia lagi, apalagi bagi Chaerin, karena Hyeri memang selalu bercerita apapun tentang Sungmin pada sahabatnya itu.

Dengan wajah yang masih terlihat lesu Hyeri membuka mulutnya yang daritadi tertutup rapat seperti diberi lem perekat. Hyeri yang selalu cerewet dan suka tersenyum jadi lebih pendiam akhir-akhir ini, membuat Chaerin sedikit bingung apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mendengarkan cerita Hyeri tentang apa yang dialaminya kemarin, dan mengungkapkan betapa sedihnya Hyeri saat Sungmin tidak mengenalkannya sebagai pacar namja itu, Chaerin hanya bisa tersenyum canggung.

Chaerin terdiam, dan terlihat sedang berpikir beberapa saat, gadis manis itu melirik Lee Sungmin yang masih saja duduk diam dan tidak seperti ada masalah antara dirinya dan Hyeri.

Chaerin akhirnya menghembuskan napas berat, “lalu mengapa dia terlihat biasa saja?” tanya Chaerin pada Hyeri sambil melirik lagi namja yang menjadi topik pembicaraan mereka itu.

“aku juga tidak tahu..” jawab Hyeri dengan putus asa.

Chaerin memperhatikan Hyeri yang kembali menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia katakan dari beberapa hari ini, dan kali ini ia sudah tidak tahan dan akan mengatakannya pada Hyeri.

“hyeri-ya…sebenarnya belakangan ini ada sebuah gosip yang kurang enak tentang hubunganmu dan Sungmin.” ucap Chaerin hati-hati, gadis itu memperhatikan perubahan air muka Hyeri dari setiap kata yang ia ucapkan.

“ap…apa itu?” tanya Hyeri penasaran. Tapi daripada hal itu, kecemasanlah yang sebenarnya mendominasi.

“kau tahu kan walaupun Sungmin pendiam, tapi dia itu cukup populer? Apalagi dikalangan Hoobae.”

“hmm mmm?” Hyeri bergumam tetapi dengan nada bertanya.

“kudengar ada seorang hoobae yang sangat mengejarnya, dan sudah berkali-kali menembak Sungmin, tapi tidak pernah ada respon. Dan bukan itu saja, ternyata banyak anggota di Klub Sains yang bergabung di klub itu karena Sungmin ketuanya..” jelas Chaerin dengan panjang lebar.

“la…lu?” tanya Hyeri lagi, ia masih belum mengerti apa hubungannya itu semua dengan dirinya.

“jadi, untuk menghindari gadis-gadis itu ia berpacaran denganmu, jika ia punya pacar, gadis-gadis itu pasti tidak akan mengejar-ngejar Sungmin lagi.” Chaerin menjelaskan dengan lebih menggebu-gebu dari sebelumnya, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

“hah?” lagi-lagi Chaerin bertanya, karena baginya semua ini tidak masuk akal.

“aku bukannya bermaksud untuk membuatmu bertambah sedih, dan tentu saja aku juga tidak bilang kalau gosip ini benar, tapi aku mendengar dari sahabat Sungmin sendiri yang sesama anggota klub Sains. Kalau dipiki-pikir memang Sungmin itu sangat manis, dan terlihat cool dengan sikapnya yang pendiam. Dia siswa teladan, dan juga ketua siswa disekolah kita, tidak heran juga kalau dia populer.” Chaerin terus menjelaskan analisa buatannya sendiri kepada Hyeri.

Hyeri hanya terdiam, ia masih mencerna setiap kata yang ia dengar kedalam otaknya. Baginya mendengar semua cerita Chaerin tentang Sungmin tadi membuatnya ingin tertawa. ia tidak pernah menyadari semua itu sampai Chaerin menyadarkannya barusan. Satu-satunya yang membuatnya jatuh cinta pada Sungmin adalah karena sikap namja itu yang selalu manis terhadapnya, ia tidak pernah punya alasan lain, dan tidak pernah memandang Sungmin dari sudut yang lain.

“aku tentu saja berharap itu memang hanya gosip, dan tadinya aku tidak mau mengatakan ini padamu. Tapi, karena mendengar ceritamu tadi membuatku jadi kesal.” Ucap Chaerin, ia merasa tidak enak pada Hyeri.

“intinya, aku memberitahu hal ini supaya kau bisa berjaga-jaga, dan mungkin mencari tahu sendiri tentang kebenarannya.” Lanjut gadis manis itu lagi sambil tersenyum menenangkan Hyeri.

Terlambat. Senyuman manis Chaerin tidak cukup untuk menenangkan hatinya yang sudah terlanjur tidak karuan.

Cerita Chaerin tadi rasanya terus terngiang-ngiang ditelinganya, membuat berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Pertanyaan yang ia juga tidak tahu harus ia tanyakan pada siapa. Ia tidak habis pikir jika gosip itu benar, memangnya Sungmin kira dirinya itu pangeran? Kenapa harus Hyeri yang menjadi pelarian—atau perlindungan, ya?—Sungmin?

Pemikirannya semalam—dan sebenarnya sudah sering terlintas dibenaknya—tersambung dengan cerita yang ia dengar tadi. Sebenarnya, dalam lubuk hatinya dia juga sering berpikir apakah selama ini Sungmin hanya main-main dengannya.

“mau makan siang bersama?”

Terdengar suara seseorang, yang membuat Hyeri sedikit tersentak, dan mau tidak mau harus menarik Hyeri kembali dari lamunannya. Ia menoleh, dan menyadari siapa pemilik suara lembut itu, Sungmin.

Hyeri menoleh kearah lain, berusaha tidak melihat Sungmin—dan senyum manisnya—karena ia masih sebal dengan kejadian kemarin, dan tadi malam.

“aku belum bilang kalau aku memaafkanmu.” Ucap Hyeri.

Sungmin terkejut, dan terlihat sedikit kebingungan, “kau masih marah?”

Hyeri tidak menjawab, ia hanya memandang Sungmin dengan tatapan kalau ia butuh penjelasan karena Sungmin tidak menjawab pesannya tadi malam. Padahal kan ia yang sedang merajuk, tapi sekarang mengapa ia yang harus uring-uringan karena pesannya diabaikan.

Sungmin terlihat bingung, ia menundukan kepalanya, menatap kedua jari telunjuknya yang ia tempelkan, memang begitulah kebiasaan Sungmin jika sedang gugup atau merasa bersalah. Benar-benar masih seperti anak kecil.

“aku memikirkan penyebab kau marah kemarin, tapi hingga tengah malam aku tidak mengetahuinya. Jadi, aku tidak bisa menjawab pesanmu tadi malam karena aku tidak tahu apa jawabannya.” Ucap Sungmin masih sambil menunduk.

Hyeri menyentuh kedua pipi Sungmin, dan perlahan mengangkat wajah namjanya itu. Ia tidak suka jika Sungmin menunduk saat sedang bicara dengannya, ia tidak mau terlihat seperti gadis yang ditakuti oleh pacarnya sendiri.

“kau memikirkan apa penyebab aku marah?” tanya Hyeri dengan kening yang berkerut samar.

“iya. Setelah kau pulang duluan, aku terus memikirkan apa yang salah, tetapi tetap tidak tahu. Kau masih marah?” Sungmin menatap Hyeri dengan puppy eyesnya. Membuat Hyeri menghembuskan napas frustasi, mana mungkin Hyeri bisa marah pada namja semanis ini kan?

Hyeri masih terlihat merengut, tetapi sebenarnya ia sedang tersenyum didalam hati. Rasa sebal tentu saja masih dia rasakan karena Sungmin tidak tahu apa kesalahannya, padahal kalau untuk orang yang peka, pasti akan sangat mudah menemukan kesalahan yang jelas-jelas ia buat. Sungmin seorang ketua siswa, dan juga siswa teladan, menemukan jawaban sesederhana itu saja ia tidak bisa?.

***

Park Hyeri hanya terdiam sambil terus memperhatikan namja disampingnya yang sedang bermesraan dengan berbagai macam laporan-laporan yang sama sekali ia tidak tahu—sebenarnya memang tidak mau tahu—apa gunanya itu. Seperti biasa mereka berdua memang selalu pulang terlambat karena kesibukan Sungmin sebagai ketua siswa. Tapi Hyeri tidak pernah mengeluh, ia malah senang karena ia dapat berlama-lama bersama Sungmin, yah..walaupun akhirnya ia hanya melamun memperhatikan Sungmin yang sedang pusing.

Disaat seperti inilah ia paling sering merenung tentang ucapan Chaerin padanya beberapa hari yang lalu. Dalam lubuk hatinya tentu saja ia tidak ingin percaya, tapi ia sendiri sadar kalau ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk itu, sikap Sungmin sendirilah yang membuatnya jadi tidak yakin.

Tiba-tiba dalam pikirannya muncul gagasan bagaimana cara mengetahui Sungmin memang benar-benar menyukainya atau hanya menjadikannya pelarian—seperti kata Chaerin.

“…..aku memberikan ini dulu pada Sam, kau tunggu disini sebentar ya,” samar-samar ucapan Sungmin kembali menyadarkan Hyeri dari lamunannya. Setelah mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak Hyeri dengar jelas, Sungmin langsung bangkit sambil membawa laporan-laporan itu.

Kening Hyeri berkerut, “kau sudah selesai?” tanyanya.

Sungmin memandang Hyeri dengan alis yang bertautan, “tadi aku sudah bilang padamu, kau tidak dengar, ya?” ucap Sungmin sambil tersenyum simpul, “aku mau keruangan Sam sebentar untuk memberikan ini.” Lanjut Sungmin.

Hyeri meringis, merasa tidak enak karena secara tidak langsung Sungmin mengetahui kalau ia sedang melamun. Dengan senyum yang kaku Hyeri mengangguk mengiyakan ucapan Sungmin, ia memperhatikan namjanya itu berjalan keluar, dan menghilang dibalik pintu.

***

“aku…ingin kita putus.” Ucap Hyeri saat Sungmin sudah kembali ke kelas.

Sungmin yang baru saja kembali dan hendak menjatuhkan dirinya dikursi seketika berdiri kaku, dan tidak bereaksi apa-apa.

Hyeri menggigit bibir bawahnya, dalam hati ia berdoa semoga saja keputusan yang ia buat ini memang tepat. Setelah menimbang-nimbang, dan memikirkannya selama beberapa hari, ia memang sudah memutuskan akan melakukan hal ini. Dan percayalah, ini benar-benar bukan keputusan yang ia ambil dengan senang hati, malah kebalikannya.

“kalau itu maumu, baiklah..” Sungmin berkata dengan wajahnya yang datar.

Hyeri membulatkan matanya, ia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya setelah mendengar jawaban Sungmin. Kata-kata Sungmin itu seperti bergema ditelinga Hyeri, ringan sekali namja itu mengatakannya? Jadi benar semua yang ia dengar itu? Sungmin hanya menjadikannya pelarian?

Jelas sudah semuanya. Pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya kini sudah terjawab dengan satu kata itu. Memang sepertinya sangat mudah bagi Sungmin, memang ia tidak pernah berarti apa-apa bagi namja itu. Hyeri merasakan dadanya sesak, dan ia ingin menangis.

Hyeri menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ia malu. Awalnya ia hanya ingin mengetes Sungmin saja, ia berharap namja itu mengatakan sesuatu yang membuatnya menjadi yakin, dan ia berharap juga Sungmin tidak begitu saja mengiyakan saat ia meminta putus. Tapi ternyata Hyeri telah berharap terlalu banyak pada seorang Sungmin.

Butiran bening itu sudah tidak bisa ditahannya lagi. matanya yang panas, dan dadanya yang sesak membuat tangisan Hyeri terlihat sangat dramatis dimata Sungmin. Namja itu terlihat kebingungan melihat Hyeri yang sedang menangis didepan matanya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sungmin hanya membiarkan Hyeri menangis hingga perasaan gadis itu bisa lega.

Dengan cepat Hyeri menurunkan tangannya, dan menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. Ia mendesah sebal, bukan seperti ini seharusnya. Jika di drama romantis pasti sang kekasih akan memeluknya, membiarkannya menangis didalam pelukan kekasihnya, dan menghapus air matanya, bukannya hanya malah memperhatikan kekasihnya yang sedang menangis tersedu-sedu seperti ini.

***

Sungmin benar-benar tidak mengerti dengan semua rentetan kejadian yang baru saja dilihatnya. Ini pertama kalinya ia berpacaran, dan ia tidak tahu bagaimana pasangan kekasih yang semestinya. Dan sekarang Hyeri sedang menatapnya dengan pandangan seolah-olah ia telah melakukan dosa yang sangat besar hingga tidak pantas diampuni.

Apa yang biasanya orang lain lakukan disaat seperti ini?

“mudah sekali, ya?” ketika ia sedang berpikir tiba-tiba suara Hyeri yang serak mulai terdengar lagi.

Sungmin menatap Hyeri dengan pandangan tidak mengerti dan bertanya, “Hyeri-ya, kau kenapa?”

“kenapa kau mudah sekali ingin putus denganku,” Hyeri mengatakannya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Kening Sungmin berkerut. Baiklah ini semua semakin tidak bisa dimengerti. Ia mengingat-ingat kembali perkataan Hyeri tadi, dan ia dengar dengan jelas kalau gadis itu yang meminta putus, tapi kenapa Hyeri berkata seolah ia yang memutuskannya.

“bukannya tadi kau yang minta putus?” Sungmin bertanya. Ia lebih mudah mengerti soal-soal fisika daripada mengerti jalan pikiran wanita.

Hyeri mendengus kesal, “tadi aku hanya mengetesmu. Bagaimana reaksimu jika aku meminta putus, apakah kau akan menolak, dan mempertahankan aku, tapi ternyata…” ucap Hyeri terputus, “tapi ternyata kau dengan sangat mudah mengiyakan.” lanjutnya.

“dasar Lee Sungmin bodoh!” ucap Hyeri dengan suara yang sedikit tinggi. Gadis itu langsung meraih tasnya dan berjalan dengan cepat menuju pintu, meninggalkan Sungmin yang masih terheran-heran dan kaget seorang diri.

Lagi-lagi Sungmin tidak mengejar Hyeri, ia hanya memandang punggung gadis itu yang bergerak menjauh. Sepertinya ia sudah mulai sedikit mengerti jalan pikiran Hyeri.

***

Hyeri berjalan menuju rumahnya dengan langkah yang sangat gontai. ia sedikit menyesal telah mengatakan Sungmin bodoh. Kalau dipikir-pikir ini sama sekali bukan salah Sungmin, karena Sungmin tidak tahu kalau Hyeri hanya mengetesnya. Tapi bukan itu masalah utamanya. Sungmin yang sangat mudah mengiyakan saat Hyeri meminta putus lah yang membuatnya menjadi sekecewa ini.

Entahlah sebenarnya ia merasa marah, kecewa, atau malu karena Sungmin tidak pernah menganggapnya berharga. Yang ia tahu, ia merasa sedih karena orang yang ia anggap spesial tidak pernah memandangnya seperti ia memandang orang itu.

Setelah tiba dirumahnya, Hyeri buru-buru masuk kekamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Rasa sedih itu masih sangat terasa karena saat ini ia ingin menangis lagi. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, terdengar suara eonninya memberitahukan bahwa ada seorang teman Hyeri yang sedang menunggunya diluar. Alis Hyeri bertemu, ia mengira-ngira siapa temannya yang mengunjungi rumahnya.

Betapa terkejutnya Hyeri saat melihat siapa orang yang sedang menunggunya diluar. Orang itu berdiri membelakangi Hyeri, tapi tentu saja ia sangat mengenal punggung, dan bahu itu. Bahu yang sering sekali menjadi sandaran Hyeri.

“kau..sedang apa?” tanya Hyeri terputus-putus. masih belum bisa percaya sepenuhnya. Ini pertama kalinya Sungmin berkunjung kerumahnya, tentu saja ia terkejut.

Sungmin memutar tubuhnya, wajahnya terlihat sangat cemas, dan juga…emh, bolehkah Hyeri berharap kalau itu wajah yang terlihat frustasi karena baru saja putus cinta? Dilihatnya Sungmin mulai berjalan pelan mendekat. Hyeri hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa.

“Hyeri-ya..” panggil Sungmin.

Hyeri hanya diam sambil memandang Sungmin yang sekarang sudah berada tepat didepannya. Dari jarak sedekat ini raut wajah Sungmin yang cemaspun semakin terlihat jelas. Hyeri tidak pernah melihat Sungmin seperti ini sebelumnya.

“aku minta maaf. aku tidak yakin aku bisa memahamimu sepenuhnya. Aku tahu banyak sekali kesalahanku padamu,” Sungmin berkata dengan wajah yang sedikit menunduk.

Hyeri masih memilih diam saja, ia lelah. Dan sedih.

“tidak seperti orang lain, aku tidak bisa mengerti setiap jalan pikiranmu jika kau tidak memberitahuku. Aku akan senang jika kita bisa berbicara baik-baik, dan bisa saling jujur daripada selalu memberi teka-teki seperti ini,” ucap Sungmin panjang lebar, namja itu terlihat kaku, tetapi Hyeri bisa melihat keseriusan dari matanya.

“kau menyukaiku?” tanya Hyeri tiba-tiba.

Alis Sungmin terangkat, “apa?”

“kau tidak menyukaiku, kan? kau hanya menjadikanku pelarian, atau mungkin perlindungan dari sekian banyak hoobae yang mengejarmu,” ucap Hyeri ketus dengan menekankan kata ‘sekian banyak’.

Baiklah, sepertinya memang Sungmin belum bisa memahami jalan pikiran Hyeri. Sungmin benar-benar tidak mengerti semua arah pembicaraan ini, “apa maksudmu?” Sungmin bertanya lagi.

Hyeri mendengus pasrah, “kau tidak pernah dengar gosip itu?”

Sungmin seperti teringat sesuatu, lalu tersenyum lega, “ah, iya aku pernah mendengarnya.”

Kening Hyeri berkerut samar, kenapa namja itu malah tersenyum?

 “ah, jadi itu benar.” Hyeri tersenyum kecut.

“tidak! Itu hanya salah paham. Teman-temanku salah mengartikan ucapanku.” Ucap Sungmin yang kini mulai terlihat panik kembali karena Hyeri masih terus menatapnya dengan pandangan curiga.

“begini…saat itu teman-temanku berkata ‘jika kau punya pacar, gadis-gadis itu tidak akan mengejarmu lagi’, dan aku menjawab, ‘sebenarnya memang ada gadis yang aku suka’, dan sepertinya mereka salah mengartikannya.” Sungmin berbicara dengan panjang lebar, tidak sadar kalau Hyeri sedang menatapnya dengan intens.

Sepertinya tidak lama Sungmin mulai menyadari tatapan intens Hyeri, karena tiba-tiba saja tubuhnya mencuit dan pipinya merona merah. Hyeri tersenyum didalam hati, ada perasaan menyenangkan yang tiba-tiba timbul dihatinya. Tapi tidak lama, karena ia masih teringat kejadian tadi sore saat disekolah.

“jadi kau menyukaiku?” lagi-lagi Hyeri mengajukan pertanyaan itu. Ia tidak akan menyerah sampai mendapat jawaban yang jelas.

Alis Sungmin bertemu, “kenapa bertanya begitu?”

“habis, kau tidak pernah bilang kau menyukaiku.” Hyeri mengatakannya sambil cemberut, sebal.

“pernah…”

“kapan?”

“waktu itu, saat aku memintamu menjadi pacarku.”

Hyeri menatap Sungmin dengan tatapan tidak percaya. Saat itu tentu saja Sungmin harus mengatakan kalau ia menyukai Hyeri, kan? kalau tidak bagaimana ‘penembakan’ itu bisa berlanjut. Hyeri mendengus pasrah. Pikiran namja didepannya ini memang sangat lurus, dan simpel, jadi dia memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut.

Hyeri menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan, “lalu kenapa kau langsung mengiyakan saat aku minta putus?”

“karena kupikir kau menginginkannya,” jawab Sungmin. “aku tidak mau kau merasa terpaksa berpacaran denganku, jadi aku mengiyakannya.” Lanjutnya.

“kenapa kau bisa berpikir aku terpaksa?” Hyeri bertanya lagi. ia tidak tahu darimana Sungmin mendapat pikiran seperti itu. Seharusnya namja itu bisa melihat Hyeri yang sangat bahagia saat setiap pagi ia menjadi orang pertama kali yang disapa oleh Sungmin.

“karena kau sering terlihat murung saat bersamaku. Aku bahkan membuatmu bosan karena setiap hari harus menungguku hingga sore, aku juga sering salah mengerti dirimu. Kupikir tentu saja aku tidak bisa membuatmu bahagia, jadi kupikir lebih baik kalau aku menuruti keinginanmu” ucap Sungmin panjang lebar.

“berhenti berpikir, dan ikuti saja kata hatimu.” Ucap Hyeri lemah. Ia tidak tahu kalau selama ini Sungmin selalu memikirkannya sampai seperti itu. Bagaimana sekarang? apa yang harus ia lakukan? Sungmin terlalu manis untuk tidak dimaafkan.

“aku sudah kehilangan akal pikiranku saat memutuskan untuk bertahan denganmu, kau tahu itu?” lanjut Hyeri lagi. Ia bahagia, Sangat. Tapi ia tidak mau terlalu banyak berharap. Ia masih terus mencerna setiap kata yang ia dengar.

Sungmin terdiam dan seperti sedang berpikir sejenak. Ia menatap Hyeri dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Tapi sungguh, Hyeri sangat suka wajah Sungmin yang seperti ini. Wajahnya imutnya terlihat sedikit kebingungan, dan ada rona merah yang terpancar di kedua pipi chubbynya.

Perlahan sebuah lengkungan keatas terbentuk dibibir Sungmin. “mulai sekarang aku akan mengikuti kata hatiku.” Ucapnya sambil tersenyum.

Hyeri tersenyum geli melihatnya, Sungmin seperti anak kecil yang menurut setelah diberi nasihat oleh orang tuanya.

Sungmin menyentuh dadanya sendiri dengan sebelah tangannya. Ia menyentuhnya dengan alis yang bertautan, membuat Hyeri terheran-heran apa yang sebenarnya namja itu sedang lakukan. Tiba-tiba Sungmin membentuk huruf ‘O’ dengan mulutnya, lalu namja itu berkata pelan, “baru saja aku mendengar hatiku berkata sesuatu.” Ucapnya dengan tampang kekanakan andalannya.

Alis Hyeri terangkat tinggi, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang ingin sekali mengembang saat ini.

“dan, hatiku bilang aku tidak ingin putus darimu. Bagaimana ini? Aku harus menuruti kata hatiku, kan?” lanjut Sungmin. Namja itu menatap Hyeri dengan pandangan berharap.

Hyeri tertawa pendek, ia bersikap sangat tenang padahal dalam hatinya ia ingin segera berteriak kegirangan. “hmm apa boleh buat.” Jawab Hyeri sambil mengangkat bahunya seolah tidak ada pilihan lain.

Sungmin merengut, bukan seperti itu jawaban yang Sungmin inginkan. Ia ingin Hyeri mengatakannya dengan tegas. Tadi dia sudah bilang kan kalau ia sulit untuk memahami pikiran wanita? Apalagi jika hanya memberi kode dan teka-teki seperti ini.

“ngomong-ngomong Sungmin-ah, kau sudah pernah berciuman?” tanya Hyeri tiba-tiba.

Sungmin terlihat kaget setelah mendengar ucpaan Hyeri, dan kini wajahnya kembali merona merah. Dengan terputus-putus Sungmin menjawab, “be..belum pernah.” Jawabnya sambil malu-malu.

Alis Hyeri terangkat, “benarkah?”

Sungmin sedang mengangguk pelan ketika tiba-tiba Hyeri berjinjit, mendekati wajah Sungmin, lalu menempelkan bibirnya di bibir namja itu. Awalnya Hyeri hanya menempelkannya saja, tapi tidak lama gadis itu menciumnya, benar-benar menciumnya! Namja itu refleks membulatkan matanya, ia benar-benar terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Hyeri sekarang.

Tapi tidak lama Hyeri melepaskan ciumannya, ia menatap Sungmin dengan kening yang berkerut samar, “kau habis makan cokelat?” tanya Hyeri. Ia memang merasakan ada rasa cokelat saat mencium Sungmin tadi.

Sungmin yang masih terlihat shock mengangguk pelan, wajahnya yang biasanya hanya merona kini telah sepenuhnya terlihat merah padam. Sepertinya namja itu tidak percaya apa yang baru saja dialaminya. Perlahan Sungmin membuka mulutnya yang tiba-tiba saja terasa kaku, “iya, aku lapar jadi tadi aku makan cokelat batang. Kau mau? Aku masih punya di—“

Ucapan Sungmin terputus karena Hyeri sudah menciumnya kembali. Kali ini tidak begitu lama juga Hyeri langsung melepaskan ciumannya, ia tersenyum kearah Sungmin yang sedang berdiri membatu. “manis. Bibirmu terasa manis.” Ucap Hyeri sambil menjulurkan lidahnya meledek Sungmin.

Sungmin merasa meleleh saat Hyeri melepaskan ciumannya, dan berkata jika bibirnya manis dengan nada yang sangat lembut. jantung Sungmin berdebar dengan sangat kencang, dan ia merasakan perasaan menyenangkan yang muncul didalam hatinya.

Tiba-tiba Sungmin menundukan badannya, dan mulai menepelkan bibirnya dan bibir Hyeri kembali. Hyeri terkejut untuk beberapa saat, tetapi ia tersenyum dalam ciumannya, dan mulai memejamkan mata. Ia tidak tahu jika Sungmin bisa berbuat seperti ini juga.

Perlahan Sungmin melepaskan ciumannya, ia menatap Hyeri dengan kening yang berkerut samar, “kau…” ucapnya terputus.

“yaa?” Hyeri bertanya dengan penuh harap. Ia yakin setelah ini akan ada kejadian romantis yang akan terjadi.

“kau…tidak ada rasanya.” Lanjut Sungmin dengan tampang tak berdosanya.

Hyeri seperti ditimpa batu diatas kepalanya saat itu juga. Matanya melebar, tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Memangnya Sungmin kira ciuman itu seperti apa? Walaupun dirinya terkejut, tapi ia tetap tidak bisa menutupi rasa gelinya mengingat bagaimana polosnya kekasihnya itu.

Hyeri tertawa ringan, perlahan ia menarik Sungmin hingga namja itu membungkuk, tanpa aba-aba Hyeri langsung mengecup bibir namja itu sekilas, lalu berbisik, “kalau kau tidak suka, aku tidak akan memberikannya lagi.”

Sungmin menautkan alisnya sambil berkata dengan polos, “aku suka, kok.”

Hyeri tidak bisa menahan tawanya saat mendengar jawaban Sungmin yang sangat innocent. Ia tersenyum sambil memandangi namja dengan pipi yang merona merah itu dengan perasaan yang sangat bahagia.

Hyeri berjinjit lagi, lalu mengecup pelan pipi yang sedang merona itu, “untuk hari ini, cukup itu saja.” Ucap Hyeri sambil menjulurkan lidahnya.

END                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s